Oleh: Shafayasmin Salsabila 
(Pengasuh MCQ Sahabat Hijrah Indramayu) 


Mediaoposisi.com- "Perdamaian.. Perdamaian.. 
Banyak yang cinta damai namun perang semakin ramai 
Bingung.. Bingung
Kumemikirnya.."

Salah satu tembang qosidahan lawas yang diremix dan dinyanyikan kembali oleh grup band Gigi, terngiang dalam ingatan. Tentu ada sebab.

Berbicara soal perang. Tak ada satu pun yang menyukainya. Kekerasan, kesakitan dan kehancuran. Darah yang mengucur, anggota tubuh tercerai berai. Nyawa berguguran, air mata, kesedihan. Suram.

Sejarah mencatat banyak peperangan. Seperti perang Dunia I dan II, perang Sipil Rusia, perang Napoleon, perang Sparta yang legendaris dan masih banyak lagi. Hal yang melatarbelakanginya adalah perebutan kekuasaan. Ambisi untuk menguasai potensi suatu wilayah. Menjadi yang terkuat dan terhebat.

Lalu apakah jutaan tubuh tergelepar merupakan harga yang pantas untuk sebuah kedigdayaan? Masihkah manusia mencintai kedamaian? Buruk atau baikkah perang?


Simpang Siur Perang
Untuk menimbang satu perkara, seorang muslim akan menjadikan hukum syara' sebagai parameternya. Acuan berpikirnya. Tidak boleh hawa nafsu mengambil kendali dengan mengedepankan logika dan perasaan.

Faktanya Rasulullah Saw pernah juga mengangkat pedang. Dalam buku shiroh dikenal beberapa peperangan. Ada perang Badar, perang Uhud, perang Ahzab dan masih banyak lagi.

Lantas apakah itu berarti Rasul telah menangajarkan sesuatu yang buruk? Tentu tidak. Rasul itu maksum, terjaga dari dosa.
Jadi seperti apa Islam memandang tentang perang?


Perang dan Dakwah
Dari tujuannya saja, sudah sangat nampak perbedaan yang menganga. Perang dalam Islam adalah salah satu hukum syara'. Dikenal dengan istilah 'jihad fii sabilillah'. Nilai amalnya adalah ruhiyah yakni untuk ibadah. Hukum jihad adalah wajib.

Rasul diutus untuk menyebarkan Islam hingga ke penjuru dunia. Mendakwahkan Islam agar manusia terbebas dari kejahiliyahan. Misi ini tidak lah mudah, sekalipun Rasul adalah manusia pilihan. Ada banyak onak dan duri terhampar di sepanjang jalan.

Saat di Makkah, Rasul menyampaikan Islam secara damai. Lewat pemikiran. Mengajak berpikir akan hakikat kehidupan, mengenalkan siapa pencipta manusia sekaligus menyeru untuk menyembah hanya pada satu Ilah. Menyampaikan kabar tentang adanya hari pembalasan.

Setelah berlalu tiga belas tahun, tegak lah Islam di Madinah. Pada saat itu turun ayat tentang jihad. Yakni perintah Allah untuk memerangi kegelapan dengan kekuatan fisik militer yang dimiliki kaum muslim. Kegelapan yang dimaksud adalah kekufuran. Sistem manusia yang rusak.

Alasan Rasul mengangkat senjata semata demi dakwah. Menghilangkan halangan fisik yang berasal dari pemimpin suatu negeri yang menghalangi penduduknya untuk merasakan indahnya naungan cahaya Islam. Agar manisnya Islam bisa dinikmati oleh seluruh umat. Bukan untuk merusak kehidupan. Apalagi hanya sekedar meraih ambisi kekuasaan.

Allah berfirman: "Diwajibkan atas kamu berperang, padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci. Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui." (TQS. Al Baqarah: 216)

Ayat ini menjawab pandangan Islam terkait perang. Tentunya bukan sembarang perang. Perintah mengangkat senjata demi meninggikan kalimat tauhid perlu pemahaman. Tidak bisa serampangan.


Aturan Ketat dalam Perang
Tidak mudah untuk mendapat predikat syuhada. Jihad (red. Perang) hanya akan terjadi dalam dua kondisi. Yakni saat Islam telah memiliki institusi resmi. Ada satu pemimpin atas umat muslim sedunia.

Pemimpin tersebut yang akan memberikan komando. Atau ketika negeri kaum muslim diperangi, maka pada saat itu wajib untuk kaum muslim mempertahankan diri hingga desah nafas terakhir.

Jika perang itu harus terjadi, maka ada beberapa hal yang harus dipatuhi. Yakni: Tidak boleh membunuh para wanita, anak-anak dan lansia. Tidak boleh menghancurkan bangunan dan fasilitas publik. Tidak boleh memusnahkan tanaman dan pepohonan.

Ada pula aturan Islam terkait tawanan. Dimana tawanan harus diperlakukan dengan baik dan tidah boleh semena-mena. Tidak boleh membunuh musuh yang sudah menyerah. Juga tidak boleh menghancurkan tempat peribadatan.


Cap Radikal
Jihad adalah ajaran Islam. Tentu syarat dan ketentuannya berlaku. Sebagai seorang muslim, tidak ada alasan untuk merasa khawatir apalagi takut. Dibalik syariat ada maslahat. Yakin bahwasanya Allah Yang Maha Mengetahui, tidak akan pernah salah dan meleset saat menetapkan aturanNya.

Hal tersebut tentu memunculkan segudang tanya, saat ada satu desakkan agar kurikulum agama dikaji ulang. Usulan agar bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. Wacana tersebut datang dari Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU), KH Said Aqil Sirodj.

"Yang diperhatikan adalah kurikulum pelajaran agama di sekolah. Saya melihat pelajaran agama di sekolah yang disampaikan sejarah perang, misalnya perang badar, perang uhud, pantesan radikal," katanya dalam acara konferensi wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ahad (29/7). (posmetroinfo, 29/7/2018)

Jika Rasul dan para sahabat tidak mengangkat pedangnya, apakah saat ini Nusantara bisa mengecap manisnya iman dan Islam? Jihad atau perang dalam Islam adalah syariat yang amat mulia. Hati siapa tidak tersayat jika kemuliaannya dicoreng dengan cap radikal?[MO/sr]

Posting Komentar