Oleh: Mira Susanti 
(Aliansi Penulis Perempuan Untuk Generasi)

Mediaoposisi.com-Tinggal hitungan hari lagi negeri kita tercinta Indonesia kembali memperingati detik-detik kemerdekaan yang ke 73 tahun. Menjelang satu abad sudah bangsa ini mendapatkan predikat sebagai sebuah bangsa yang merdeka.

Suasananya pun dapat dirasakan dan  terlihat jelas bahwanya di setiap pelosok negeri ini baik di kota maupun di desa,sebagian besar  rakyat Indonesia menyambutnya dengan semangat 45.  Bahkan setiap rumah , kantor,sekolah,kampus,dan jalanan juga tidak ketinggalan dipenuhi dengan pemasangan atribut- atribut serta pengibaran sangsaka merah putih.

Perlombaan demi perlombaan juga ikut serta menambah semarak untukvmemeriahkan suasana hari kemerdekaan ibu pertiwi.  Dengan harapan agar generasi bangsa ini tidak melupakan semangat perjuangan para pahlawan bangsa dalam merebut kemerdekaan bangsa ini dari tangan penjajahan asing.

Meskipun hal itu  tidak dapat mewakili besarnya pengorbanan yang di curahkan  oleh para pahlawan kita dibandingkan dengan semangat yang dicurahkan oleh generasi penerus bangsa ini.

Contoh berbagai ajang perlombaan yang dilakukan  seperti halnya lomba tarik tambang eh malah diam ketika semua tambang kita ditarik oleh asing,lomba balab karung,panjat pinang,makan kerupuk dan lain sebagainya ,hampir setiap tahunnya selalu sama.Karena itu terbukti bagaimana rapuhnya  generasi bangsa ini dalam mempertahankan, mengisi serta memaknai arti dari sebuah kata "merdeka".

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) bahwa kata "Merdeka" diartikan  bebas (dari penghambaan,penjajahan dan sebagainya) berdiri sendiri,  tidak terkena atau lepas dari tuntutan, tidak bergantung pada orang atau pihak tertentu. Pertanyaannya apakah negeri ini benar-benar sudah layak dikatakan merdeka dalam makna yang sesungguhnya? 

Sementara rakyatnya masih banyak yang hidup beralaskan tanah dan beratap langit. Bahkan himpitan kehidupan yang begitu berat tak mampu mereka lawan dengan cucuran keringat setiap hari. Lalu apa sebenarnya arti dari kata merdeka yang telah diperoleh negeri ini selama puluhan tahun? Adakah yang salah dengan negeri ini?.

Sering kali generasi bangsa ini terbuai dengan semangat sesaat,dimana setiap kali memperingati hari kemerdekaan itu mereka justru menampilkan wajah-wajah penuh kedunguan seperti orang yang tak sadar kalau mereka masih terjajah dalam berbagai aspek kehidupan.

Kata merdeka hanya sebuah ilusi yang membius rakyat tetapi sejatinya mereka berjuang demi kepentingan penjajah asing.dan bahkan mencampakan harga diri mereka sebagai sebuah negara yang dinyatakan telah merdeka selama puluhan tahun.

 Kalau kita cermati ,Merdeka tidak hanya soal kata tapi harus sesuai dengan fakta yang dihadapi oleh bangsa ini yang pada hakikatnya   masih terjajah. Dengan  bentuk penjajahan gaya baru (Imprealisme) yang merupakan bentuk politik suatu bangsa untuk menguasai bangsa lain demi kepentingan negara penjajah.

Awalnya memang  mereka menjajah kita  dengan kekuatan fisik atau menggunakan kekuatan militer serta memporak porandakan seluruh wilayah jajahannya. Sehingga mereka dengan leluasa mengambil seluruh harta dan kekayaan alamnya. Walhasil semua bisa diusir oleh para pahlawan bangsa ini.

Justru saat ini kemerdekaan selama 73 tahun yang diperoleh bangsa ini hanyalah merdeka dari bentuk penjajahan secara fisik. Namun penjajahan gaya baru yang sesungguhnya itu justru lebih berbahaya dan mematikan,Secara perlahan- lahan menghantarkan daerah jajahannya di depan gerbang kehancuran dengan liciknya permainan politik kaum penjajah terhadap wilayah jajahannya.

Yaitu dimana setiap kebijakan yang dibuat oleh bangsa ini berada dibawah bayang-bayang pihak asing(negara imprealis).melalui undang-undang seperti IMF dan world Bank yang merupakan senjata ampuh mereka.

Bahkan kekayaan sumber daya alam bangsa ini di ekploitasi besar-besaran oleh bangsa lain dengan cara menanamkan perusahan- perusahan mereka  baik dari sektor hilir maupun hulu mereka kuasai dengan rakusnya tanpa tersisa sedikitpun.

Maka wajar pada akhirnya rakyat bangsa ini mengalami berbagai goncangan dalam kehidupan saat ini meskipun telah merdeka selama 73 tahun.

Namun penderitaan,kemiskinan,kebodohan,penindasan,kezaliman dan perbudakan,justru tidak pernah sirna dari kehidupan mereka. Sekalipun negeri ini terkenal dengan seluruh kekayaan alamnya yang melimpah ruah tapi rakyatnya hidup bergelimpangan air mata penuh derita yang mengurita.

Ibarat anak ayam yang hidup dilumbung padi namun ia mati kelaparan. Seperti itulah fakta kemerdekaan penuh derita yang dirasakan oleh bangsa ini.

Akankah derita ini berubah menjadi sejahtera layaknya impian hakiki setiap jiwa yang hidup dibawah naungan sebuah negara yang makmur dan kaya raya? Apakah itu sekedar harapan yang utopis, tentu tidak! Kemerdekaan hakiki akan terwujud tatkala manusia terlepas dari segala bentuk penghambaan dan perbudakan oleh sesama manusia.

Dan betul- betul mengembalikan hak dalam penetapan aturan hukum hanya kepada Zat yang maha kuasa yaitu Allah SWT dan RasulNya SAW. Dengan cara penerapan syariah islam secara kaffah dalam aspek kehidupan. Sehingga fakta  derita bangsa ini akan sirna dan kemerdekaan hakiki bisa dimiliki seutuhnya.[MO/sr]




Posting Komentar