Oleh: Silpianah

Mediaoposisi.com- Ratu dunia ratu dunia,
oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruahi pembaca Koran

Bila wartawan memuji, dunia ikut memuji
Bila wartawan mencaci, dunia ikut membenci
Wartawan dapat membina, pendapat umum di dunia
Ratu dunia ratu dunia, oh wartawan ratu dunia
Apa saja kata wartawan mempengaruhi pembaca koran

Sebuah lagu yang dinyanyikan oleh grup qasidah Nasida Ria yang beranggotakan sembilan orang ini patut kita renungi. Lagu yang berjudul "Wartawan Ratu Dunia" ini menggambarkan betapa pentingnya seorang wartawan dalam kehidupan. Menurut Undang-undang Nomor 40 Tahun 1999, definisi  Wartawan adalah orang yang secara teratur melaksanakan kegiatan jurnalistik.

Kegiatan jurnalistik merupakan kegiatan yang berhubungan dengan media masa dan kegiatan tulis-menulis.

Yang harus kita renungi yaitu, bagaimana ketika tulisan yang dipublikasikan seorang wartawan tersebut malah meracuni pikiran pembaca? Tak jarang tulisan-tulisan yang bersliweran di media-media jahat menyuguhkan tulisan yang berbau kapitalisme, liberalisme dan paham-paham lain yang menjauhkan pemahaman islam dari orang islamnya sendiri.

Mari kita tengok sejarah di masa kekhilafahan yang terakhir, pada masa Sultan Abdul Hamid II. Ketika itu, Theodor Herzl sebagai tokoh utama dalam pergerakan Organisasi Zionis Dunia berambisi mendirikan Negara Israel di bumi Palestina.

Ia pun meminta kepada Sultan Abdul Hamid II untuk memberikan tanah Palestina kepada Yahudi dengan menyodorkan sejumlah tawaran yang menggiurkan. Namun Sultan menolak permintaan tersebut dengan tegas. Kaum Yahudi pun marah dengan adanya penolakan tersebut.

Herzl melakukan berbagai cara demi ambisinya. Diplomasi di berbagai Negara, melobi pembesar-pembesar di Eropa dan penguasaan media masa. Herzl yang merupakan seorang wartawan berpengalaman memanfaatkan media massa sebagai alat untuk merusak islam. Hasilnya sangat luar biasa. Manipulasi sejarah dirasa sangat dahsyat.

Dunia mulai mengakui zionisme sebagai gerakan politik yang sah dalam usaha merebut tanah Palestina. Bangsa Palestina yang berdiri sebagai korban dipandang sebagai “penjahat” di tanahnya sendiri. Inilah alasan kenapa kita harus menulis. Menulis demi bangkitnya peradaban islam. Menulis untuk melawan fitnah-fitnah jahat yang merusak citra Islam.

Seorang Theodor Herzl pun berkecimpung dalam kepenulisan untuk menuangkan ide-idenya dalam membangun Negara Israel. Bukunya yang berjudul “Der Judenstaat” menginspirasi kaum Yahudi untuk membangun Israel. Membangun Israel dengan menjajah Palestina.

Sebagai seorang muslim atau muslimah, apakah kita akan diam saja ketika Islam semakin gencar dijatuhkan oleh para sekuleris ataupun para kapitalis? Sekuleris yang memisahkan agama dari kehidupan, yang beranggapan bahwa agama sekedar ritual belaka. Kapitalis yang menjunjung kebebasan hidup mengabaikan aturan-aturan sang pencipta.

Lebih parahnya ide-ide tersebut yang jauh dari ajaran Islam semakin tumbuh di kalangan umat Islam sendiri. Akhirnya wabah islamophobia semakin menjangkiti tubuh umat Islam. Islam agamanya tetapi anti dengan yang berkerudung besar dan bergamis, apakah ada kasus demikian?

Banyak. Padahal sudah jelas perintah berkerudung dalam QS.An-Nur ayat 31 dan perintah berhijab pada QS.Al-Ahzab ayat 59. Agamanya Islam tetapi hoby bubarin kajian, ada? Ada. Mirisnya hal tersebut terjadi di Negeri mayoritas Islam.

Islam adalah agama yang sempurna lagi paripurna. Seluruh aspek kehidupan tak luput dari aturan Islam, tak hanya hubungan manusia dengan sang khalik tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan manusia dan hubungan manusia dengan alam semesta. Sudah seharusnya pemikiran Islam ada pada seorang muslim atupun muslimah, bukan kapitalisme maupun liberalisme.

Jadi, semakin kuat bukan alasan kenapa kita harus menulis? Menulis untuk peradaban Islam.
Pada sebuah postingan IG  seorang penulis juga praktisi menulis kreatif bernama Apu Indragiry, ada sebuah pesan yang perlu kita renungkan.

Jangan remehin kata, karena kata bisa merubah tatanan dunia.”  Begitu pesan yang tertulis. Seperti yang sudah dibahas diatas bahwa kaum Yahudi terinspirasi dari buku berjudul  "Der Judenstaat” yang ditulis oleh Theodor Herzl. Bisa kita simpulkan bahwa menulis adalah hal yang sangat penting.
Mari sama-sama kita angkat pena juang untuk islam, menulis untuk peradaban Islam.[MO/sr]


Posting Komentar