Oleh : Bagas Kurniawan
('Aliwa Institute)

Mediaoposisi.com- Melihat keputusan Capres dan Cawapres yang maju dalam Pilpres 2019, sudah dimulai. Semua pasangan memantapkan posisi dengan mengumumkan Cawapres masing-masing. Mempertemukan calon petahana dan juga lawan yang sama seperti Pilpres tahun 2014.

Menggandeng nama Ulama, dan yang satu ingin meraup suara menarget kaum pemuda milenia. Dengan demikian, tibalah saatnya masyarakat ditontonkan dengan berbagai macam opini dan strategi politik untuk memilih siapa diantara keduanya yang layak dan mampu bisa mengatasi berbagai kerusakan tatanan negara.

Sementara, rezim sebelumnya banyak yang mengatakan bahwa ia anti Islam. Dengan mengeluarkan berbagai kebijakan untuk membungkam dan menghentikan dakwah Islam.

Salah satu dosa yang hingga kini masih menjadi bomerang bagi petahana adalah membubarkan kelompok dakwah dengan produk Perrpu Ormas. Dan menangkapi aktivis dakwah berkaitan dengan Ulama yang lantang membongkar kedzaliman pemerintah.

Apakah ada anggapan lain, dengan memilih Cawapres dengan beakground Ulama akan mendongkrak suara ? Atau justru Ulama hanya dijadikan stampel penguasa untuk meraup suara umat Islam ?

Seperti saat ini kita ketahui, bahwa Ulama adalah sosok yang senantiasa kita jadikan rujukan fatwa, menjadi panutan agar hidup yang kita jalani tidak terjerumus kepada lumuran dosa. Sehingga tidak teekategori masuk kedalam kerak neraka.

Ulama memang mempesona, akhlak dan tutur bicaramu membuat kami ingin di pimpin ulama,  dan bersiap terhadap ajaran Islam dengan seperangkat aturan sempurna. Inilah yang sesungguhnya umat Islam rindukan kehadirannya.

Membaca arah, dari kedua pasangan calon. Ada yang beranggapan bahwa Ulama adalah seseorang yang senantiasa dapat menyelesaikan berbagai macam persoalan, termasuk terpaan ekonomi yang saat ini sedang sakit dan harus segera di amputasi.

Serta menjadi tantangan bagi kubu lawan, yang juga harus mempunyai solusi atasi terpaan dan goncangan kemiskinan, kelaparan dan juga korupsi yang banyak menyeret nama-nama petinggi negeri. Salah satunya adalah kondisi yang semakin lama semakin tidak tau dan harus bagaimana keluar dari zona keterpurukan.

Bila Ulama memang harus turun menjawab semua keluh dari warga, dan selesaikan ketimpangan demi wujudkan cita, maka harus sadar bahwa tidak ada yang harga mati, kecuali Islam dan peraturannya.

Menjawab persoalan dengan tidak menjadikan Islam sebagai solusi, tinggal menunggu kekacauan di kedepan hari, apakah lupa dengan ayat suci Qur'ani. Sehingga terlena dalam pesta demokrasi ?

Wahai Ulama dan tentara, kekuasaan yang Anda rebutkan dalam rangka siapa yang berkuasa, akan menjadi pertanggung jawaban dihadapan Sang Maha Pencipta. Aturan yang nanti akan Anda legalkan menjadi bukti di hadapan-Nya, dan tidak akan bisa berdusta.

Menggandeng Ulama demi meraup suara, jangan sampai salah dalam mengambil langkah, tentukan pilihan jaga kebersihan iman dan ketakwaan.[MO/sr]

Posting Komentar