Oleh: Sarah Siti Maryam

Mediaoposisi.com- Begitu banyak perilaku maksiat. Semakin banyak yang melakukannya tanpa rasa takut, malu dan tidak merasa berdosa. Rasa tersebut telah hilang dalam diri pelaku maksiat dan digantikan dengan rasa acuh dan tidak peduli bahkan hal ini bisa dikatakan ketidaksehatan dalam dirinya karena yang dikatakan sehat mencangkup sehat jasmani, rohani dan sosial.

Jika salah satunya sakit maka seseorang tidak bisa dikatakan sehat sebagai contoh semakin berjamurnya pelaku korupsi yang dikatakan sebagai sakit secara social dan rohani. Sungguh sangat disayangkan semakin banyak perilaku maksiat yakni korupsi yang berada disekitar kita.

Uang yang ada di pemerintah seharusnya untuk mengurusi urusan rakyatnya seperti anggaran sekolah, kesehatan dll ini malah dipakai oleh mereka yang tidak bertanggungjawab untuk kebutuhan pribadinya.

Kebanyakan pelakunya adalah orang-orang ‘pintar’ yang berada dijajaran di barisan pemerintah, pengurus rakyat dan juga sebagai wakil rakyat. Mereka berbuat seperti itu entah disengaja kurang pemasukan uang, ataukah sekedar kebiasaan semata.

 Jika dilihat-lihat gaji pemerintah itu kisaran antara minimalnya per anggota dewan Rp 25 juta/ bulan itu baru gaji pokok belum termasuk tunjangan-tunjangan dan adanya rencana kenaikan kenaikan gaji per 2019 nanti (tribunnews.com). Dengan gaji yang sebesar itu harusnya bisa mencukupi untuk kehidupan sehari-harinya kecuali jika dibiasakan hidup serba mewah itu tidak akan cukup.

Prilaku korupsi tersebut sepantasnya mendapat hukuman yang membuat mereka jera/kapok dari negara. Iya memang benar mereka mendapatkan hukuman dengan cara dimasukan ke sel penjara.

Tapi pada faktanya hukuman yang mereka tidak memberikan efek jera/kapok pada mereka malah sebaliknya ada yang keluar masuk penjara, tidak merasa takut karena difasilitasi kamar penjara yang serba mewah, bisa meminta kamar penjara senyaman mungkin sesuai dengan banyaknya uang yang mereka bayar untuk merenovasi ulang sel penjara.

Mereka  tanpa disertai rasa efek jera/kapok apalagi disertai rasa malu. Berbeda hal nya dengan kasus seorang nenek yang mencuri bambu dari kebun orang lain hanya dengan alasan kelaparan. Tetapi hukuman yang didapat nenek tersebut adalah hukuman yang bisa dikatakan pedih yaitu dipenjara beberapa tahun. Sungguh miris hukum-hukum yang ada saat ini.

Hukum seperti pisau tumpul ke atas tetapi tajam kebawah, artinya  hukum yang tidak memberikan efek jera/kapok kepada orang-orang yang berada di atas jajaran pemerintah dan hukum yang tajam kepada seorang rakyat kecil yang mencuri karena alas an kelaparan.

Itulah hukum yang dipakai saat ini hukum buatan manusia yang tidak sempurna seperti sempurnanya hukum berasal dari Allah. Hukum buatan manusia telah menghilangkan rasa takut, malu dan tidak merasa berdosa.

Allah telah mencabut rasa malu dan rasa takut bagi orang-orang yang melampui batas. Orang-orang yang telah diberitahu tentang perkara kebenaran tetapi ia berpaling dari kebenaran, ia telah menutup mata, mulut dan telinga dalam perkara kebenaran sehingga ia telah menghalalkan hukuman dari Allah. 

Maka Allah murka atas perbuatannya selama ia terus melakukan perbuatan dosa kecuali ia bertaubat, meminta ampun kepadaNya.  Dan Allah tidak akan menyatukan 2 rasa dalam satu waktu. Jika manusia merasa takut  di dunia maka ia akan merasa senang di akhirat dan sebaliknya.

Dari pemaparan atas, dapat disimpulkan bahwa hukum yang dipakai saat ini tidak menimbulkan efek jera/kapok  kepada orang-orang yang berperilaku maksiat, sebaliknya mereka malah di’manjakan’ dengan kemewahan-kemewahan. Ini mengakibatkan orang-orang berbuat perilaku maksiat karena merasa tidak takut dengan hukum yang diterapkan sekarang.

Karena Mereka semakin jauh dari hukum-hukum yang Allah berikan kepada kita. Maka dari itu kita wajib kembali memakai hukum berasal dari Allah yang akan membuat pelakunya jera/kapok, mencegah orang lain tidak melakukan maksiat dan sebagai penebus dosa.[MO/sr]

Posting Komentar