Oleh: R.Wijaya

Mediaoposisi.com- Islam Nusantara sebagai satu kesatuan yang utuh merupakan suatu hal yang baru dalam khazanah keislaman kita di Indonesia, karena sepanjang kurun sejarah sejak Islam masuk Indonesia, menyebar ke berbagai daerah, Indonesia merdeka, hingga rezim orde baru berakhir di tahun 1998, tidak pernah terdengar istilah Islam nusantara.

Yang ada melekat dengan Islam seperti islam moderat, islam tradisional, islam liberal, islam radikal, hingga islam wasathiyah. Namun benih munculnya nama islam nusantara bermula ketika istana negara mengadakan peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW pada 15 Mei 2015.

Secara umum sejak awal sampai akhir kegiatan tidak ada hal yang berbeda seperti kegiatan sebelumnya kecuali ketika qori Muhammad Yasser Arafat melantunkan surah an Najm 1-15 dengan cengkok atau langgam Jawa.

Sudah menjadi hal yang biasa untuk setiap acara kenegaraan yang resmi senantiasa diliput oleh berbagai media termasuk penayangan secara langsung oleh media televisi terhadap peringatan Isra’ Mi’raj yang berlangsung pada 15 Mei 2015.

Pada kegiatan tersebut diketahui dari rekaman media yang tersebar serta dari orang yang hadir bahwa ada hal yang tidak biasa seperti dilantunkannya ayat suci Al Qur’an dengan langgam Jawa. Beredarnya rekaman tersebut membuatnya menjadi trending topic kontroversial baik di dunia maya maupun di dunia nyata.

Banyak yang membahas baik dari kalangan yang awam juga para ulama terkait hukum dan kepantasan mengaji dengan langgam jawa, hingga menteri agama Lukman Hakim saifudin bersuara bahwa hal itu dilakukan atas inisiatifnya sendiri dan bukan arahan Presiden.

Beliau mengatakan “tujuan pembacaan Al-Quran dengan langgam Jawa adalah menjaga dan memelihara tradisi Nusantara dalam menyebarluaskan ajaran Islam di Tanah Air. Kita kenal di tanah air ini banyak sekali langgam pembacaan alquran, masing-masing daerah punya langgam tersendiri," dan

"Tentu, kementerian agama berharap hal ini tetap kita jaga untuk menunjukkan kepada pihak luar bahwa Indonesia mempunyai tradisi yang sangat kaya sejak ratusan tahun lalu terkait dengan Al-Quran, terkait pembacaan Al-Quran," katanya.

Namun, dengan adanya pernyataan dari menteri agama terkait hal itu tidak lantas selesai, justru semakin marak dan dicontoh.

Di dunia maya misalnya, ada seorang pengguna twitter berkicau “Pak Menag, sekalian aja adzan pakai langgam Sinden dan Ronggeng. Asli Indonesia bingits,” dan “Islam memang tidak identik dengan Arab. Tapi, Islam juga tidak identik dengan Jawa. 

Tidak ada Islam Arab apalagi Islam Indonesia,” tulis netizen lain. Dan nyatanya kicaun netizen terjadi dalam dunia nyata ada adzan dengan langgam jawa, sholawat dengan langgam jawa, dsb.

Karena kontroversi senantiasa dibahas terkait Islam dan tradisi nusantara, maka presiden Jokowi memunculkan istilah Islam Nusantara sebagai satu kesatuan kata dalam acara Istighotsah menyambut ramadhan 1436 H dan pembukaan munas alim ulama di masjid Istiqlal pada 14 Juni 2015.

Beliau menyampaikan ”Di Suriah, di Irak (goncang). Alhamdulillah kita Islam Nusantara. Islam yg santun, Islam yang penuh tata krama, Islam yang penuh toleransi," dan setelahnya dilajutkan oleh KH Said Aqil Siradj yang menuturkan "Yang paling berkewajiban mengawal Islam Nusantara adalah NU," .

Dan benar, setelah itu KH Aqil Siradj menepati janjinya pada Muktamar NU ke-33 di Jombang dengan mengangkat tema seputar Islam Nusantara,

yaitu “Meneguhkan Islam Nusantara untuk peradaban Indonesia dan dunia”, walau ada kesan Muktamar NU ke – 33 yang mengangkat tema seputar Islam Nusantara dipaksakan dan dianggap cacat karena tidak dihadiri pendukung KH Hasyim Muzadi dan Gus Solah

Definisi Sepihak
Dilansir Wikipedia, Islam Nusantara atau model Islam Indonesia adalah suatu wujud empiris Islam yang dikembangkan di Nusantara setidaknya sejak abad ke-16, sebagai hasil interaksi, kontekstualisasi, indigenisasi, interpretasi, dan vernakularisasi terhadap ajaran dan nilai-nilai Islam yang universal, yang sesuai dengan realitas sosio-kultural Indonesia.

Dan menurut KH Said Aqil Siradj, istilah Islam Nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah Nusantara yang disebutnya "dengan cara pendekatan budaya, tidak dengan doktrin yang kaku dan keras."

Dan "Islam Nusantara ini didakwahkan merangkul budaya, melestarikan budaya, menghormati budaya, tidak malah memberangus budaya," katanya, yang dilanjutkan, dari pijakan sejarah itulah, menurutnya.

NU akan terus mempertahankan karakter Islam Nusantara yaitu "Islam yang ramah, anti radikal, inklusif dan toleran," Said Aqil menegaskan, lalu diteruskan, model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai "Islam Arab yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara."

Standarisasi Nyeleneh
Jika dicermati secara mendalam, lahirnya ‘Islam Nusantara’ hanyalah semacam pembatas untuk melawan yang sering disebut sebagai ‘Arabisasi’ Islam di Indonesia, dan ada beberapa standarisasi nyeleneh pembatas antara Islam Nusantara dan Islam Arab sbb :

Pertama, adanya klaim ‘Islam Nusantara’ milik satu golongan dan kelompok. Padahal Nusantara bukan hanya milik satu golongan; bukan hanya milik NU, Muhammadiyah atau ormas manapun. Ia lahir adalah bagian dari heterogenitas kelompok yang ada di dalamnya.

Kedua, kelompok yang setuju istilah ‘Islam Nusantara’ seolah-olah ingin berupaya mempertentangkan antara Islam Nusantara dengan Islam Timur-Tengah.

Ketiga, mereka yang setuju gagasan ‘Islam Nusantara’ seolah-olah paling kokoh dan istiqamah menjaga kebinekaan negeri ini, padahal Indonesia adalah negeri yang luas, dibangun oleh banyak darah para syuhada. Mereka ada NU, ada Muhammadiyah, Persis, Al-Irsyad, Dewan Dakwah Islamiyah dan masih banyak yang tak sedikit perannya membangun negeri ini.

Keempat, gagasan ‘Islam Nusantara’ lahir harus dibenturkan Arab atau Timur-Tengah, yang seolah-olah apa yang datang dari Arab selalu mengkafirkan, intoleran, suka membid`ahkan, menyesatkan, anti budaya dan lain sebagainya.

Kelima, ingin menjadikan “Islam Nusantara’ menjadi referensi bagi dunia internasional bersanding dengan Islam Rahmatan Lil ‘Alamin.

Kesesatan Yang Nyata
Putra ulama terkenal KH Maemoen Zubair, KH Najih Maemoen (Gus Najih) mengkritik keras Islam Nusantara. Gus Najih membuat makalah berjudul “Islam Nusantara dan Konspirasi Liberal”. Beliau mengatakan “Islam Nusantara hadir untuk mensinkronkan Islam dengan budaya dan kultur Indonesia. Ada doktrin sesat di balik lahirnya wacana Islam Nusantara.

Beliau yang lama belajar ilmu agama Islam di Mekah di bawah bimbingan Sayyid Maliki ini menambahkan, dengan Islam Nusantara mereka (para pengusung) mengajak umat untuk mengakui dan menerima berbagai budaya sekalipun budaya tersebut kufur, seperti doa bersama antar agama, pernikahan beda agama, menjaga Gereja, merayakan Imlek, Natalan dan seterusnya.

Para pengusung Islam Nusantara juga ingin menghidupkan kembali budaya-budaya kaum abangan seperti nyekar, ruwatan, sesajen, blangkonan, sedekah laut dan sedekah bumi (yang dahulu bernama nyadran). Dalam anggapan mereka, Islam di Indonesia adalah agama pendatang yang harus patuh dan tunduk terhadap budaya-budaya Nusantara.

Tujuannya agar umat Islam di Indonesia terkesan ramah, tidak lagi fanatik dengan ke-Islamannya, luntur ghiroh islamiyahnya, selain itu ada misi “Pluralisme Agama” di balik istilah Islam Nusantara, di samping juga ada tujuan politik (baca; partai) tertentu, yang jelas munculnya ide tersebut telah menimbulkan konflik, pendangkalan akidah serta menambah perpecahan di tengah-tengah umat.

Berikutnya beliau mengungkapkan bahwa budaya yang berasal dari tradisi Nusantara pra-Islam telah di-Islamkan oleh para ulama Nusantara termasuk Walisongo, bukan Islam yang diakulturalisasi dan di-nusantarakan oleh budaya Nusantara karena budaya tersebut sudah ada terlebih dahulu sebelum Islam datang.

Dan kegiatan keagamaan masyarakat Indonesia seperti tahlilan,asinan, maulidan, manaqiban, thariqahan, pada dasarnya di negara-negara Arab juga dilaksanakan seperti di Siria, Yaman, dan sebagainya sehingga tidak pantas para pendukung Islam Nusantara menolak Islam Arab karena amaliyah mereka sama.[MO/sr]



Posting Komentar