Oleh: Lailin Nadhifah 

Mediaoposisi.com- Cukup menarik untuk diperbincangkan perayaan tahunan HUT RI di Jember. Yang dimeriahkan dengan pagelaran Jember Fashion Carnaval. Tahun ini digelar pada 7-12 Agustus 2018 beberapa hari yang lalu. 

Penyelenggaraan JFC ke-17 ini mengusung tema “ASIALIGHT” (Cahaya Asia) dengan  diangkatnya Ottoman(Turki) sebagai salah satu defile dari 10 defile yang dipresentasikan.

Sebagaimana yang disampaikan oleh Presiden Jember Fashion Carnaval, Dynand Fariz mengatakan JFC-17 ASIALIGHT akan dipresentasikan dalam 10 defile. Dalam10 defile yang terpilih, akan mewakili Benua Asia dengan keelokan sejarah dan budaya.

Salah satu defilenya adalah Ottoman (Turki) kekaisaran yang memiliki kekuasaan lintas benua dan menjadi pusat interaksi antara dunia Barat dan Timur, Saudi Arabia negara yang memiliki Tanah Suci, dan India yang dikenal dengan negeri penari.

Penggambaran Ottoman sebagai negeri penari inilah yang cukup menggelitik untuk dikuak realitas sejarah yang sebenarnya. Dikatakan sebuah kekaisaean yang memiliki kekuasaan lintas benua dan menjadi pusat peradaban, riilkah karena tariannya??

Ottoman Adalah Kekhilafahan Utsmani
Melekatkan ikon negeri penari terhadap Ottoman, seperti kisah sekelompok orang buta yang diminta untuk mendekskripsikan gajah. Masing masing mempunyai dekskripsi sendiri sendiri.

Disinilah pentingnya mengulik sejarah Ottoman.
Menurut Wikipedia, Kesultanan Utsmaniyah, nama resmi Daulat/Negara Agung Utsmaniyah
(Turki Utsmaniyah: دولت عليه عثمانیه Devlet-i ʿAliyye-yi ʿOsmâniyye; sering disebut dalam bahasa Turki modern sebagai Osmanlı İmparatorluğu(Kekaisaran Utsmaniyah) atau Osmanlı Devleti (Negara Utsmaniyah);

kadang disebut Kesultanan Turki atau Turki saja; (sering pula disebut Kekaisaran Ottoman yang diambil dari ejaan Barat) adalah kekaisaran lintas benua yang didirikan oleh suku-suku Turki di bawah pimpinan Osman Bey di barat laut Anatoliapada tahun 1299.

Seiring penaklukan Konstantinopel oleh Mehmed II tahun 1453, negara Utsmaniyah berubah menjadi kesultanan.

Dibalik kebesaran dan kekuatan Khilafah Utsmani, yang kekuasaannya tersebar dari Asia, Eropa dan Afrika, di dalamnya bertahta Islam.

Paul Kennedy dalam bukunyan The Rise and Fall of the Great Powers : Economic Change and Military Conflict from 1500-2000, mengatakan imperium Utsmani

ia lebih dari sekedar mesin militer, dia telah menjadi penakluk elit yang telah mampu membentuk satu kesatuan iman, budaya dan bahasa dari sebuah wilayah yang lebih luas dari Imperium Romawi dan untuk jumlah penduduk yang lebih besar”.

Menurut An-Nadwi kaum muslim Utsmani memiliki kelebihan yang tidak dimiliki oleh bangsa-bangsa lain saat itu. Sebagai bangsa nomadik dengan pola hidup sederhana, mereka memiliki moralitas yang tidak terkotori sehingga dengan mudah dapat melangkah berjuang.

Mereka memiliki persenjatan yang kuat, hinga mampu menaklukan Afrika, Mesir, Arab Saudi, Iran, Asia Tengah, dan sebagian Eropa.

Prof. DR. Ali Muhammad Ash Shalabi dalam bukunya -Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah menuliskan "Orang orang Utsmaniyah sejak era kepemimpinan pertama selalu berkomitment menegakan syiar-syiar agama Allah. Mereka ikhlas untuk berhukum kepada syari'ah Allah"

Tinta sejarahpun menorehkan bahwa perjuangan pembebas  Nusantara dari penjajahan Portugis, tidak luput dari peran Negara Khilafah Utsmani.

Keberadaan Turki Utsmani sebagai khilafah Islam, terutama setelah berhasil melakukan futuhat atas Konstantinopel, ibu kota Romawi Timur, pada 857 H/1453 M, menyebabkan nama Turki melekat di hati umat Islam Nusantara.

Nama yang terkenal bagi Turki di Nusantara ialah “Sultan Rum.” Istilah “Rum” tersebar untuk menyebut Kesultanan Turki Utsmani. Mulai masa ini, supremasi politik dan kultural Rum (Turki Utsmani) menyebar ke berbagai wilayah Dunia Muslim, termasuk ke Nusantara.

Kekuatan politik dan militer Khilafah Utsmaniyah mulai terasa di kawasan lautan India pada awal abad ke-16. Sebagai khalifah kaum Muslim, Turki Utsmani memiliki posisi sebagai khadimul haramayn (penjaga dua tanah haram, yakni Makkah dan Madinah).

Pada posisi ini, para Sultan Utsmani mengambil langkah-langkah khusus untuk menjamin keamanan bagi perjalanan haji. Turki Utsmani mengamankan rute haji dari wilayah sebelah Barat Sumatera dengan menempatkan angkatan lautnya di Samudra Hindia. Kehadiran angkataan laut Utsmani di Lautan Hindia setelah 904 H/1498 M tidak hanya mengamankan perjalanan haji.

Nur Al-Din Al-Raniri dalam Bustan Al-Salathin meriwayatkan, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah Al-Qahhar mengirim utusan ke Istanbul untuk menghadap “Sultan Rum”. Utusan ini bernama Huseyn Effendi yang fasih berbahasa Arab. Pada Juni 1562 M, utusan Aceh tersebut tiba di Istanbul untuk meminta bantuan militer Utsmani guna menghadapi Portugis.

Ketika duta itu berhasil lolos dari serangan Portugis dan sampai di Istanbul, ia berhasil mendapat bantuan militer Turki.

Hubungan Aceh dengan Turki Utsmani terus berlanjut, terutama untuk menjaga keamanan Aceh dari serangan Portugis. Penguasa Aceh berikutnya, Sultan Ala Al-Din Riayat Syah (988-1013 H/1588-1604 M) juga dilaporkan telah melanjutkan pula hubungan politik dengan Turki.

Dikatakan, Khilafah Utsmaniyah bahkan telah mengirimkan sebuah bintang kehormatan kepada Sultan Aceh, dan memberikan izin kepada kapal-kapal Aceh untuk mengibarkan bendera Turki.

Jasmerah kata Bung Karno, jangan melupakan sejarah. Kejayaan Nusantara bisa diraih saat kekuasaan Nusantara bertahtakan Islam.
Sangat disayangkan adanya tindakan secara sistemik, mengaburkan konstribusi Khilafah terhadap pengusiran penjajah . Bahkan melepaskan Ottoman dari sejarahnya yang utuh. [MO/sr]

Posting Komentar