Oleh: Nur Syamsiyah
(Aktivis Mahasiswi Malang Raya)

Mediaoposisi.com- Kata “radikalisme” sudah taka sing lagi di telinga para akademisi, khususnya di kalangan mahasiswa. Isu radikalisme digiring menyasar kaum intelektual kampus yang dianggap sebagai sarangnya gerakan radikal.

Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) Mohammad Nasir mengatakan tidak menutup kemungkinan, saat ini masih banyak kampus yang telah terpapar paham radikal, tetapi belum terdeteksi.

Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Badan Intelijen Negara yang dipublikasikan pada April lalu, menunjukkan bahwa dari 20 perguruan tinggi yang disurvei di 15 provinsi sepanjang tahun 2017 ditemukan 39 persen mahasiswanya anti demokrasi dan tidak setuju Pancasila sebagai dasar negara Indonesia.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komisaris Jenderal Suhardi Alius menegaskan bahwa radikalisme saat ini sudah masuk ke ruang-ruang intelektualitas seperti para mahasiswa. Pola perekrutan radikalisme pun sudah semakin canggih, yakni hanya dalam waktu dua jam seseorang bisa dicuci otaknya untuk bisa melakukan hal-hal yang radikal.

Direktur Pencegahan BNPT Hamli menyebutkan ada beberapa Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang menjadi lahan rekrut gerakan radikal, diantaranya adalah Universitas Indonesia (UI), Institut Teknologi Bandung (ITB), Institut Pertanian Bogor (IPB), Institut Tekonologi Surabaya (ITS), Universitas Airlangga (Unair), dan Universitas Brawijaya (UB).

Pernyataan dari BNPT nampaknya menuai kritikan, salah satunya disampaikan oleh ketua FOSILAM (Forum Silaturrahim Alumni Antar Kampus) Arisakti Prihatwono, Ari menyatakan bahwa tuduhan itu adalah bagian dari persekusi.

FOSILAM juga menuntut agar pemerintah memberikan tolak ukur yang jelas arti dari radikalisme tersebut. Tidak jelasnya definisi radikalisme seolah menuduh seseorang dengan tuduhan yang tidak jelas.

Setelah ramai isu radikalisme, beberapa kampus melakukan tindak pencegahan dengan membuat peraturan mengenai penggunaan jilbab dan cadar bagi para mahasiswinya. Salah satunya adalah Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta, melarang mahasiswinya untuk mengenakan cadar di dalam kampus.

Pihak kampus juga membentuk tim konseling dan pendampingan kepada mahasiswi bercadar agar mereka mau melepas cadarnya saat berada di lingkungan kampus. Bahkan, pihak kampus akan meminta mahasiswinya untuk pindah kampus bagi yang tidak mau melepas cadarnya.

Jajaran TNI pun tidak ketinggalan, pada hari Jum’at (2707/2018) kemarin, Dandim 0833/Bdj Letkol Inf Nurul Yakin menyampaikan bahwa jajaran TNI akan memberikan pembekalan khsusus bagi mahasiswa di Perguruan Tinggi se Malang Raya guna perangi radikalisme. Pembekalan tersebut akan dilakukan menjelang masuknya Maba (Mahasiswa Baru) di Perguruan Tinggi masing-masing.

Seharusnya, kampus adalah tempat berkembangnya keilmuan, ladang mahasiswa untuk berdiskusi dan berargumen, guna membangun suatu negeri untuk menjadi lebih baik. Di tangan para intelektual, lahir dan melekat suatu pemikiran dan idealisme yang tinggi. Mereka bisa membakar semangat perjuangan menuju peradaban yang gemilang.

Namun realita saat ini, mahasiswa kehilangan identitasnya. Suara mahasiswa justru dibungkam. Ketika ia berteriak tentang kebenaran, justru ia dianggap melawan bahkan radikal. Lantas, apa makna dibalik kata radikal itu?

Radikalisme menjadi alat penghalang perjuangan Islam. Kata radikal terus diopinikan untuk membungkam para pejuang syariat-Nya. Kata radikal harusnya bermakna netral, karena tidak mengandung arti positif maupun negatif. Akan tetapi julukan “Islam radikal” kemudian digunakan secara sistematis untuk menyebut pihak-pihak yang menentang sistem ideologi Barat.

Jangan sampai istilah radikalisme menjadi alat untuk membungkam gairah keislaman yang positif. Jangan sampai mahasiswa-mahasiswi yang bersemangat mengkaji Islam, menyeru pada kebaikan, mengamalkan dan memperjuangkannya menjadi bimbang bahkan padam dalam berjuang.

Ini merupakan hal yang positif dan tidak selayaknya untuk dihantui dengan kata radikalisme yang menjadikan muslim tersebut phobia terhadap agamanya sendiri (islamophobia).

Apabila radikalisme dilekatkan pada nilai-nilai keislaman tersebut, itu berarti menggelisahkan sesuatu yang positif. Oleh sebab itu, mahasiswa harus terus menyuarakan kebenaran, tidak boleh bungkam dan tunduk pada kemungkaran.

Allah menciptakan manusia di muka bumi ini untuk menjadikannya ia sebagai seorang khalifah. Yang pasti mampu melaksanakan tanggung jawabnya sebagai seorang hamba dengan menjalankan semua perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.

Menyeru kepada Islam bukanlah sesuatu yang keliru apalagi dikatakan perbuatan yang negatif. Ia merupakan kewajiban dari Allah swt yang memerintahkan kepada hamba-Nya yang beriman untuk taat pada setiap garis ketentuan-Nya (Syari’at Islam). Hingga pada akhirnya, bisa menerapkan syariat Allah secara menyeluruh dan menjadikan Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin.[MO/sr]


Posting Komentar