Oleh: B. Fitriyanti

Mediaoposisi.com- Menarik apa yang disampaikan Ketua Umum, Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (Ketum PBNU), KH Said Aqil Sirodj, mendesak agar kurikulum agama dikaji lagi. Ia mengusulkan agar bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya (Posmetro, 29/7/2018).
   
Bukan menarik karena kagum dengan apa yang disampaikannya tentang pengurangan materi sejarah. Tapi merasa heran, bagaimana mungkin sejarah akan dikurangi. Padahal dari sejarahlah bisa mengungkap sebuah fakta mengenai apa, siapa, kemana, mengapa, kapan, dimana dan bagaimana terjadinya. Berdasarkan ini sejarah identik dengan peradaban manusia.

Melalui sejarahlah dapat ditentukan, diungkap, diterapkan dan difahami nilai-nilai peradaban yang terkandung pada peristiwa masa lampau (http://Rindufidati, wordpres.com, 10/4/2015).
   
Bagi generasi islam selanjutnya, sejarah juga sangat menentukan masa depan mereka. Salah menafsirkan sejarah akan berakibat buruk pada hidup generasi selanjutnya.
   
Sumber sejarah yang benar tentulah berasal dari sumber yang pasti. Sumber yang tidak ada keraguan didalamnya. Dialah alqur'an, firman Allah SWT.
   
Di dalam alqur'an terdapat banyak sekali ayat-ayat yang menerangkan tentang sejarah perang. Ada sekitar 27 surat dengan banyak ayat di dalam alqur'an yang menceritakan tentang itu.
   
Sehingga upaya penghilangan sejarah perang dalam shiroh di kurikulum agama akan menghantarkan pada upaya penghapusan ayat-ayat alqur'an tentang perang. Ini tentu saja akan memutuskan rantai sejarah pada generasi muda islam selanjutnya.
   
Generasi islam selanjutnya akan kehilangan gambaran perang yang benar. Padahal perang dengan makna jihad adalah sesuatu yang tidak bisa dipisahkan dari islam. Jihad adalah thoriqoh yang tidak bisa dirubah dalam mengemban dakwah ke seluruh dunia untuk mewujudkan islam sebagai rahmatan lil 'alamin.
   
Tentu saja semua itu adalah buah dari sekulerisme, yang ingin memisahkan antara kehidupan dunia dengan agama. Sekulerisme memandang bahwa urusan dunia tidak perlu diatur oleh agama. Termasuk di dalamnya tidak menganggap penting perlunya ada aturan tentang perang yang berasal dari agama. Dengan kata lain tidak perlunya dipelajari sejarah islam bagi generasi kini.
   
Jika demikian tunggulah kehancuran generasi muda islam dan peradaban islam. Naudzubilahimindzalik.Hanya dengan penegakan sistem islamlah generasi muda islam akan terselamatkan.[MO/sr]

Posting Komentar