Oleh:Tety Kurniawati 
(Anggota Akademi Menulis Kreati) 

Mediaoposisi.com- Kawasan Lombok dan sekitarnya diguncang dua gempa hebat dalam sepekan. Gempa pertama, yang terjadi pada Minggu, 29 Juli 2018 dengan kekuatan 6,4 Skala Richter, ternyata bukanlah klimaks.

Hanya berjarak sepekan, pada Minggu malam, 5 Agustus 2018, lindu kembali mengguncang wilayah yang sama dengan kekuatan lebih besar, yakni 7 Skala Richter ( liputan6.com 07/08/2018).

Hingga saat ini, 355 kali gempa susulan terjadi sejak gempa bumi berkekuatan 7,0 Skala Richter (SR) mengguncang Pulau Lombok Nusa Tenggara Barat dan sekitarnya pada Minggu, 5 Agustus 2018. Kepala BMKG menjelaskan bahwa gempa skala kecil akan terus terjadi tiga sampai empat minggu ke depan( liputan6.com 09/08/2018).

Tak ada asap jika tak ada api. Peribahasa ini kiranya patut kita renungkan kembali menyusul terjadinya gempa beruntun di bumi pertiwi. Karena tiada yang berlaku di dunia tanpa hikmah yang menyertai. Setiap pilihan dan amal perbuatan pasti memiliki konsekuensi.

Hakikat Musibah 
Musibah adalah al-baliyyah (ujian) dan semua perkara yang dibenci oleh manusia. Imam Ibnu Mandzur, dalam Lisân al-‘Arab menyatakan, bahwa musibah adalah al-dahr (kemalangan, musibah, dan bencana). Sedangkan menurut Imam al-Baidhawi, musibah adalah semua kemalangan yang dibenci dan menimpa umat manusia.

Kaum muslimin memposisikan musibah sebagai sebuah sunatullah. Bukti kemahakuasaan Allah di muka bumi. Musibah bisa berarti sebuah ujian yang dengannya Allah berkenan untuk mengangkat kedudukan manusia. Bentuk kecintaan Allah kepada hambanya. Menguatkan keimanannya hingga pada akhirnya menjadi jalan bagi hambanya untuk memasuki surga.

Sebagaimana firman Allah : "Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan: “Kami telah beriman”, sedang mereka tidak diuji lagi? Dan sesungguhnya Kami telah menguji orang-orang yang sebelum mereka, maka sesungguhnya Allah mengetahui orang-orang yang benar dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang dusta" (TQS al-Ankabut : 2-3). 
 
Adakalanya musibah juga merupakan teguran atas begitu banyak kemaksiatan ditengah manusia, keengganan untuk tunduk dengan hukum Allah dan lebih memilih hukum jahiliyah buatan manusia serta terhadap hawa nafsu manusia yang membuatnya mengikuti semua adat nenek moyangnya meski bertentangan dengan ajaran Islam. Sebagaimana firman Allah :

"Telah nampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebahagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)." ( QS. Ar Rum : 41)

Sabda Rasulullah SAW berikut kiranya patut menjadi renungan atas musibah yang menimpa negeri tercinta :

"Apabila kekuasaan dianggap keuntungan, amanat dianggap ghanimah (rampasan), membayar zakat dianggap merugikan, beiajar bukan karena agama (untuk meraih tujuan duniawi semata), suami tunduk pada istrinya, durhaka terhadap ibu, menaati kawan yang menyimpang dari kebenaran, membenci ayah, bersuara keras (menjerit jerit) di masjid, orang fasig menjadi pemimpin suatu bangsa, pemimpin diangkat dari golongan yang rendah akhiaknya, orang dihormati karena takut pada kejahatannya, para biduan dan musik (hiburan berbau maksiat) banyak digemari, minum keras/narkoba semakin meluas, umat akhir zaman ini sewenang-wenang mengutuk generasi pertama kaum Muslimin (termasuk para sahabat Nabi saw, tabi’in dan para imam muktabar). Maka hendaklah mereka waspada karena pada saat itu akan terjadi hawa panas, gempa,longsor dan kemusnahan. Kemudian diikuti oleh tanda-tanda (kiamat) yang lain seperti untaian permata yang berjatuhan karena terputus talinya (semua tanda kiamat terjadi).”(HR. Tirmidzi)

Faktanya, hampir semua penyebab musibah yang disabdakan Rosulullah dalam hadist tersebut tengah melanda bangsa ini.

Alhasil perilaku korupsi merajalela, kemiskinan terus melanda, penindasan menjadi hal yang biasa, ulama yang harusnya menjadi rujukan umat justru membuat fatwa pesanan demi memuaskan syahwat keduniawian semata.

Kebangkrutan moral tak bisa dicegah keberadaannya, penguasaan SDA oleh asing dan aseng, kebijakan yang tak pernah berpihak pada rakyat, serta penerapan aturan sekuler yang bertentangan dengan syariat. Wajar jika kemudian musibah datang silih berganti menghampiri negeri.

Tuntunan Islam dalam Menyikapi Musibah 
Musibah gempa bumi  yang terjadi beberapa waktu lalu, harus menjadi alarm pengingat tuk berbenah diri, menakar kadar kedurhakaan tuk kemudian menyusun langkah perbaikan ke depan nanti. Taubat, kembali mendekatkan diri kepada Allah dengan jiwa yang lapang seraya terus memohon pertolongan dan ampunannya-Nya. Baik secara individu maupun nasional.

Ketika suatu saat terjadi gempa bumi di Madinah. Rasulullah SAW lalu meletakkan kedua tangannya di atas tanah seraya berkata, " tenanglah, belum datang saatnya bagimu". Kemudian Rosulullah menoleh ke arah para sahabat dan berkata, " Sesungguhnya Rabb kalian menegur, maka jawablah dan buatlah Allah ridha kepada kalian"

Rasulullah SAW juga berpesan dalam sabdanya, " Setiap anak adam memiliki kesalahan ( dosa). Dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat" ( HR. Tirmidzi).

Maka sudah waktunya seluruh elemen bangsa ini untuk berkontemplasi. Agar tidak terulang kesalahan yang sama di kemudian hari. Kembali taat kepada perintah Ilahi adalah solusi hakiki. Mengembalikan hak Allah sebagai satu-satunya pembuat aturan dimuka bumi. Hingga rahmat Allah dapat dinikmati seantero negeri.[MO/sr]

Posting Komentar