Oleh: Ummu Tsabita
(Pegiat Sekolah Bunda Sholiha, Malang)

Mediaoposisi.com-Lombok – Nusa Tenggara Barat diguncang dua gempa bumi dalam waktu berdekatan. Pertama, gempa dengan kekuatan 6,4 Skala Richter terjadi pada 29 Juli 2018. Sepekan kemudian, terjadi lagi dengan kekuatan lebih besar, 7 SR,  pada Minggu petang, 5 Agustus 2018. 

Labih dari  90 orang meninggal dunia akibat dampak lindu kedua, jauh lebih banyak dari gempa sebelumnya yang menelan 20 korban jiwa.   Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho, mengatakan wilayah terparah yang mengalami dampak gempa adalah Lombok Utara. (Liputan6.com , 6/8/2018).

Simpati masyarakat pun tertumpah bagi para korban.  Berbagai upaya untuk menolong korban digalang  Di media sosial, tagar #PrayForNTB digaungkan netizen.  Ternyata ada beberapa pihak juga mengaitkan gempa Lombok dengan situasi politik nasional,  jelang Pilpres 2019.  Beredar isu bahwa rentetan bencana alam yang melanda merupakan akibat dari sikap politik tokoh tertentu. 

Yang mereka maksud adalah Gubernur NTB, Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB).   Isu  berhembus diduga dari  netizen  yang kontra dengan sikap politik ini.
Seperti diketahui , TGB mendeklarasikan dukungan kepada petahana  untuk kembali maju menjadi capres pada Pilpres 2019. 

Keputusan ini menggemparkan Tanah Air,  sebab   sebelumnya TGB merupakan bagian dari tim  pemenangan Prabowo Subianto yang menjadi lawan Jokowi pada Pilpres 2014. Sehingga tak sedikit dari pendukung TGB yang akhirnya menyesali dan menghujat keputusan tersebut.

Apakah benar dua fenomena ini memiliki hubungan?
Menurut Sutopo Purwo Nugroho, penyebab gempa Lombok 7,0 SR berjenis gempa dangkal. Episenter darat gempa berkedalaman 15 km pada 18 km barat laut.   "Jenis gempa dangkal ini akibat aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Arch Thrust) , dibangkitkan deformasi bantuan dengan mekanisme pergerakan naik," kata Sutopo di Kantor BNPB, Jakarta Timur, Senin (6/8/2018).

Sutopo menerangkan, kerawanan gempa merupakan akibat pergerakan Sesar Naik Flores di Lombok Utara.  Menurut dia, di Flores hingga Lombok terdapat patahan atau sesar yang memanjang.  Sesar merupakan retakan pada batuan di lempeng kerak bumi yang telah mengalami pergeseran.

Tidak semua retakan disebut sesar. Sebuat retakan dinyatakan sebagai sesar jika ada pergeseran dari batuan yang retak. Jika pergeseran terjadi secara tiba-tiba, energi yang dilepaskan dapat menyebabkan gempa bumi.

Sejumlah ahli kegempaan yang ditemui salah satu media terkait isu panas di atas.  Mantan Kepala Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Surono, menepis anggapan tersebut.

"Indonesia itu kalau enggak heboh enggak seru. Ibarat nonton film, kalau enggak ada tembak-tembakan atau perangnya, enggak seru. Pilpres pun kalau enggak heboh ya enggak seru. Kalau bisa diseru-serukan, semua ditarik-tarik," kata dia .

Beliau menegaskan bahwa Lombok memang daerah rawan gempa. "Apa gara-gara ada kabar itu terus terjadi gempa?  Kan tidak. Memang daerah itu sering terjadi gempa, mau ada pilpres atau tidak, dari dulu ada gempa. Tak usahlah bikin kaya gitu, kasihan masyarakat, sudah sengsara dikaitkan lagi dengan politik."

Sementara, ahli geologi dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI),  Dr Danny Hilman Natawidjaja mengatakan, pengaitan gempa dengan politik atau bisa juga dengan  klenik terkait erat dengan pengetahuan masyarakat yang masih minim.

"Harus ada edukasi yang lebih mendasar, mungkin dari SD murid sudah diajarkan gempa itu apa, jadi semua orang jadi tahu. Masyarakat teredukasi gempa itu apa, sehingga kepercayaan-kepercayaan itu dengan sendirinya tidak akan ada lagi," kata dia. Seperti di Jepang, misalnya, pengetahuan  tentang gempa sudah diajarkan sejak dini.

Betul , semua merupakan fenomena alam, ada penjelasan ilmiahnya.  Tapi tidakkah kita sadar bahwa seluruh kejadian di alam semesta  ada ‘tangan’ yang mengaturnya?  Karena semua itu tidak muncul dengan sendirinya. 

Kita tentu tak boleh lupa, bahwa seluruh jagad raya berada dalam genggaman Sang Khalik (Pencipta) , Allah SWT.  Kurang lengkap kiranya, melihat fenomena alam tanpa memahami sunnatullah (hukum alam) di dalamnya.

Allah berfirman : “Dan kamu lihat gunung-gunung itu kamu sangka dia tetap di tempatnya, padahal gunung-gunung itu bergerak sebagaimana awan bergerak. (Begitulah) perbuatan Allah yang membuat dengan kokoh segala sesuatu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan”. ( TQS. Al-Naml : 88).

Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi. Silih bergantinya malam dan siang. Berlayarnya bahtera di laut yang membawa apa yang berguna bagi manusia.  Dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu Dia hidupkan bumi sesudah matinya (kering).  Dan Dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan .  Dan pengisaran air dan awan dikendalikan antar langit dan bumi.  Sesungguhnya (semua itu) terdapat tanda-tanda  (Kekuasaan Allah) bagi kaum yang memikirkan. “ (TQS. Al Baqarah : 164).

Sungguh manusia yang beriman kepada Allah dan meyakini adanya aturan di alam semesta yang sudah digariskan-Nya , tentu melihat gempa di Lombok dengan kacamata iman.   Sungguh Islam telah menjawab dengan jelas.

Gempa di Lombok : Bukan Azab Allah
Sebagian orang beranggapan bahwasanya terjadinya bencana adalah azab atau hukuman Allah  atas banyaknya kemaksiatan yang terjadi. Korupsi , pergaulan bebas, judi, riba, dan banyak kemaksiatan lainnya. 

Terkait gempa di NTB , diklaim sebagai hukuman dari-Nya atas sikap penguasa daerah yang mendukung rezim , yang -bukan kebetulan- track record nya sangat anti terhadap Syariah Islam dan terhadap para ulama yang hanif.

Dukungan terhadap rezim anti Islam dan kemaksiatan yang lain di bumi pertiwi , memang menjadi fenomena yang memprihatinkan.  Namun bencana alam bukanlah azab Allah terkait ketidaktaatan dan pilihan politik tersebut.   Sesungguhnya Allah SWT telah  berfirman: 

Jikalau Allah menghukum manusia karena kezalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatu pun dari makhluq yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai pada waktu yang ditentukan”. (TQS. An Nahl : 61)

Ayat di atas telah menjelaskan bahwa jika Allah  mengazab manusia karena kedzalimannya, niscaya tidak akan ada binatang melata pun yang akan hidup pasca bencana itu, sebagaimana azab yang ditimpakan kepada ummat nabi – nabi sebelum Nabi Muhammad SAW. 

Misalnya kaumnya Nabi Luth yang homoseks  diazab Allah dengan dihujani batu hingga binasa.  Kaum Nabi Nuh ditimpa banjir bandang yang sangat besar.  Semua peristiwa tersebut menampakkan kedahsyatan , sehingga tidak satu pun makhluq yang tersisa kecuali  yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.

Berbeda dengan bencana yang dialami kini, termasuk gempa di Lombok. Sebesar apapun bencana yang terjadi, masih banyak orang yang bisa menyelamatkan diri. Diantara para korban terdapat orang-orang yang ingkar pada Allah, ahli mksiat.

Ada juga korban dari kalangan orang – orang yang beriman , bahkan bisa jadi anak-anak yang belum baligh dan belum berdosa. Misalnya, tewasnya dua santri Pondok Pesantren Al Aziziyah, Kapek Lombok Barat, yang ketika gempa terjadi sedang melaksanakan sholat subuh berjamaah. (jawapos.com ,6/8/2018) . 

Artinya bencana tersebut tidak ditujukan atas ingkarnya manusia terhadap Allah, namun oleh faktor lain.   Sungguh Allah SWT akan menangguhkan azab kepada ummat Nabi Muhammad yang bermaksiat hingga saat di akhirat kelak.

Namun harus disadari, bahwa bencana yang menimpa ahli maksiat merupakan teguran dari Allah.  Allah SWT berfirman, ”Jikalau sekiranya penduduk negeri  beriman dan bertakwa, pastilah kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat kami) itu, maka kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al A’raf, 7: 96). 

Semoga dengan teguran ini , mereka akan bertaubat. Kembali menjadi menjadi hamba yang bertaat.
Sedangkan bagi yang beriman, maka  bencana dan musibah adalah ujiaan.  Jikalau mereka bersabar atas ujian itu niscaya Allah akan mengangkat derajat mereka.  Sebagaimana firman Allah: 

Apakah manusia itu mengira bahwa mereka akan dibiarkan begitu saja mengatakan:  Kami telah beriman, sedang mereka tidak diuji lagi?” ( TQS. Al-Ankabut : 2). 

Kalau pun mereka menemui ajalnya saat itu, dalam keadaan bertaat kepadaNya maka ini adalah husnul khotimah (akhir yang baik).

Di bagian ini , siapapun kita harus selalu introspeksi.  Karena  selama hidup di dunia selalu ada kemungkinan kita bermaksiat kepada Allah.  Bisa jadi ketika kita mendukung orang-orang dzalim untuk menjadi penguasa, agar dia bisa menguasai seluruh kekayaan umat.

Menyerahkannya kepada para penjajah Kafir.   Ini bukan sekedar pilihan politik biasa, tapi bisa menjadi penyesalan bagi kita di Yaumul Hisab kelak.

Bencana Karena Manusia Salah Kelola
Beberapa kasus bencana kadang juga disebabkan peran manusia yang telah merusak alam ini. Sebagaimana terlihat pada bencana banjir bandang di di beberapa wilayah di Indonesia. Akibat gundulnya hutan, hujan deras mengakibatkan banjir bandang, tanah longsor dan jatuhnya ribuan kubik kayu gelondongan menghantam daerah kaki gunung. 

Atau yang cukup fenomenal, bencana Lumpur Lapindo di Porong Sidoarjo  tahun 2006 lalu. Walaupun ada sebagian ahli mengatakan semburan lumpur adalah fenomena alamiah, namun Wahana Lingkungan Hidup (Walhi)  bersikukuh itu adalah human error yang menimbulkan banyak kerugian bagi masyarakat. 

Lebih ironis, adalah dampak ikutan selain hilangnya  harta benda karena rendaman lumpur , yaitu adanya  kandungan logam berat dan hidrokarbon yang sangat tinggi , yang mencemari sumur warga yang tinggal di sekitar tanggul. (voaindonesia.com , 30/5/2018).    Semua karena ulah manusia  yang memperlakukan alam dengan buruk dan serampangan.

Sungguh alam ini telah diciptakan oleh Allah untuk dianugerahkan kepada manusia supaya dimanfaatkan dengan baik sesuai tuntunan syariah Allah.  Tapi karena diterapkannya ideologi Kapitalis Liberal di negri ini, keserakahan manusia mendorongnya untuk memanfaatkan alam secara liar, tanpa aturan dan hanya memikirkan keuntungan materi saja.

Akibatnya ekosistem terganggu dan bencana pun datang. Allah SWT berfirman , “Telah nampak kerusakan di darat  dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada  mereka  sebahagian dari perbuatan  mereka,  agar mereka kembali.”   (TQS. AR-Ruum: 41).

Kebebasan kepemilikan dari ideologi Kapitalis telah membuat para penguasa di negri-negri muslim, mempersilakan swasta lokal maupun asing untuk mengeksploitasi kekayaan sumber daya alam (SDA) yang dimiliki rakyat.   Padahal Islam telah menjadi SDA sebagai kepemilikan umum, yang harus dikelola negara. 

Sehingga seluruh hasilnya bisa dinikmati rakyat, atau bisa untuk membangun infrasrtuktur yang menjadi kebutuhan masyarakat. Penguasa tidak akan berani serampangan dalam mengelola, kalau dia sadar akan dimintai tanggung jawab di hadapan Allah. Namun sayang, saat ini penguasa dan masyarakat secara umum masih belum sadar pentingnya mengelola alam sesuai Syariah.

Maka yang jadi korban dari bencana akibat salah kelola ini umumnya adalah rakyat kecil .  Adapun para pengusaha yang merusak hutan, mengeksplotasi daratan dan lautan,  serta para pejabat korup yang memberi ijin eksploitasi alam secara serampangan justru tidak merasakan bencana yang diakibatkan oleh kerusakan alam yang mereka buat. 

Mereka hidup enak,  jauh dari lokasi bencana dan bebas dari tuntutan hukum karena tidak ada hukum kapitalis yang mampu menjerat mereka. Aturan dibuat oleh para penguasa sendiri sehingga menguntungkan para pemodal dan menafikan keadaan rakyat. 

Penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan. Dan peliharalah dirimu dari pada siksaan yang tidak khusus menimpa orang-orang yang zalim saja di antara kamu, dan ketahuilah bahwa Allah Amat keras siksaan-Nya.” (TQS. Al-Anfal : 24-25).

Tanggung jawab Penguasa Menangani  Korban Bencana
Seorang muslim haruslah peka dan peduli terhadap kondisi yang terjadi di sekitarnya, terutama yang terjadi pada saudaranya sesama muslim. Rasul bersabda : 

Siapa yang menyelesaikan kesulitan seorang mu’min dari berbagai kesulitan-kesulitan dunia, niscaya Allah akan memudahkan kesulitan-kesulitannya hari kiamat. Dan siapa yang memudahkan orang yang sedang kesulitan niscaya akan Allah mudahkan baginya di dunia dan akhirat. ” (HR. Muslim).

Tapi bagaimana harusnya sikap para penguasa atau pemimpin negara?  Di sini berbedanya taklif (beban hukum)  individu dan tanggung jawab penguasa . 

Individu hanya bisa membantu sebatas kemampuan, sedangkan Negara (penguasa) bertanggungjawab sepenuhnya atas kondisi rakyat.  Tanggung jawab pelayanan ini meliputi segala urusan publik yang berkaitan dengan kesejahteraan rakyat, termasuk  penanganan korban bencana alam.

Rasulullah SAW bersabda : ”Imam (Khalifah) adalah pengurus rakyat dan dia bertanggung jawab atas rakyatnya  “ (HR al- Bukhari).

Penguasa semestinya mencurahkan segenap tenaga dalam menjalankan tanggung jawab umat dan menjaga rakyat, bahkan Rasulullah saw. mengancam para pemimpin yang melalaikan kewajiban ini sebagaimana hadits dari Ma’qil bin Yasar RA berkata,

Saya pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda, ‘Tidaklah seorang hamba yang dibebani Allah untuk mengurusi rakyatnya dan dia tidak membatasinya dengan nasihat melainkan dia tidak mendapatkan bau surga”. (HR. Bukhori).

Maka para penguasa negeri ini hendaknya berupaya berpikir dan berbuat untuk mengatasi semua persoalan yang menimpa rakyat, termasuk  pasca terjadinya bencana. Segala potensi harus dikerahkan untuk mengembalikan kondisi korban. Pemerintah tidak boleh melempar tanggung jawab ini pada masyarakat.

Jangan Cuma sibuk menyiapkan amunisi dan cari pasangan, agar bisa menang di kontes 5 tahunan.  Karena sekali lagi tugas individu dan Negara adalah berbeda. Semuanya akan ditanya di Yaumil Hisab.[MO/sr]



Posting Komentar