Oleh: Bagas Kurniawan
('Aliwa Institute)

Mediaoposisi.com- Persiapan menuju Pilpres 2019 telah melalui babak baru. Para kandidat Pilpres masing-masing membentuk timses (tim sukses) dengan opsi membuat juru bicara mengatasi serangan yang akan dilancarkan oleh bakal calon.

Ikhtiar serta kunjungan diberbagai pondok pesantren, lobi-lobi para tokoh pemuka agama, hingga politik 'stick and carrot' menjadi agenda tersendiri demi untuk meraih kekuasaan.

Tak dapat dipungkiri memang itulah sesungguhnya politik kepentingan. Mementingkan yang ingin dicapai dan menghilangkan siapa yang menghalangi. Kesadaran masyarakat dalam menghadapi Pilpres 2019 memang terjadi peningkatan kesadaran akhir-akhir ini. Hingga yang dulu hanya menjadi ide dan gagasan, kini menjadi sebuah deklarasi gaungkan ganti Presiden.

Umat yang kini jengah atas ketidakadilan, dan  merasakan kedzaliman di depan mata, membuat umat perlu ikut andil tentukan arah perjuangan negeri. Sebagai umat Islam di negeri mayoritas muslim faktor agama tidak bisa diabaikan begitu saja. Karena kekalahan Ahok di Pilkada DKI, menjadi pelajaran tersendiri bagi partai-partai sekuler termasuk pendukung Jokowi.

Rekomendasi para ulama yang disepakati beberapa minggu yang lalu tidak menemui kesepakatan yang pasti, hingga alumni persatuan 212 menjadi sasaran empuk perlu di datangi untuk mendongkrak suara. Tapi maaf Kyai do'akan kami istiqamah dalam membela agama ini. Ujar Ketua Presidium 212, Slamet Ma'arif. Ketika ditemui oleh Kyai Ma'ruf Amin.

Umat Islam bagaikan pendorong mobil mogok, ditinggal setelah mobil dapat berjalan. Namun, setelah berkuasa, alih-alih berpihak kepada umat Islam, malah sering membuat kebijakan yang bersebrangan dengan umat Islam dan aspirasi umat. Suara umat jadi rebutan, agar bisa menduduki jabatan hingga 5 tahun kedepan.

Manuver politik terus dilakukan, sampai-sampai wacana akan ada reshuffle kabinet dalam tubuh istana, yang mungkin menjadi penghalang dalam gerak menuju singgasana kekuasaan. Seperti film kolosal Brama Kumbara, hingga mental inlender mewarnai dinamika politik brutal.

Karena serangan dari yang satu dan yang lain membuat suhu politik menjadi naik. Akhirnya warga pun ikutan dibuat panik.

Tak boleh lupa, nohta merah yang pernah dilakukan rezim saat ini, tidak lantas hilang begitu saja. Maka, siapapun yang melakukan kriminalisasi terhadap ulama, menuduh umat Islam radikal, menghalangi dakwah Islam, mempersekusi aktivis dakwah harus diposisikan sebagai musuh umat Islam yang dzalim.

Demikian partai politik yang mendukung atas peristiwa tersebut agar diberi catatan merah dan tidak layak untuk di dukung.

Karena ketidakpercayaan publik, terhadap rezim menimbulkan ketidakadilan yang begitu kental. Orang awam pun bisa merasakan. Ketika umat Islam bersalah sedikit saja langsung aparat bergerak cepat dalam melakukan tindakan hukum.

Tapi, begitu yang melakukan adalah para pendukung Ahok dan rezim. Mereka seolah tidak tersentuh hukum, bahkan ada yang mencalonkan sebagai Gubernur dan duduk jadi narasumber.

Maka, ikhtiar penting bagi umat adalah kesadaran terhadap politik Islam, karena politik Islam dapat menentukan siapa lawan dan siapa kawan. Siapa yang mencoba menjegal Islam dan ajarannya, siapa yang akan berjuang demi kemuliaan Islam.

Tetapi, hal yang perlu di ingat adalah, bahwa umat Islam tidaklah berhenti dikursi kekuasaan. Pengalaman menunjukkan sebaik apapun pemimpinnya, maka akan gagal di tengah sistem yang rusak. Sistem baik adalah sistem yang akan melahirkan pemimpin yang baik pula, dan tidak ada kebaikan selain kembali kepada Islam.[MO/sr]


Posting Komentar