Oleh: Erwina Mei Astuti 
(member revowriter) 

Mediaoposisi.com- Pemilu akbar semakin dekat. Tahun 2019 tinggal beberapa saat. Pemilihan pemimpin negara ini akan digelar. Pasangan calon telah resmi diundangkan. Siapakah kira-kira yang tampil melenggang dan duduk di tampuk kekuasaan?

Wajah lama muncul kembali, mengulang masa lima tahun yang lampau. Bergandengan dengan wajah baru yang tak asing. Masing-masing yakin akan mampu mendulang suara. Berbagai komentar pro kontra datang bersliweran. Silih berganti menyampaikan pendapat dan unek-uneknya. Sosok ulama yang didamba memunculkan pula rasa kecewa. Kekhawatiran terjebak dalam pusaran demokrasi sehingga tak mampu meluruskan. Sosok pengusaha mapan dengan amalan dhuha yang kuat plus wajah nan rupawan juga memikat. Entahlah siapa yang akan jadi pemenang. Tetaplah umat penentu kemenangan walau akhirnya akan ditinggalkan.

Pemimpin sebagai Posisi Vital
Keberadaan pemimpin dalam suatu masyarakat merupakan keniscayaan. Padanya akan bertumpu tanggung jawab akan nasib yang dipimpinnya. Problem masyarakat butuh pengaturan agar solusi yang ditawarkan sesuai dengan harapan. Tanpa seorang pemimpin, pengaturan akan solusi terjadi amburadul. Konflik dan friksi berpotensi muncul.

Jangankan suatu masyarakat yang besar, 3 orang yang berkumpul harus ada yang diangkat sebagai pemimpin. Dalam hadits disebutkan bahwa "Jika tiga orang berada dalam suatu perjalanan maka hendaklah mereka mengangkat salah seorang dari mereka sebagai pemimpin." (HR Abu Dawud). Pemimpin bak perisai, sebagaimana hadits “Sesungguhnya seorang pemimpin itu adalah perisai, rakyat akan berperang di belakangnya serta berlindung dengannya. Apabila ia memerintahkan untuk bertaqwa kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta bertindak adil, maka ia akan mendapat pahala. Tetapi jika ia memerintahkan dengan selain itu, maka ia akan mendapat akibat buruk hasil perbuatannya.” [Hadis Riwayat Muslim, 9/376, no. 3428]

Posisi pemimpin sangat vital. Namun pertanggungjawabannya sangat besar di hadapan Allah kelak. Karenanya pemimpin harus senantiasa berjalan di jalan yang benar agar tidak tergelincir dalam kesalahan. Pemimpin harus memiliki standar benar salah dalam menjalankan aktivitasnya. Bukan pandangan pribadi atau pendapat mayoritas masyarakat. Standar itu adalah syariat Islam.

Adapun pemimpin dalam Islam ada kriteria yang harus dipenuhi. Kriterianya yaitu laki-laki, muslim, balig, berakal, merdeka, adil, dan mampu menjalankan tugasnya. Ketujuh kriteria ini akan mengantarkan pada tugas pemimpin untuk mengatur urusan masyarakat.

Hipokrisi Demokrasi
Sayangnya pemimpin sejati belum didapatkan di negeri ini saat ini. Akankah pasangan capres dan cawapres menjadi pemimpin sejati? Tak lekang dari ingatan betapa umat Islam sebelumnya "terluka". Kasus penodaan agama harus menunggu lama untuk diproses hukum. Disisi lain stigma radikalisme, terorisme sangat cepat dilekatkan. Pembubaran ormas Islam yang menyerukan ajaran Islam hingga menelorkan perppu ormas, kilat dilakukan. Dampaknya muncul persekusi dan kriminalisasi atas ulama dan ajaran Islam. Luka yang belum sembuh itu kembali menganga manakala pasangan calon pemimpin menggandeng ulama. Taubatan nasuha ataukah simbolisasi belaka demi mendulang suara? Inilah hipokrisi demokrasi, suara rakyat hanyalah kebutuhan sesaat menjelang pesta demokrasi. Selanjutnya, selamat tinggal rakyat, kepentingan dan kekuasaan menanti dekapan. Janji yang dilontarkan hanyalah angin lalu yang tak meninggalkan bekas. Justru jeratan kesengsaraan semakin menguat ketika kapitalisme menjadi sistem yang diterapkan.

Saatnya instropeksi, menyadari hipokrisi demokrasi dan kembali kepada aturan ilahi. Baik sistem maupun pemimpinnya. Pilih hanya pemimpin sejati. Wallahua'lam bisshowab.

Posting Komentar