Oleh:Syifa Nurjanah

Mediaoposisi.com- Melesatnya perkembangan teknologi yang sangat massif, membuat semua pihak yang berada pada arus globalisasi harus menerima kondisi persaingan hidup yang sangat ketat.

Tentu hal tersebut tidak dapat dihindari sejalan dengan semakin berkembangnya dan bertumbuhnya kecerdasan manusia dengan karya-karya teknologi mutakhir dari hasil pengembangan dan implementasi ilmu pengetahuan.

Kilas balik terhadap perkembangan teknologi tidak terlepas dari kelahiran revolusi industri. Revolusi ini pertama kali dicetuskan dengan mensubtitusikan mesin uap yang awalnya menggunakan tenaga hewan dan manusia.

Revolusi industri pertama ini tercatat dalam sejarah mampu mengerek perekonomian secara drastis bahkan menaikkan rata-rata pendapatan perkapita negara-negara di dunia hingga mencapai angka 6 kali lipat.

Revolusi Industri kedua ditandai dengan menculnya pembangkit listrik dari berbagai sumber, seperti uap, batu bara, air dan sebagainya yang memicu kemunculan beberapa alat yang dinilai memudahkan pekerjaan manusia seperti pesawat telepon, mobil, pesawat terbang dan lainnya.

Beralih kepada fase revolusi Industri keempat dimana masyarakat dihadapkan pada wajah dunia baru dengan adanya kemudahan akses telekomunikasi menggunakan internet dan teknologi digital.

Memasuk Revolusi Industri saat ini, Revolusi Industri 4.0, dimana ditemukan pola baru yang dinilai sitruptif dimana perusahaan perusahaan harus sangat tanggap pada area ini. (beritasatu.com 17 Juni 2016)

Pada Revolusi Industri 4.0 banyak perusahaan yang mulai mengotomatisasi setiap komponen dalam perusahaan dengan tujuan efektifitas dan efesiensi sehingga memudahkan perusahaan dalam mencapi profit besar dan pencapaian target.

Namun, banyak perusahaan yang mengotomatisasi sumberdaya yang awalnya menggunakan manusia kemudian digantikan oleh robot atau mesin yang tersistem otomatis sehingga banyak perusahaan yang melakukan pemutihan terhadap para pekerjanya.

Ketua DPP Golkar Bidang Ekonomi Arche Harahap mengatakan, ‎setiap revolusi industri akan membawa dampak pada tenaga kerja. Pasalnya peran manusia sebagai tenaga kerja akan tergantikan.

"Impact-nya shifting job. Contoh revolusi industri, sebelumnya ada 10 petani, dengan adanya traktor yang dibutuhkan tinggal tiga petani. Ketika ada traktor petani banyak beralih ke industri," kata Arche, dalam sebuah diskusi di kawasan Cikini, Jakarta, Sabtu (7/7/2018).

Menurut Arche, peralihan tenaga kerja atas penerapan revolusi industri 4.0 harus diantisipasi dengan menyediakan lapangan kerja peralihannya. Bila tidak ada solusi dikhawatirkan bisa menciptakan masalah besar. (https://www.liputan6.com/bisnis/read/3581440/pemerintah-harus-pikirkan-nasib-pekerja-saat-revolusi-industri-40-berjalan)

Seharusnya sebelum memasuki era sekarang pemerintah harus sudah menyiapkan beberapa kebijakan guna mengantisipasi permasalahan-permasalahan yang akan datang, salah satunya mengenai peralihan para pekerja.

Dimana pada era ini cenderung banyak perusahaan yang melakukan digitalisasi dan otomatisasi dalam banyak bidang, contoh e-ticketing, digital payment, e-money dan banyak lagi, dimana awalnya semua berpusat pada tenaga manusia namun sekarang tergantikan oleh kecanggihan teknologi.

Sehingga pemerintah mampu menyiapkan masyarakat baik secara hardskill maupun softskill untuk menghadapi era revolusi industri ini.

Lalu untuk siapa sebenarnya revolusi Industri 4.0 ini ?
Jika kita kembalikan kepada sistem yang saat ini berlaku dengan jelas kita bisa melihat siapa yang paling diuntungkan dalam hal ini, tidak lain adalah para pemilik modal. Dimana asas kepentinganlah yang jadi landasan. Ketika hal tersebut menguntungkan maka segala cara akan dilakukan termasuk pemberlakukan pemutihan para pekerja.

Lantas, bagaimana Islam menyikapi revolusi Industri 4.0 ?
Kita sebagai manusia yang hidup di era digital tentu tidak dapat mengelak atau pergi begitu saja dalam hal ini, karena sejatinya seluruh teknologi akan berkembang pesat sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan.

Islam di zaman Utsmaniyyah berhasil menorehkan teknologi-teknologi yang kemudian diabadikan dalam banyak kitab, seperti jam gajah dan konsep robotic yang telah jauh hari dicanangkan oleh Al Jazari yang dibukukan dalam kitabnya al-Jami’ baina al-Ilmi wa al-Amal an-Nafi’ fi Shina’ati al-Hil.

Buku ini sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pada tahun 1974 oleh Donald Hill, seorang insinyur dan sejarawan Inggris. Menurut George Sarton, buku al-Jazari ini adalah buku yang paling baik dalam bidangnya. Hal ini merupakan sebuah pencapaian yang tinggi seorang ilmuan muslim (at-Turats al-Ilmi al-Islami oleh Ahmad Fuad Basya, Hal: 31)

Hal tersebut membuktikan bahwa Islam tidaklah anti terhadap perkembangan teknologi namun seharusnya perkembangan tersebut tetaplah berada pada kaidah- kaidah syara. Teknologi yang dikembangkan selayaknya dapat membangkitkan peradaban Islam yang menaungi manusia, bukan hanya muslim saja.

Syeikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitabnya “Daulah Islam”, beliau menyebutkan bahwa terdapat tiga landasan dalam membangun peradaban Islam.

Akidah Islam
Dimana semua yang dilakukan adalah landasannya Allah dan murni karena ketaatan dan kepatuhan pada Allah, dan keimanan kepada Allah.

Standar perbuatan halal haram

Yaitu tetap mengedapankan apakah teknologi yang dikembangkan sesuai dengan syariat Allah atau telah keluar darinya.

Standar kebahagian adalah Ridha Allah

Mengedepankan ridha Allah pada setiap hal yang dilakukan, proses pengembangan teknologi disandarkan pada ridha Allah untuk memudahkan ummat dalam menyelesaikan pekerjaannya.

Tanpa merugikan siapapun dan terbatas pada kepentingan satu pihak.

Ketika ketiga landasan tersebut digunakan, maka pengembangan teknologi tidak hanya berfokus pada untung atau ruginya satu pihak saja, melainkan akan ada solusi-solusi bagi setiap tantangan zaman.

Tidak aka ada pemutihan karena masyarakat disiapkan dengan hardskill dan softskill yang dilandaskan pada keimanan dan ketaqwaan. Sehingga akan banyak bidang yang memiliki ahli dan banyak bidang yang dikuasai.

Dan hal ini pun membuktikan bahwa sesungguhnya islam sangat akan relevan dengan zaman, kapanpun dan dimanapun, karena Allah telah menggoreskannya didalam Al Quran:
Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia” (QS. Al Anbiya: 107)[MO/sr]



Posting Komentar