Oleh: Dewi Sartika, S.ST.MIK
(Staff Rekam Medis RSBG Kolaka)

Mediaoposisi.com- Beberapa waktu belakangan ini banyak hal viral yang terjadi di media sosial dan menghebohkan netizen. Mulai dari video lipsing aplikasi Musically hingga kemampuan edit video aplikasi Tik Tok dan membuat terkenal beberapa penggunanya. Kini giliran para modern dancer menarik perhatian netizen dengan sebuah tantangan tarian yang unik.

Bagaimana tidak, tantangan tarian yang disebut In My Feeling Challange menampilkan seseorang menari mulai dari dalam mobil hingga keluar di pinggir jalan sambil mobil tetap berjalan pelan. Mobil sangat pelan hingga si penari bisa terus mengikuti pergerakannya sambil bergoyang dan menampilkan kebolehannya sampai masuk kembali ke dalam mobil dan video pun dihentikan. (okezone.com)

Tantangan In My Feelings atau yang lebih sering disebut #KikiChallenge, dilansir dari Popsugar.com, Selasa (24/7/2018), hanya dalam beberapa minggu, lebih dari 240.000 postingan telah mengisi hashtag #InMyFeelingsChallenge di Instagram, semua itu dimulai dari seorang pengguna Instagram theshiggyshow.

Pada tanggal 29 Juni, komedian tersebut membagikan sebuah video yang memperlihatkan ia tengah menari sendirian (atau melakukan “shaggy”, begitu dia menyebutnya) di jalan dan menggunakan gerakan yang diselaraskan sempurna dengan lirik lagu Drake.

Ketika Drake bernyanyi,”Kiki, do you love me?” dia membuat gerakan hati dengan tangannya, dan dia membuat gerakan sedang mengemudi dengan lengannya untuk lirik yang berbunyi,“Are you riding?”.

Setelah video asli tersebut diunggah, tiba-tiba saja langsung menyebar seperti api, dan semua orang, mulai dari Will Smith hingga Sterling K. Brown mulai mengikuti tarian, menirukan gerakan tersebut. (bintang.com)

Kiki Challenge Membahayakan Diri 
Sudah banyak warganet yang meramaikan tantangan ini berbagai media sosial. Menanggapi tantangan yang tengah viral tersebut, Polri melarang dan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan tantangan itu.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri Brigjen Mohammad Iqbal mengatakan, Kiki Challenge dilarang karena dianggap membahayakan diri sendiri maupun orang lain.

"Bisa dikenakan Pasal 283 jo Pasal 106 ayat 1 UU 22/2009 dengan denda maksimal Rp 750 ribu atau kurungan 3 bulan. Jangankan buka pintu mobil, keluar, lalu joget. Pakai ponsel (saat berkendara) saja dilarang, " kata Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Polri, Brigjen Mohammad Iqbal dikutip brilio.net dari Liputan6.

Saat ini, seseorang tidak akan menjadi trendi jika tidak mengikuti tren yang berlaku, begitu pun dengan remaja. Remaja akan merasa keren ketika mampu mengikuti apa yang sedang menjadi trending topic.

Tantangan #KikiChallenge kebanyakan berasal dari kalangan remaja, ada yang membuat video dengan memakai pakaian heboh, minim dan sebagainya. #KikiChallenge sebenarnya tidak mempunyai makna apapun. Dari sini bisa kita saksikan remaja hanya mengejar kesenangan dunia untuk memuaskan gaya hidupnya yang katanya kekinian.

Kapitalisme Melahirkan Generasi Rusak, Menyedihkan! 
Mata kita selalu disajikan berbagai menu kerusakan generasi, remaja sangat antusias terhadap adanya hal yang baru. Gaya hidup hedonis sangat menarik bagi mereka.

Daya pikatnya sangat luar biasa, penampakannya adalah adanya masyarakat yang berorientasi pada kenikmatan-kenikmatan materi, kosong nilai-nilai moral dan spiritual serta kecenderungan untuk bersenang-senang tanpa peduli akibat yang akan dialaminya.

Titel “remaja yang gaul dan funky ” baru melekat bila mampu memenuhi apa yang menjadi up to date saat ini. Inilah potret dari negara dengan jumlah penduduk muslim terbesar dengan penerapan sistem rusak yang telah mendominasi dunia secara global.

Adalah fakta bahwa tidak semua orang sadar dan paham tentang masalah ini, banyak yang hanyut dalam ideologi kapitalisme yang membuat hidup mereka hedon. Nilai-nilai moral dan nilai-nilai spiritual dikesampingkan bahkan dipandang tabu dan memalukan.

Munculnya beragam tingkah laku remaja yang nyeleneh ini merupakan bentuk kebebasan berekspresi mereka dilindungi oleh negara. Sesungguhnya negara adalah pihak sentral yang paling bertanggung jawab setelah masyarakatnya (social control). Namun, sayangnya, negara seolah abai bahkan terkesan melindungi kerusakan genarasi muda tersebut.

Ini karena negara mengekor pada ideologi kapitalisme yang lahir dari akidah sekuler dan mengadopsi sistem demokrasi dimana sistem ini menujungjung tinggi kebebasan tanpa batas, salah satunya kebebasan berekspresi.

Generasi Cemerlang : Mentalitas Mujahid, Intelektualitas Mujtahid
Remaja merupakan generasi penerus bagi generasi sebelumnya. Karena itu, ada ungkapan dalam bahasa Arab, “Syubanu al-yaum rijalu al-ghaddi” [pemuda hari ini adalah tokoh pada masa yang akan datang]. Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan sejak dini.

Di masa lalu, banyak pemuda hebat, karena generasi sebelumnya adalah orang-orang hebat. Karena itu, khilafah memberikan perhatian besar pada generasi muda ini.

Jika kita tengok gambaran masyarakat Islam masa dahulu, akan kita dapati bahwa pada masa-masa itu telah lahir sosok generasi berkepribadian Islam mumpuni, yang rata-rata memiliki mentalitas mujahid sekaligus intelektualitas mujtahid. Pada diri mereka tertanam keyakinan yang kuat, bahwa mereka ada semata-mata demi dan untuk Islam.

Sehingga dengan ghirah yang demikian,  umat Islam saat itu mampu bangkit menjadi “khoiru ummah” yang memimpin umat-umat lain dalam seluruh aspek kehidupan mereka, menjadi mercusuar peradaban luhur manusia yang eksis hingga  belasan abad lamanya.

Kita pasti mengenal siapa Ibnu Sina, Ibnu Rusyd, Al-Khawarizmi, Ibnu Jabir dan Ibnu Firnas. Mereka adalah sosok generasi emas yang lahir pada masa kekhilafahan tidak hanya sebagai ilmuwan tapi juga faqif fiddin (menguasai ilmu keagamaan).

Sepanjang itu pula banyak dihasilkan para pemuda yang menjadi ulama besar. Sebut saja salah satunya Rabi’ah ar-Ra’yi, seorang tabi’in berusia muda.

Jika sudah demikian, sangatlah rugi jika kita masih saja berkutat dengan sistem kapitalisme. Dimana negara tidak peduli dengan generasi yang semakin dekat dengan jurang kehancuran. Saatnya beralih kepada sistem Islam yang akan mewujudkan terciptanya generasi unggul berjiwa pemimpin.[MO/sr]






Posting Komentar