Oleh: Nur Asmiar 
(Penggiat Komunitas Ibu Hebat, Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- Jika seorang pemuda muncul ghirahnya saat Islam dihinakan maka Islam belum kalah".Begitulah ungkapan yang dituliskan oleh Buya Hamka dalam bukunya Ghirah & Tantangan Terhadap Islam, yang diterbitkan pada tahun 1982, 36 tahun yang lalu. Namun isinya masih sangat kompatibel dengan kondisi hari ini.

Bertubi-tubi ujian terhadap tubuh umat Islam. Mulai dari kasus Ahok berentetan setelahnya kasus penghinaan terhadap Islam hingga puisi Sukmawati. Keberpihakan penguasa terhadap musuh-musuh Islam itu seperti menabur garam  diatas luka.

Aksi 212, 411 dan gerakan-gerakan umat setelahnya adalah respon luar biasa umat terhadap penghinaan terhadap Islam. Semua itu adalah ghirah. Ghirah iman Islam.

Ghirah Islam dalam diri kaum muslimin di negara ini masih ada. Umat Islam bersatu untuk menyatakan pembelaan mereka terhadap agamanya. Islam belum kalah. 

Ghirah adalah sesuatu yang harus dimiliki oleh seorang muslim. disayangkan bahwa ia masih terbatas  pada syuur ketika ada yang menghina Islam secara frontal. Umat belum terbangkitkan ghirahnya untuk menegakkan syariat Allah secara kaffah.

Perlombaan menuju tahun 2019 sudah berjalan. Semakin panas. Bipolar kekuatan umat mulai jelas terlihat antara yang menginginkan ganti Presiden dan Presiden 2 periode. Sayangnya, belum terlihat kekuatan nyata yang sebanding untuk hal penggantian sistem Kapitalisme menjadi sistem Islam.

Disaat kaum muslimin Indonesia semakin menegaskan identitas fisiknya sebagai seorang muslim namun tidak diiringi dengan penguatan identitas pemikirannya. Kaum muslimin belum menghendaki perubahan yang hakiki.

Opini tagar 2019 ganti presiden memberikan gambaran pada kita bahwa kehendak perubahan dalam diri umat sudah sangat besar. Namun sejauh ini baru sampai pada batas ingin lepas dari masalah pemenuhan hajatul uduwiyah dan naluri.

Yang terbayang dalam benak umat masih sekadar  bagaimana hidup dengan harga BBM yang murah, pendidikan murah dan bagus, kesehatan yang murah, lapangan pekerjaan mudah.

Karena landasan perubahan yang diinginkan masih terkait pada aspek jasmani dan naluri maka umat masih sangat mudah terkotak-kotak dengan kepentingan politik praktis. Terjebak pada kepentingan-kepentingan para politisi  yang sejatinya masih akan melangsungkan aturan pemerintahan  yang sama, yaitu aturan kufur.

Umat masih susah untuk mengenali kawan sejati dan lawan sejati. Logika politiknya, siapa yang  kontra rezim adalah kawan. Siapa yang pro rezim adalah lawan politik.

Tahun politik ini seharusnya adalah waktu terbaik buat parpol-parpol Islam untuk mengarahkan umat kepada kebangkitan hakiki. Bukan sekedar perubahan yang mengantarkan terpenuhinya aspek jasmani dan naluri, tapi perubahan yang mendatangkan rahmat dan keridhoan dari Allah. Yaitu penerapan hukum Islam secara kaffah dalam naungan Khilafah Rasyidah 'ala minhaji nubuwah.

Utuhnya identitas muslim, jika individu, masyarakat dan juga negara berjalan dalam satu koridor sistem kehidupan yang sama, yaitu aturan Islam. Sudah tiba waktunya kita mengupayakan hadirnya seorang pemimpin yang berfungsi sebagai junnah untuk melindungi identitas rakyatnya. Sebagaimana sabda Rasulullah saw :
 إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ

Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu perisai, dimana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung) dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan) nya.” (HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Abu Dawud, dll)[MO/sr]

Posting Komentar