Oleh: dr. Retno Sulistyaningrum

Mediaoposisi.com- Setelah pencabutan Badan Hukum HTI oleh pemerintah dikarenakan HTI mendakwahkan Khilafah terus menyisakan persekusi bagi tokoh-tokoh yang dianggap membelanya. Seperti yang dialami oleh Prof. Dr. Suteki. Beliau mengalami persekusi di kampusnya, UNDIP (laman facebook Prof. Dr. Suteki).

Hanya karena beliau menjadi saksi ahli di sidang PTUN beberapa waktu yang lalu dan menyatakan bahwa Khilafah adalah ajaran Islam. Beliau dilarang untuk menjadi pembicara karena dianggap sebagai orang yang mendukung khilafah dan mempunyai kartu anggota HTI.

Kejadian ini membuat mahasiswa jadi enggan dan takut untuk mempelajari dan berdiskusi tentang Islam terutama Islam ideologis dan permasalahan yang dialami oleh rakyat.

Takut mengalami hal yang sama dengan Prof. Suteki. Bahkan kampus dianggap sebagai tempat terbentuknya paham radikalisme dan terorisme sehingga mahasiswa diharapkan hanya fokus dengan tugas-tugas perkuliahan saja.

Hal ini sangat berbeda dengan yang dialami oleh mahasiswa-mahasiswa di tahun 90an. Saya masih ingat bagaimana aktifnya mahasiswa zaman dulu dengan kegiatan keagamaan baik di tingkat fakultas dan universitas.

Mahasiswa tidak cuma ribet dengan tugas kuliahnya. Banyak kegiatan di mushola fakultas atau masjid kampus. Setiap siang selalu ada saja kegiatannya. Mereka menjadikan masjid dan mushola sebagai tempat untuk menuntut ilmu agama Islam.

Iya, kita tidak mungkin mendapatkan pendidikan Islam secara maksiimal kalau cuma mengandalkan mata kuliah yang hanya diajarkan pada semester awal. Kita dapatkan banyak lewat kajian-kajian kampus dan kajian dari rumah ke rumah disela jam dan tugas kuliah. Semua sangat bersemangat dan kampus menjadi sangat hidup.

Kajian Islam memberi pembinaan dan menyelamatkan masa muda kita dari kegiatan-kegiatan yang tidak bermanfaat. Kita jadi mengenal Islam, bukan cuma sebagai agama ruhiyah yang mengatur masalah ibadah saja. Tetapi aqidah ruhiyah yang bisa menyelesaikan semua problematika manusia baik tingkat individu dan masyarakat.

Lain dulu lain sekarang, banyak tuduhan dan persekusi yang dialamatkan pada Islam dan pengembannya membuat ruang gerak menjadi terbatas. Mahasiswa dijauhkan untuk mempelajari Islam. Takut kalau aktif di rohis atau masjid nanti disangka teroris. Padahal zaman dulu banyak mahasiswa yang tinggalnya di masjid dan membantu mengurus masjid.

Tidak ada yang menuduh macam-macam. Mereka malah menjadi mahasiswa yang berprestasi. Para pemuda dan mahasiswa adalah penerus estafet dakwah. Banyak generasi muda muslim yang terbina dengan dakwah dan menjadi manusia yang berguna untuk agama dan masyarakatnya. Menjalankan tugas-tugas yang diamanahkan kepadanya dengan berbekal taqwa kepada Allah.

Kalau yang terjadi sekarang,ketakutan akan kebangkitan Islam melalui proses pemikiran dan pembinaan yang menjadikan orang-orang yang tidak suka untuk terus berupaya membatasi gerak dakwah para pemuda terutama dakwah Islam kaffah. Ketakutan mereka tidak mendasar.Segala cara dilakukan untuk menghentikan dakwah ini.

Ditambah lagi dari diri mahasiswa sekarang yang orientasinya ingin cepat lulus dan mendapatkan pekerjaan sehingga mereka sendiri enggan untuk mengikuti kajian-kajian dan menuntut ilmu Islam.Karena semua sudah tersistematis dan menjadi mindset dalam pemikiran generasi muda sekarang.

Institusi kampus adalah institusi yang terpandang karena tempat berkumpulnya para pemikir-pemikir dan orang-orang yang kompeten untuk melahirkan generasi pejuang pembawa perubahan untuk masyarakat. Karena pemuda adalah agent of change.

Jadi sangat disesalkan marwah/kehormatan institusi ini dilemahkan karena pemahaman yang salah dan menakut-nakuti mahasiswa sehingga mereka menjauhkan diri dari forum-forum diskusi tentang permasalahan bangsa. Karena apa? permasalahan bangsa ini hanya bisa diselesaikan dengan Islam.

Dan ini membutuhkan forum kajian dan diskusi yang rutin dan terarah sehingga mereka tahu visi dan misi hidupnya. Dan tahu ilmunya untuk menyelesaikan permasalahan bangsa ini. Mereka adalah calon-calon pemimpin. Dan di pundak mereka digantungkan tanggungjawab yang besar.

Maka semarakkanlah kampus dan kembalikan kampus sebagai institusi ilmiah pencetak pemimpin-pemimpin bertaqwa, cerdas, amanah untuk perubahan yang hakiki. Perubahan hakiki tidak akan tercapai kecuali dengan dakwah Islam kaffah.[MO/sr]

Posting Komentar