Oleh : Nida Husnia R 
(Aktivis Mahasiswa)

MediaOposisi.com-Tak terasa usia negeri ini sudah mencapai 73 tahun selepas deklarasi kemerdekaan. Kala itu suasana kalut menyelimuti negeri agraris yang diperebutkan Jepang, Belanda, Perancis, Portugis, dan Inggris.

Kemewahan alam Indonesia menjadi salah satu daya tarik yang begitu memikat, oleh karenanya penjajah datang dengan beragam model jajahan untuk mengeruk sumber daya alam Indonesia yang subur.

Tak dapat dipungkiri, bahkan hingga saat ini, Indonesia memang masih menjadi primadona. Kekayaan alamnya berulang kali mengundang ajakan investasi. Indonesia termasuk dalam produsen dan eksportir minyak sawit terbesar di dunia yang mampu menghasilkan 85-90% hasil produksi minyak sawit dunia.

Indonesia juga berhasil meraih predikat penghasil batubara terbesar ke-5 didunia pada 2016, tak lupa tambang emas Freeport di Jayawijaya, Papua yang berpotensi menghasilkan ribuan ton emas.
Ya, 73 tahun yang lalu KH Hasyim Asy’ari mempelopori perjuangan, Bung Tomo memimpin perlawanan, serta 73 tahun yang lalu Syahrudin berani menyiarkan proklamasi kemerdekaan di kantor berita Jepang, namun 2018 ini kemerdekaan telah tercoreng namanya.

Sebab apa? Kini ‘merdeka’ sekedar jargon yang disuarakan sebagai tanda memasuki bulan Agustus, namun ternyata bangsa ini justru menghadapi penjajahan gaya baru atau neo-imperialisme yang tak kita sadari keberadaannya.

Mantan Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah, Syafii Ma’arif pernah menyampaikan keprihatinannya pada 2017 lalu atas 80% penguasaan SDA oleh asing, 13% dikuasai konglomerat, dan 7% sisanya dibagi untuk 250 juta jiwa. Pengamat kebijakan publik, Ichsanuddin Noorsy juga mengatakan bahwa asing telah menguasai 89% migas di Indonesia.

Fakta yang paling nampak juga adalah keberadaan Amerika Serikat yang telah bertahun-tahun bahkan memperpanjang kontrak penguasaan tambang emas Freeport di Papua. Selain itu negeri ini terlilit hutang 5.000 trilyun lebih yang masih dianggap sebagai nominal aman.

Bagaimana kemudian sejumlah polemik ini mampu menggambarkan Indonesia sebagai negeri yang ‘merdeka’? Pertanyaan itu seharusnya muncul disetiap kepala putra-putri bangsa, terlebih lagi mahasiswa. Sebagai sosok yang hendak diamanahi tugas kepemimpinan, mahasiswa memegang tonggak perubahan yang ditangannya peradaban bisa tercipta.

Maka tugasnya tak hanya diam didepan laptop dan berkutat dengan perpustakaan, lebih dari itu ia harus memikirkan nasib bangsanya kedepan. Bukan mahasiswa namanya bila hanya membutuhkan gelar, namun enggan duduk bersama untuk melakukan muhasabah dan kritik terhadap kebijakan-kebijakan penguasa.

Apalagi bila kebijakan itu tak sejalan dengan nurani dan kebutuhan rakyat. Derita rakyat adalah derita kita, tangis rakyat adalah tangis kita, ‘merdeka’ rakyat adalah ‘merdeka’ kita,begitulah seharusnya mahasiswa berprinsip. Tidak kemudian membuat sekat antara dunianya dengan kehidupan masyarakat.

Beragam permasalahan yang menimpa Indonesia juga semestinya menjadi perhatian, ditambah lagi dengan momen peringatan Hari Proklamasi Kemerdekaan RI ke 73 ini yang sarat akan problem ditengah-tengah masyarakat. Mengkritik bukan berarti nyinyir, justru kritik adalah koreksi yang kita sampaikan demi mencapai masa depan yang kita cita-citakan.

Juga sebagai bentuk penyampaian aspirasi dan hak-hak rakyat yang tidak dipenuhi.
Bicara ‘kemerdekaan’ bukanlah topik yang ringan untuk senantiasa mewujudkannya. Karena ‘merdeka’ tak sekedar bahasan diatas meja diskusi, yang kemudian disimpan dan aus dengan percuma. Untuk merdeka butuh perjuangan sebagaimana para pahlawan kita terdahulu.

Apakah kita ingin penguasa terus mengeluarkan kebijakan kenaikan harga ditengah lemahnya ekonomi rakyat? Apakah kita rela bila bangsa yang telah diperjuangkan kemerdekaan nya mati-matian oleh para pahlawan kemudian kembali dijajah ekonomi dan politiknya dengan mudah?

Bung, sudah saatnya pergerakan kita bangkit! Jangan biarkan orang menganggap mahasiswa sebagai sampah yang kerjanya hanya nongkrong dan shopping. Kuliah bukan hanya seputar buku dan bolpoin, mari ngopi bersama rakyat.[MO/ga]




-

Posting Komentar