Oleh: Amaliyah Krizna Waty
"Aktivis Intelektual Muslimah Aceh"

Mediaoposisi.com-Kasus Meiliana yang memprotes volume suara azan di Sumatera Utara berujung bui. Ia akhirnya divonis oleh Pengadilan Negeri Medan selama 18 bulan  penjara. Namun sangat disayangkan beberapa tokoh dan kalangan masyarakat memprotes putusan hakim tesebut. Karena hukuman yang didapat oleh Ibu empat anak itu dianggap tidak adil, karena dijatuhi pasal penodaan agama.

Padahal Meiliana tak sekadar mengeluhkan suara azan, iajuga mengeluarkan kata-kata sarkas dan bernada ejekan. Sebagaimana disampaikan oleh wakil ketua MUI Zainut Tauhid dalam m.liputan6.com.

Beliau menyampaikan bahwasanya,”Jika masalahnya hanya sebatas keluhan volume suara azan terlalu keras, saya yakin tak sampai masuk wilayah penodaan agama, akan tetapi sangat berbeda jika keluhannya itu dengan menggunakan kata-kata yang sarkastik dan bernada ejekan, maka keluhannya itu bisa dijerat pasal tindakan pidana penodaaan agama,” pungkasnya.

Sebagai negara dengan mayoritas Muslim di dunia, ternyata Indonesia tidak terlepas dari tuduhan negative dari para pmbenci Islam. Selalu saja ada kasus yang menyerang umat Islam beserta ajaran dan atributnya.

Belum lekang dari ingatan bagaimana kasus Basuki Tjahya Purnama selaku mantan gubernur Jakarta yang menghina surat Al-Maidah ayat 51 yang akhirnya dijatuhi hukuman 2 tahun penjara.

Begitu juga framing negative media sekuler yang mengatakan bendera tauhid, yakni ar royah yang berwarna hitam sebagai bendera teroris. Baru-baru ini justru disusul dengan protes terhadap suara azan.

Kasus yang senada dengan apa yang terjadi dengan negara-negara pembenci Islam, seperti AS dan Prancis. Negara ini merupakan negara yang mengemban system kehiupan sekuler liberalis yang sangat konsen menyebarkan islamophobia ke seluruh penjuru negri. Bahkan ke negeri kaum muslimin itu sendiri.

Rupanya Indonesia sudah terpapar ide ide kufur Islamofobia itu. Sehingga ‘panggilan’ untuk melaksanakan ibadah justru menjadi polemic yang membuat kegaduhan. Sedangkan kebisingan suara dangdutan di acara kondangan dianggap biasa sebagai konsumsi publik. Miris memang, tapi begitulah wajah negeri yang juga menerapkan system demokrasi sekuler.

Jika saat ini azan yang dipermasalahkan. Bukan tidak mungkin jika kedepannya s
holat pun akan dikriminalisasi. Karena pasukan Islamofobia sebisa mungkin akan menggempur seluruh ajaran Islam.

Takkan ada yang mampu membendung arus deras Islamofobia ini kecuali dengan menjadikan Islam sebagai system kehidupan dalam  bingkai Khilafah. Karena dengan demikian, ‘rahmah’ yang sebenarnya dalam ajaran Islam akan semakin tampak.

Sehingga masyarakat tidak akan mudah menelan frame negative dari corong-corong kaum Islamofobis kapitalis melalui media-media pengikutnya. Penyerangan-penyerangan terhadap ajaran Islam pun tidak akan terjadi secara berulang-ulang seperti saat ini. Penyerangan yang sudah pasti meresahkan umat Islam dalam menjalankan ajaran agamanya.[MO/an]


Posting Komentar