Oleh:Rif’atus sholihah
(Pemerhati Politik dan Media)

Mediaoposisi.com- Islam Nusantara mulai menjadi perbincangan hangat dikalangan masyarakat, perbincangan pesan positif maupun negative terus menderas.

Ditengah-tengah perbincangan itu, perlu kita bersikap objektif dan mendudukannya dalam pandangan islam. Pandangan tersebut, harus kita kupas secara mendalam apakah kita pantas mengambil islam nusantara? Sebelum beranjak pada hal tersebut perlu kita perhatikan terkait dengan beberapa point penting didalamnya.

Kita dudukan dahulu terkait dengan islam nusantara dalam pandangan KH Said Aqil bahwa Islam Nusantara bukan agama baru, bukan juga aliran baru. Islam Nusantara adalah pemikiran yang berlandaskan sejarah Islam masuk ke Indonesia tidak melalui peperangan, tapi kompromi terhadap budaya. tradisi Islam Nusantara tidak mungkin menjadikan orang radikal.

Tidak mengajarkan membenci, membakar, atau bahkan membunuh. Disisi lain, berbeda halnya dengan pernyataan dari MUI Sumbar bahwa

"Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa: 'Islam Nusantara' dalam konsep/pengertian definisi apa pun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatera Barat). Bagi kami, nama 'Islam' telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apa pun,"

demikian kesimpulan MUI Sumbar sebagaimana dokumen unggahan akun Facebook Ketua Umum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018, seperti dikutip detikcom, Rabu (25/7/2018).

Dengan demikian, perlu halnya kita perhatikan terkait dengan hal tersebut. Bahwa Islam Nusantara merupakan Islam yang dimana diambil dalam cangkupan nusantara, artinya Islam yang berlaku didalam lingkup nusantara dan tidak berlaku dalam ramah yang lainnya.

Bahkan didalam beberapa berita maupun artikel dinyatakan bahwa islam nusantara berbeda dengan islam arab yang dimana islam arab mengajarkan membenci dan membunuh hingga melahirkan terorisme.

Apakah hal tersebut benar? Maka, perlu kita pahami bahwasanya sejatinya islam tak mengajarkan hal tersebut, bahkan bila kita dalami terkait dengan "Jihad" tak kan seperti itu. Konsep terorisme yang diselancarkan didunia maya berbeda dengan konsep jihad.

Disisi lain, perlu kita pahami bahwa Islam sejak zaman Rasulullah hingga saat ini sama, Landasan yang digunakan sama yaitu Al Qur'an dan As Sunnah yang didalamnya tidak ada perubahan sedikitpun.

Artinya, entah diwilayah manapun kaum muslimin tinggal tetaplah Islam itu sama, tidak ada saling pengeplotan didalamnya. Sehingga tak pantas bila Islam diberi embel-embel karena embel-embel tersebut dapat memicu pengkotan antara umat muslim didunia sehingga memunculkan persengkatan diantara kaum muslimin.

Didalam Al Qur'an QS Al Ma'idah ayat 3, Allah SWT menjelaskan bahwa Allah telah menyempurnakan agama yaitu Islam.

حُرِّمَتْ عَلَيْكُمُ الْمَيْتَةُ وَالدَّمُ وَلَحْمُ الْخِنْزِيرِ وَمَا أُهِلَّ لِغَيْرِ اللَّهِ بِهِ وَالْمُنْخَنِقَةُ وَالْمَوْقُوذَةُ وَالْمُتَرَدِّيَةُ وَالنَّطِيحَةُ وَمَا أَكَلَ السَّبُعُ إِلَّا مَا ذَكَّيْتُمْ وَمَا ذُبِحَ عَلَى النُّصُبِ وَأَنْ تَسْتَقْسِمُوا بِالْأَزْلَامِ ۚ ذَٰلِكُمْ فِسْقٌ ۗ الْيَوْمَ يَئِسَ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ دِينِكُمْ فَلَا تَخْشَوْهُمْ وَاخْشَوْنِ ۚ الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا ۚ فَمَنِ اضْطُرَّ فِي مَخْمَصَةٍ غَيْرَ مُتَجَانِفٍ لِإِثْمٍ ۙ فَإِنَّ اللَّهَ غَفُورٌ رَحِيمٌ

"Diharamkan bagimu (memakan) bangkai, darah, daging babi, (daging hewan) yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik, yang terpukul, yang jatuh, yang ditanduk, dan diterkam binatang buas, kecuali yang sempat kamu menyembelihnya, dan (diharamkan bagimu) yang disembelih untuk berhala. Dan (diharamkan juga) mengundi nasib dengan anak panah, (mengundi nasib dengan anak panah itu) adalah kefasikan. Pada hari ini orang-orang kafir telah putus asa untuk (mengalahkan) agamamu, sebab itu janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku. Pada hari ini telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu. Maka barang siapa terpaksa karena kelaparan tanpa sengaja berbuat dosa, sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang."

Sehingga, sudah sempurna Islam yang Allah SWT turunkan kepada manusia maka tidak pantas bila Islam diberi tambahan embel-embel yang lainnya. maka menurut anda, masihkah pantas kita mengambil islam nusantara?[MO/sr]





Posting Komentar