Oleh: Hana Annisa Afriliani, S.S
(Pengamat Sosial)

Mediaoposisi.com- Pekik kemerdekaan menggema di seluruh penjuru negeri. Semua bersuka cita merayakan hari jadi Republik Indonesia. Mulai dari anak-anak hingga para lansia terlibat dalam euforia mengikuti 17an.

Namun ada yang terlupa, bahwa pekik merdeka yang digaungkan tak seindah realita. Karena faktanya, negeri ini terpasung derita. Hutang negara yang kian menggunung menjadi salah satu bukti bahwa negeri ini belum sepenuhnya merdeka.

Bank Indonesia (BI) mencatat Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada kuartal pertama tahun ini mencapai US$387,5 Miliar atau sekitar Rp5.425 triliun (kurs Rp14 Ribu per dolar AS). Angka tersebut naik 8,7 persen dibanding periode yang sama tahun lalu US$330,04 miliar. (Cnnindonesia.com/15-05-2018)

Sayangnya pemerintah justru mengklaim, utang luar negeri adalah upaya untuk mendorong kemajuan pembangunan insfrastruktur. Padahal sejatinya, utang luar negeri kelak akan menghancurkan sebuah negara.

Bagaimana tidak, negara akan tersandera oleh pihak yang memberi hutang. Akibatnya negara tak lagi mandiri menentukan segala kebijakan. Semua akan berjalan sesuai arahan negara pemberi hutang, terutama dalam aspek perekonomian dan politik. Sungguh ironis.

Hal ini bukannya tanpa bukti. Negara yang tersandera hutang tak akan mencapai 'kemerdekaan' yang hakiki. Contohnya, Zimbabwe, Nigeria, Sri Lanka dan Pakistan. Mereka adalah negara-negara yang gagal membayar hutang kepada China. Konsekuensinya beragam, mulai dari mengganti mata uang menjadi Yuan hingga menukar pelabuhan dengan utang.

Begitu juga yang terjadi pada Yunani. Ia resmi menjadi negara bangkrut karena tidak mampu membayar utang sebesar USD 1,7 miliar atau setara Rp 22,7 triliun ke International Monetary Fund (IMF) yang jatuh tempo pada 30 Juni 2015 lalu. 

Jadi, alangkah berbahayanya jika suatu negara tersandera hutang. Lebih-lebih hutang berbasis riba. Dan mirisnya negara dengan mayoritas penduduknya adalah muslim seperti ndonesia pun melakukannya. Jelas jauh dari keberkahan, sebab syariat telah mengharamkan riba.

 Sinyal-sinyal ancaman terhadap negeri ini akibat hutang telah banyak diperingatkan oleh beberapa kalangan, di antaranya Ekonom Senior Institute for Development for Economics and Finance (Indef), Faisal Basri.

Pada akhir Maret 2018 lalu, beliau mengatakan bahwa pemerintah mengobral utang dengan Surat Berharga Negara (SBN) yang dimiliki pihak asing. Ini jelas berbahaya. Negara akan terus bergantung pada suku bunga asing, ungkapnya. (Tempo.co/21-03-2018)

Maka alangkah kita telah terjebak dengan pekik merdeka sementara realitasnya negeri ini masih terjajah. Terkungkung dalam jeruji sistem kapitalis yang perlahan tapi pasti mampu merobohkan negeri.

Oleh karena itu, kita harus secepatnya menyadari untuk tak sekadar larut dalam euforia seremonial tahunan, namun lupa berbenah diri. Aset negara dikuasai asing, perpolitikan disetir asing, lapangan pekerjaan diserbu asing, bahkan pemikiran generasi muda pun massif disusupi ide-ide asing.

Dampaknya bisa kita lihat realitanya hari ini, generasi muda larut dalam gaya hidup liberal nan permisif. Lupa jati diri. Sibuk raih eksistensi. Memuja syahwat, mengabaikan syariat. Maka kasus kriminalitas dan amoral ramai menjerat generasi. Sungguh memprihatinkan!

Lantas, masihkah kita bangga teriak merdeka sementara berbagai polemik begitu deras menerpa negeri? Masihkan kita lantang memekik "merdeka!" sementara ada realitas suram yang menanti cahaya perubahan?

Sungguh, kita harus bergerak, berjuang memperbaiki negeri demi terwujudnya kemerdekaan yang hakiki. Tiadalah yang lain kecuali jika kita menerapkan Islam secara kaffah dalam setiap aspek kehidupan. Sebab sejatinya Islam adalah rahmat bagi seluruh alam.[MO/sr]

Posting Komentar