Oleh: Nurhayati
(Mahasiswa, Aktivis Dakwah Kampus)

Mediaoposisi.com-Kita telah merdeka. Benar. Merdeka dari penjajahan. Negeri kita tidak lagi diperintah oleh bukan selain kita. Kita berkuasa atas tanah kelahiran ini dan kita bebas menentukan akan dibawa kemana masa depan negeri tercinta ini. Kemerdekaan kita telah memasuki usia senja. Bersyukur kita sebab para pemuda tak lagi merasakan dijajah.

73 tahun lamanya terbebas dari segala bentuk penindasan. Tak ada lagi Belanda, tak ada yang namanya Jepang. Yang ada ialah negara kesatuan republik Indonesia yang merdeka sejak diproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945.

Bung… aku bertanya-tanya. Apa arti kemerdekaan bagimu? Apakah cukup dengan Belanda dan Jepang hengkang dari tanah air lalu kita berkuasa atas tanah kita, kemudian itu yang kau sebut merdeka? Bung, jawab pertanyaanku. Berartikah merdeka ketika kita belum sejahtera?

Jika merdeka berarti terbebas dari segala bentuk penjajahan dan penghambaan maka semua sepakat, terhitung sejak 17 Agustus 1945 kita telah meraih kemerdekaan secara resmi. Merdeka dari fisik yang tak lagi diperintah asing.

Namun jika kita tela’ah apa yang menjadi tujuan asing menjajah negeri kita, diketahui bahwa mereka menjajah dengan mengeruk sumber daya alam untuk dibawa pulang kenegerinya. Tujuan asing menjajah ialah menjarah harta kekayaan negeri yang dijajah.

Bung, adakah kau dapati tujuan penjajah dahulu menjajah kita kini telah sirna bersama kepergian mereka? Atau pertanyaannya, benarkah pasca kemerdekaan tersebut, negeri kita benar-benar didaulat atas hak milik kita? Bung, yang kudapati hidup kita masih bergantung pada asing.

Dan asing melanggeng bebas ditanah kita tanpa perlu menjajah. Kurasa itu lebih kejam dari sekedar penjajahan.

Apa arti kemerdekaan bagimu bung? Dengan segala perayaan dihari kemerdekaan, bendera kebanggan berkibar dimana-mana, media-media menayangkan nostalgia romantisme detik-detik menjelang proklamir ‘merdeka’. Apa arti semua tersebut? Kenyataannya asing tak benar-benar pergi dari negeri ini.

Kusaksikan hidup tak menjadi lebih baik pasca merdeka. Ditanah kita asing masih berjaya, kemiskinan meraja lela, penguasa ibarat budak elit politik penjajah.

Dari sisi mana yang bung maksud merdeka itu? Pendidikan terbelakang, pemuda tak memiliki daya juang. Kita hidup dengan bergelimpangan anugerah kekayaan yang tumpah ruah dari langit, namun kita menderita dirumah sendiri. Kemana perginya harta kita? Di ekspor ketanah asing.

Bung, bisa kau jelaskan apa keuntungan meraih kemerdekaan? Karena yang kudapati, hidup kita tak menjadi lebih baik pasca merdeka. Yang berubah hanyalah status perbudakan oleh Jepang. Selebihnya, kita masih tertatih dalam payah, berusaha mendefinisi arti kata sejahtera. Maaf saja bung, sepertinya kita tidak satu suara.

Merdeka yang kau maksud bukan merdeka dalam arti yang kuketahui. Merdeka dalam definisimu tak berarti merdeka dalam pengamatanku. Aku ingin kemerdekaan yang hakiki bung. Rakyat terlalu letih dengan nostaligia kemerdekaan. Rakyat dan aku, kami rindu hidup sejahtera dibawah naungan khilafah.

Dalam Islam, merdeka berarti terbebas dari segala bentuk penghambaan terhadap ‘tuhan-tuhan’ lain dan hanya menyembah kepada Allah SWT. Bung, ketika kita masih membebek pada asing, merasa mampu hidup dengan tanpa aturan sang pencipta, merdeka kah kita?

Belajarlah makna kemerdekaan dari kisah nabi Ibrahim yang mencari tuhannya, bagaimana kisah nabi Yusuf mengajarkan bahwa menuhankan manusia membuat hidup jadi sengsara.

Kemudian Rasulullah yang mencontohkan bahwa hidup dibawah naungan khilafah, membumikan Islam sebagai syariat dalam segala tatanan membuat hidup menjadi sejahtera dan menjadi bangsa besar yang disegani dunia. Belajarlah dari kisah sukses kemerdekaan para anbiya.

Bung, merdeka saja tidak cukup. Setelah meraih kemerdekaan hendak dibawa kemana negeri ini? jika setelah merdeka masih saja percaya dengan tipu daya kafir penjajah, itu sama saja terjajah setelah merdeka.

Merdekamu hanya semboyan, tak berarti apa-apa. Tengoklah bagaimana mereka bebas menguasai tambang-tambang yang ada ditanah ini, tengok bagaimana mereka leluasa mengobok-obok sistem pemerintahan kita, tengok bagaimana cara mereka mendekti sistem pendidikan kita. tengok sekelilingmu, tengok semuanya.

Kau hanya perlu membuka mata dan menyadari bahwa kita masih terkungkung dengan janji manis kemerdekaan. Kenyataannya kita belumlah benar-benar menjadi manusia yang merdeka. [MO/sr]

Posting Komentar