Oleh: Bagas Kurniawan
('Aliwa Institute)

Mediaoposisi.com- Peluang nama-nama Cawapres (calon wakil presiden) yang akan mendampingi Capres (calon presiden) makin meruncing. Berbagai upaya dari petahana melakukan upaya lobi-lobi bursa Cawapres, ditunjukkan dalam satu meja yang digelar di istana kepresidenan.

Koalisi berbagai ketua parpol ditunjukkan apik dan menarik, kelihatan mesra dan bersahaja saat menyantap hidangan dimeja makan.

Berebut kursi nomor satu RI hingga maju duduki kursi nomor dua pemerintahan adalah tujuan kekuasaan para penganut setia demokrasi. Tak heran cara-cara kotor untuk menjegal lawan politik dilakukan sebagai bentuk kedewasaan dalam berdemokrasi yang katanya masih dalam tahap perkembangan untuk negeri.

Terasa indah saat duduk bersama tentukan wacana arah cita-cita negeri. Namun, ngeri saat Capres umumkan siapa yang berhak mendampingi. Koalisi akan pecah, hubungan baik bisa jadi awal sebuah neraca perselisihan atas kebijakan yang membuat elit partai berubah kongsi.

Inilah wajar demokrasi, tujuan boleh sama, tapi hasil siapa yang lebih banyak untungkan golongan dan pribadi. Urusan negara tak lagi dipikiri, berubah jadi slogan basi tanpa bukti.

Dewasa ini memang slogan basi sering jadi alat untuk mengumbar janji-janji. Atas nama demokrasi suara rakyat hanya digembosi, untuk tetap percaya terhadap kinerja para pejabat yang katanya peduli kepada aspirasi yang diwakili.

Alhasil, sebuah gagasan kosong hanya klaim sesaat dan kemudian jadi irasional sebuah koalisi. Masihkah percaya pada aturan manusia yang justru membuat umat makin sulit mendapatkan kesejahteraan ?

Koalisi keumatan pun, mendesak agar segera umumkan calon dalam pilpres 2019. Tak henti menggalang dukungan agar bisa mengatasi ketidakstabilan perekonomian, agar rupiah tidak lagi melemah, dan kebutuhan pokok harga bisa berubah murah. Sepertinya memang itu adalah sebuah nilai opini untuk slogan 2019 ganti Presiden.

Bertahun-tahun permasalahan negeri ini tidak kunjung menemui kepada titik sumber permasalahan, cara-cara usang tetap saja digunakan. Padahal saat ini rakyat sudah tidak lagi mampu beli daging dan telur ayam, yang harganya sudah diluar jangkauan.

Seperti signal handphone yang akan kehilangan daya fungsinya bila tak terhubung dalam jaringan yang tepat, dalam kondisi baterai yang baik, agar handphone dapat digunakan sesuai kebutuhan.

Memandang perlu dalam hal siapa yang jadi Cawapres, dan siapa calon yang akan melaju menghadang tahta kekuasaan, bila masih dalam koridor hukum akal manusia yang terbatas, itu sungguh fiksi, tanpa solusi.

Umat sudah cerdas memandang mana yang mampu menjawab tantangan multidimensi, dan mana yang hanya inginkan solusi parsial dengan tambal sulam. Dengan sistem yang akal-akalan.

Seorang Muslim wajib untuk taati sebuah aturan, yang langsung bersumber dari Sang pecipta manusia. Karena hanya dengan syariah Islam persoalan negeri dalam mengurus rakyatnya akan memberikan dampak yang membawa kepada keberkahan.

Janji dan tipu-tipu soal pemimpin, jangan lagi umat tersesat. Karena Islam, sudah memberikan contoh dan suritauladan yang baik, yaitu Rasulullah Muhammad Saw.[MO/sr]

Posting Komentar