Oleh: Tiya Maulidina 
(Mahasiswi Jambi Dan Anggota Komunitas Muslimah Jambi Menulis)

Mediaoposisi.com- Setelah pilkada serentak tahun ini selesai, Indonesia akan disibukkan kembali dengan pemilihan presiden (pilpres) dan pemilihan legislatif (pileg) yang akan dilaksanakan di tahun mendatang. Riuhnya pemilu di tahun depan sudah terasa dengan banyaknya kader-kader partai politik mengambil langkah strategis untuk memenangkan laganya di dunia perpolitikan ini.

Pada pendaftaran nama calon legislatif (caleg) kemarin, didapatkan banyak sekali caleg yang berpindah haluan ke parpol seberang demi mendapatkan ‘posisi nyaman’ menjelang pileg di tahun 2019 mendatang.

Seperti yang dilansir situs (merdeka.com, 18/07/2018), bahwa Berita kepindahan anggota DPR ke partai lain itu bermula dari Politikus sekaligus anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar Siti Hediati Haryadi alias Titiek Soeharto yang pindah ke Partai Berkarya.

Adanya fenomena ini, membuat berbagai pihak merasa prihatin dengan keputusan yang diambil oleh para politisi ini. Salah satunya, Guru Besar Politik dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), Prof Syamsuddin Haris, mengaku prihatin atas fenomena politisi kutu loncat tersebut.

Menurut Syamsuddin di akun twitternya, "Rakyat akhirnya hanyalah nonfaktor dlm proses politik. Suara rakyat dicari saat pemilu dan pilkada tapi setelah itu dicampakkan”. (wartakota.tribunnews.com, 21/07/2018)

Politisi Minus Visi Ideologis
Melihat adanya fenomena kutu loncat ini dapat menggambarkan bahwa sebenarnya visi ideologis seorang politikus sejati itu tidak dimiliki. Hal ini terlihat dari alasan-alasan berpindahnya haluan karena kepentingan pribadi semata.

Adanya ketidaknyamanan yang membuat ‘rumput tetangga’ jauh lebih hijau daripada ‘rumput’ sendiri. Dengan begitu, akhirnya melahirkan politisi-politisi yang minim kapabilitas sebagai seorang politikus sejati.

Banyaknya politikus yang tidak kapabilitas ini tentu hanya akan melahirkan negara yang ‘oleng’ pula. Melalui kebijakan-kebijakan yang mereka buat, akhirnya akan melahirkan kerusakan semata.

Tidak adanya idealisme dan pandangan yang jelas pun juga akan melahirkan kehidupan masyarakat yang serba sulit dari berbagai aspek. Wajar saja, karena aturan ditengah masyarakat dibuat dan disetujui oleh politikus yang tidak memiliki kapabilitas tersebut.

Para politikus ini ada pun tak lepas dari partai yang mengkadernya dan sistem yang melahirkannya. Sistem demokrasi yang ada saat inilah yang melahirkan kader-kader partai pragmatis dan minus visi ideologis, karena sistem tersebut tidak memiliki asas yang benar dari berbagai sudut.

Demikian pula dengan partai yang mengkadernya. Seorang politikus ideologis hanya akan lahir dari partai ideologis yang memiliki visi, misi, dan tujuan yang jelas.

Peran partai ini akan sangat penting dalam melahirkan kader-kader yang berkualitas, kapabel, dan memiliki visi ideologis. Partai lah yang melakukan pembinaan kepada anggota partainya dalam melakukan kegiatan politis layaknya politisi ideologis.

Sayangnya, semua itu tidak akan lahir dari partai yang berasas kepentingan semata. Apalagi fungsi parpol didalam kehidupan demokrasi hanya menjadi batu loncatan untuk meraih kursi panas kekuasaan.

Islam sebagai Asas Yang Benar 
Politik dalam makna Islam adalah mengurusi urusan umat. Sehingga, partai politik di dalam islam salah satunya berperan untuk mengoreksi kebijakan penguasa yang tidak sesuai dengan syariat. Para kader yang dibentuk adalah kader-kader yang memiliki kemampuan dalam melihat, menganalisa, serta menilai apakah kebijakan yang ditetapkan penguasa sudah sesuai syariat atau tidak.

Ketika semua kemampuan itu dimiliki oleh para kader partai, maka penguasa tidak akan berlaku dzalim kepada umat.

Sebagai seorang politisi yang ingin berjuang mewujudkan kehidupan masyarakat bernegara, harus memilih partai yang memang memperjuangkan hal tersebut. Tetapi, mencari partai yang benar-benar memperjuangkan hal itu sulit sekali didapatkan di dalam sistem demokrasi saat ini. Sistem yang melegalkan manusia dalam membuat aturan kehidupannya sendiri.

Islam memandang aturan kehidupan itu hanya boleh ditetapkan oleh Sang Pencipta, yaitu Allah SWT. Bukan Manusia. Aturan tersebut sudah tercantum didalam Al-Qur’an dan As-Sunnah yang menjadi pedoman seluruh umat manusia. Karena Islam rahmatan lil ‘Alamin, rahmat bagi seluruh alam. Jadi, sudah pasti aturan Islam tersebut memberi kemashlahatan bagi umat seluruhnya tanpa terkecuali.

Oleh karena itu, Partai politik yang didambakan umat adalah partai ideologis berasaskan Islam yang benar-benar mengurusi umat. Selain itu, peran partai didalam Islam sangat mulia, seperti didalam surat Ali-Imran : 104 yaitu amar ma’ruf nahi munkar. Partai ideologis ini hanya akan lahir dalam Sistem Pemerintahan yang menerapkan Islam secara Kaffah.[MO/sr]


Posting Komentar