Oleh: Hamsina Halik, A. Md.
(Member Komunitas Revowriter)

Mediaoposisi.com- Berbicara tentang challenge memang tiada hentinya dikalangan generasi. Karena, generasi saat ini sangat menyukai yang namanya challenge. Ini menjadi ajang pembuktian diri bagi mereka bahwa 'gue bisa'. Belum hilang dari ingatan bagaimana Kiki Challenge telah mengalihkan perhatian publik.

Seru-seruan. Dimana pelakunya diwajibkan berjoget-joget ria di samping mobil  yang sedang berjalan, kemungkinan bahaya berupa kecelakaan bisa saja terjadi.  Kini, ada yang lebih berbahaya lagi yaitu Momo Challenge. Taruhannya adalah nyawa. Sebuah tantangan untuk melukai diri sendiri hingga bunuh diri.

Menyasar para gadis berusia 12 tahun, tentu membuat para orang tua  khawatir terhadap anak-anak mereka dan menjadi momok yang menakutkan.

Momo adalah nama akun media sosial yang kehadirannya ada di jaringan seperti WhatsApp, Facebook, dan YouTube. Menurut Unit Investigasi Kejahatan Komputer di negara bagian Meksiko, Tabasco, permainan dimulai di Facebook. Para pengguna ditantang untuk berkomunikasi dengan nomor yang tidak diketahui.

Kemudian Momo akan menanggapi panggilan dengan gambar kekerasan sambil memberikan perintah. Bila pemain menolak untuk mengikuti perintah permainan, maka dirinya bisa merasa terancam. (okezone.com, 04/08/2018)

Dikabarkan Challenge ini telah merenggut nyawa seorang gadis berusia 12 tahun di Argentina. Sebagaimana di lansir oleh cnn.indonesia.com, 07/08/2018, bahwa polisi di Argentina sedang melakukan investigasi keterkaitan Momo Challenge dengan kasus bunuh diri yang dilakukan oleh anak perempuan berusia 12 tahun.

Anak perempuan ini merekam seluruh aktivitasnya sampai akhirnya ia menggantungkan dirinya di pohon yang terletak di rumah belakang rumahnya. Pihak otoritas menduga ada pihak yang mendorong anak perempuan ini untuk melakukan bunuh diri.

Melihat cara kerja Momo Challenge ini, mengingatkan pada Blue Whale Challenge  yang juga merupakan tantangan yang mengajak orang untuk melakukan bunuh diri di tantangan hari ke-50. Korbannya tak tanggung-tanggung mencapai sekitar 130 orang.

Sampah Peradaban Kapitalis
Remaja adalah  tonggak estafet generasi.  Ditangan merekalah nasib  masa depan umat dan bangsa. Namun, kini kondisi remaja sangat memprihatinkan. Kebebasan memenuhi tingkah laku para remaja. Berbuat semaunya tanpa batasan. Demi sebuah keeksisan diri.  Ingin 'dianggap' dikalangan mereka. Berbagai aktivitas dan aksi-aksi nirfaedah mengisi hari-harinya. 

Termasuk challenge-challenge yang viral. Tak peduli lagi apakah ini baik, menguntungkan, merugikan ataupun berbahaya.

Kapitalisme dengan asas sekulerismenya telah berhasil merusak generasi muslim. Menjauhkan agama dari kehidupan, menyebabkan terjadinya kemerosotan akidah yang  membuat mereka semakin jauh dari  agamanya. Krisis identitas pun melanda generasi. Muslim, tapi tak nampak sebagai seorang muslim. Tak lagi menjadikan agama sebagai acuan dalam berprilaku dan bertindak. 

Ditambah adanya kebebasan berprilaku, membuat remaja mau melakukan apa saja meskipun itu melanggar aturan-Nya. Suguhan beragam budaya dan pemikiran barat mereka terima, yang tidak lain merupakan sampah peradaban kapitalis.

Termasuk tantangan dalam permainan semacam Momo Challenge ini, merupakan salah satu produk liberal kapitalis yang tujuannya untuk merusak generasi muslim. Dampak dari permainan ini sangatlah merusak, sebab membahayakan diri hingga menghilangkan nyawa.

Menghilangkan nyawa sendiri atau bunuh diri hukumnya haram, para ulama telah sepakat dalam hal ini bahwa dosa pelaku bunuh diri lebih besar ketimbang membunuh orang lain. Sebagian ulama berpendapat: "Jasad pelaku bunuh diri tidak boleh dimandikan dan disholatkan sebagaimana pelaku bughot." (Fathul Baari 3/227)

Di dalam Al Qur'an, juga terdapat dalil keharaman bunuh diri, yaitu firman Allah:

 "Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil (tidak benar), kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sungguh, Allah Maha Penyayang kepadamu." (QS. An Nisa: 29)

Jika, hal ini sampai terjadi pada generasi muslim, maka terjadinya lost generation adalah hal yang mungkin. Generasi muda digambarkan sebagai generasi yang penuh semangat, masa yang berapi-api. Sayangnya, dengan adanya ide liberalisme (kebebasan) hasil dari ideologi kapitalisme sekuler membuat generasi jauh dari pemahaman yang benar (Islam).

Terwujudnya generasi yang tangguh, kokoh, visioner, kreatif dan inovatif tidak akan lahir dari peradaban ini. Yang ada hanyalah generasi yang pemalas, tak jelas arah tujuan hidup, hedonis, materialisme dan lain sebagainya.

Peradaban Islam Penyelamat Generasi
Selama ribuan tahun lamanya, terbukti Islam mampu menghasilkan generasi hebat dambaan umat. Di usia yang belia, pemudanya telah berhasil menorehkan tinta emas dalam sejarah, mengharumkan nama Islam, menjadikan Islam sebagai peradaban yang tiada bandingannya.

Dengan kekuatan iman yang mereka miliki, memperjuangkan dan mendakwahkan Islam. Waktu mereka, siang dan malam, habis hanya untuk memikirkan Islam. Tak ada waktu yang sia-sia bagi mereka sebab manisnya iman telah merasuk dalam jiwanya.

Sebut saja, Usamah Bin Zaid yang saat itu masih berusia 18 tahun diangkat oleh Rasulullah SAW sebagai komandan pasukan dalam penaklukkan kota Syam. Imam Syafi'i diusia 9 tahun telah menghafal Al Qur'an. Ibnu Sina yang terkenal sebagai bapak kedokteran muslim, diusia 5 tahun juga sudah menghafal Al Qur'an.

Al Fatih, diusia muda telah mampu menaklukkan Konstantinopel. Zaid bin Tsabit diusia 13 tahun memberanikan diri mendaftar jihad yang kemudian diperintahkan mengumpulkan Wahyu diusia 21 tahun. Dan masih banyak generasi muda lainnya di era kejayaan Islam. Mereka adalah para generasi militan. Hingga kini harumnya nama mereka masih terngiang.

Islam sebagai agama yang tak hanya mengatur kehidupan ritual belaka, tetapi juga seluruh aspek kehidupan terbukti telah mampu menghasilkan peradaban yang mulia melalui tangan para generasinya. Kualitas generasi muslim adalah hal yang utama dan menjadi perhatian yang serius.

Menanamkan keimanan yang kokoh dan ketakwaan kepada pencipta-Nya adalah poin penting dalam pendidikan Islam. Dengan keimanan yang kokoh inilah yang mendorong umat Islam mengkaji teknologi dan ilmu pengetahuan. Dapat dikatakan bahwa keimanan adalah dasar keilmuan seseorang.

Pertanyaan mendasar dalam kehidupan manusia yaitu, darimana manusia berasal? Untuk apa hidup di dunia? Akan kemana setelah kehidupan? Islam telah menjawabnya dengan mustanir.

Dan mampu menyelesaikan segala problematika manusia. Dengan dasar inilah, keimanan yang kokoh merasuk ke dalam jiwa umat Islam yang kemudian menjadikan Islam sebagai standar dalam berpikir dan berbuat. Terbentuknya kepriabdian Islam  melalui pola pikir dan pola sikap yang Islami yang berlandaskan pada akidah Islam.

Yang kemudian mampu menghantarkan mereka menjadi pribadi pemimpin, pribadi yang memiliki rasa tanggung jawab terhadap apa yang dipimpinnya. Baik dalam dirinya, keluarga, masyarakat bahkan umat seluruh dunia. Paham bahwa hidup penuh amanah yang kelak akan dipertanggungjawabkan.

Dengan demikian, penanaman akidah Islam hingga mengakar dalam diri anak-anak muslim adalah sangat penting. Sebab, ini akan menyelamatkan mereka dari hal-hal yang tak berfaedah. Senantiasa menjauhkan diri dari hal yang bisa membahayakannya termasuk segala aktivitas dan challenge-challenge hasil peradaban sekular yang menakutkan. Sehingga, generasi pun terselamatkan.[MO/sr]




















Posting Komentar