Oleh: Moni Mutia Liza, S.Pd
(Guru SMA 1 Pante Ceurmeun)

Mediaoposisi.com- Dewasa ini tindakan kriminal yang dilakukan oleh remaja kian menjadi-jadi. Hal ini menambah catatan kelam negeri Indonesia dengan jumlah demografi usia produktif yang meningkat pesat.

Menurut BKKBN di tahun 2016, remaja usia 10-24 tahun berjumlah 66,3 juta jiwa (okezone,25/10/17) bahkan Lembaga Demografi memprediksikan penduduk usia remaja akan terus meningkat hingga tahun 2030. Namun alangkah sayangnya aset yang berharga ini sebagian besar telah terseret arus premanisme.

Masih tergambar jelas diingatan kita kasus Firda (18 tahun) di Bireun yang dibacok oleh teman dekatnya, kasus begal yang terjadi di Aceh Utara, belum lagi kasus narkoba yang kian menjamur di kalangan remaja. Pada tahun 2017 saja terdapat 120 kasus narkoba yang dilakukan oleh remaja (acehnews.co, 15/9/17). 

Berdasarkan hasil penelitian akhir seorang mahasiswi Keperawatan Unsyiah Azziyarni di kecamatan Ulee Kareng Banda Aceh 2016 diperoleh data 77,3% melakukan kenakalan remaja yang menimbulkan korban fisik  ringan, 88,6% menimbulkan korban materi ringan.

Namun data secara Nasional berdasarkan laporan Jenderal Kapolri Tito Karnavian terdapat 291.748 kasus selama tahun 2017 (metronews,29/12/17) yang di dalamnya juga termasuk kasus kriminal oleh remaja.

Kasus kriminal yang diperankan oleh remaja ibarat bola salju yang terus bergelinding dan membesar. Setiap tahunnya terjadi peningkatan kriminal oleh remaja. bukan satu atau dua kasus melainkan sudah puluhan bahkan ratusan kasus. Tentu kondisi ini tidak boleh dibiarkan terus menerus. Pasalnya  akan menimbulkan kehancuran pada negeri ini di masa yang akan datang.

Potret kelamnya dunia remaja di Indonesia khususnya Aceh tentu memiliki faktor penyebabnya, salah satunya yaitu faktor media. Banyak tayangan di media televisi dan sosmed yang tidak mendidik, bahkan tak jarang menayangan adegan kekerasan, pelecehan, pencurian dan bahkan pembunuhan.

Tentu tontonan seperti ini akan mempengaruhi psikologi remaja yang menontonnya, maka hal yang wajar jika muncullah remaja bermental brutal layaknya preman. Faktor lainnya adalah lemahnya fungsi keluarga dalam mendidik anak. Kebanyakan orang tua menyerahkan sepenuhnya urusan pendidikan akhlak dan pengetahuan kepada guru-guru di sekolah.

Tentu pemikiran seperti ini keliru, sebab bagaimanapun juga keluarga adalah madrasah ula bagi anak dalam membentuk  kepribadiannya.

Kasih sayang keluarga tentu berbeda dengan kasih sayang dari guru-guru di sekolah, sehingga terdapat perbedaan kepribadian yang sangat jauh antara anak yang mendapatkan pendidikan sepenuhnya dari keluarga dengan yang tidak mendapatkan pendidikan yang baik dari keluarganya.

Tidak heran, kebrutalan dan sikap preman dimiliki oleh remaja yang jauh dari pembinaan dan pengontrolan orang tua.

Matinya fungsi keluarga akan membuat seorang anak mencari lingkungan lain yang aman baginya bahkan mencari jati dirinya di luar rumah, maka lingkungan inilah yang memberi pengaruh sangat besar dalam membentuk kepribadian anak tersebut. Sebagai orang tua tentu kita tidak bisa menutup mata, telinga kita dengan kondisi remaja yang kian brutal dan terseret arus seks bebas.

Jangan berharap dunia luar akan mengajarkan kasih sayang dan tanggung jawab dan akhlak mulia pada anak kita, sebab dunia di luar rumah sangat berbahaya dan bebas.

Salah pergaulan akan menjerumuskan generasi pada kubangan kejahatan. Harus ada pengembalian fungsi keluarga pada anak untuk membentengi generasi dari rusaknya pergaulan. Kesadaran akan tanggung jawab keluarga terhadap anak tidak boleh diabaikan.

Apa jadinya jika generasi bermental preman dan brutal ini menjadi penerus kepemimpinan bangsa Indonesia? sudah pasti kehancuran dan kebobrokan.

Berikutnya premanisme dikalangan remaja menunjukkan kepada kita akan lemahnya kontrol masyarakat terhadap generasi. Tumbuhnya sikap individualis di tengah-tengah masyarakat akan mengakibatkan masivnya premanisme di kalangan pelajar, bahkan pelajar-preman tak segan-segan melukai orang, berani merampok dan membunuh target mereka yang usianya jauh di atas mereka.

Lebih jauh lagi remaja-preman ini berani mengeroyok gurunya yang tidak disukainya. Sudah banyak kasus pengroyokan siswa terhadap guru, pencurian yang dilakukan remaja demi sabu-sabu bahkan rela membunuh demi mengkonsumsi barang haram.

Abainya negara terhadap persoalan generasi juga menjadi pemicu munculnya remaja-preman. Negara memiliki peran yang tidak kalah penting dalam membentuk karakter generasi yang anti premanisme.

Misalnya negara memainkan perannya dalam pengontrolan tayangan di televisi dan video yang tersebar di sosial media. Namun pada faktanya hal ini tidak dilakukan oleh negara, terbukti masih banyak tanyangan di televisi yang tidak mendidik, begitu pula banyak video di sosial media atau you tube yang jauh dari kata layak untuk ditonton oleh para remaja.

Kemudian negara juga melakukan fungsinya sebagai pemberi sanksi yang tegas kepada pihak-pihak yang menjerumuskan remaja pada dunia kejahatan tanpa pandang status jabatan seseorang. Negara juga menjalankan fungsinya sebagai membina masyarakat sehingga masyarakat memiliki daya kontrol yang kuat terhadap generasi.

Catatan penting selanjutnya yaitu adanya teladan yang baik mulai dari penguasa, pejabat negara, guru, masyarakat dan keluarga kepada para remaja. Dengan demikian terbentuklah remaja yang sehat dan berakhlak mulia.

Namun, kembali fakta berbicara bahwa teladan ini belum tumbuh di berbagai kalangan melainkan hanya beberapa persen saja, selebihnya masih banyak yang jauh dari kata layak untuk dicontoh. Maka jangan salahkan remaja jika bermental preman dan brutal, sebab tidak ada teladan yang baik yang layak mereka contoh.

Munculnya remaja yang bermental preman ini menjadi masalah bagi negeri Indonesia khususnya Aceh. Oleh karena itu, perlu usaha keras bersama dalam mewujudkan kembali generasi yang sehat dan berakhak mulia.

Namun perlu kita melihat kembali kebelakang bagaimana hebatnya generasi jaman dahulu tepatnya masa Abbasyyah, banyak ilmuan yang bermunculan, banyak ahli hadis dan tafsir, banyak riset-riset yang digunakan untuk kepentingan masyarakat dan munculnya generasi yang bertaqwa.

Ternyata generasi yang hebat itu muncul dari konsep Islam. Islam telah mewajibkan agar madrasah ula dijalankan oleh keluarga terutama ibu, pendidikannya pun di desain dengan sangat rapi dan memiliki tujuan yang sangat mulia, yaitu menjadi hamba Allah yang bertaqwa dan menjadi insan yang menguasai saint- teknologi.

Islam telah mengatur dunia pendidikan sejak TK-SD ditanamkan kepribadian dan tauhid kepada siswa, mereka hafal Al-Qur’an, Al-Hadits di usia yang sangat muda.

Selanjutnya jenjang SMP dan SMA mereka mulai memasuki pelajaran tambahan berupa saint-teknologi dengan syarat tetap mengambil mata pelajaran wajib seperti bahasa arab, fiqih, tafsir dan sebagainya. Sehingga memunculkan generasi yang bertaqwa, generasi yang jauh dari mental preman.

Sejak kejayaan Islam sangat jarang ditemukan remaja yang bermental preman, sebab selain sistem pendidikan yang berlandaskan Islam, juga terdapat kontrol masyarakat terhadap generasi serta negara yang terus membina masyarakat dan memotivasi dunia pendidikan agar terus berkarya.

Seperti pada masa Khalifah Harun Ar-Rasyid yang memberikan hadiah berupa emas seberat karya tulis kepada siapapun baik muslim dan non muslim ketika mereka berhasil membuat buku yang tentunya berkualitas, sebagaimana karya-karya emas ilmuan muslim yang telah diwariskan pada kita saat ini.

Kemudian negara memainkan fungsinya yaitu memberi sanksi yang tegas kepada pelaku maksiat tanpa pandang status keluarga dan jabatan. Sanksi yang membuat jera pelakunya dan menjadi pembelajaran bagi yang lainnya.

Bagaimana dengan remaja kita saat ini? sudah selayaknya kita bersikap bijak dan kembali kepada konsep yang benar, sehingga negeri kita terselamatkan dari kehancuran di masa yang akan datang.[MO/sr]

Posting Komentar