Oleh: Emma Silvia 
(Mahasiswi Sekolah Tinggi Farmasi Bandung Jurusan Farmasi)

Mediaoposisi.com- Islam Nusantara menjadi perbincangan hangat di Indonesia saat ini. Ide yang juga diusung oleh Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla itu kini banyak menuai pro dan kontra di kalangan umat dan ulama. 

Mereka yang setuju akan ide Islam Nusantara ini menganggap bahwa Islam Nusantara dibutuhkan masyarakat  dunia saat ini karena ciri khasnya yang mengedepankan “jalan tengah”. Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj mengatakan bahwa “Islam Indonesia itu bukan Islam Arab, tidak harus pakai gamis, tidak harus pakai sorban. 

Tidak. Islam Indonesia adalah Islam khas Indonesia. Hal terpenting adalah substansinya, yaitu berakhlak Islam, beribadah. Gamis, celana, sarung, tidak urusan itu”. (detik.com). 

Munculnya ide Islam Nusantara ini jelas sangat mengkhawatirkan dan dapat menimbulkan perpecahan dikalangan umat islam. Berbagai penolakan pun datang dari para tokoh dan ulama. Majelis Ulama Sumatera Barat menolak penamaan ‘Islam Nusantara’.

Mereka menyatakan bahwa ‘Islam Nusantara tidak dibutuhkan di Ranah Minang’. Meskipun penolakan ini dikritisi oleh MUI pusat, akan tetapi Majelis Ulama Sumbar tetap kukuh dengan penolakan Islam Nusantara (Republika.co.id).

Penolakan ide ini adalah wajar bahkan harus disampaikan oleh seluruh umat islam dan ulama Indonesia. Ide ini akan membuat umat islam di Indonesia semakin terkotak-kotak. Ide ini dapat menjadi cikal bakal lahirnya ide-ide islam baru, seperti islam Jawa, islam Padang , dan islam-islam lainnya.

Pernyataan  Said Aqil Siradj yang menyatakan bahwa islam Indonesia berbeda dengan Islam Arab jelas menunjukkan kebencian terhadap negara Arab. Tak hanya Ketum PBNU, Rais Aam PBNU Yahya Cholil Staquf juga menyampaikan dalam ceramahnya bahwa Islam Nusantara adalah Islam sejati, bukan islam abal-abal seperti timur tengah.

Rais Aam PBNU ini pun mengatakan bahwa islam Arab adalah islam penakluk atau islam penjajah. Pernyataan-pernyataan seperti jelas harus ditolak karena menyebarkan kebencian terhadap negara Arab.

Sejatinya tak ada Islam Nusantara ataupun Islam Arab. Islam hanya satu yaitu Islam Rahmatan Lil ‘Alamin. Islam pun telah sempurna sehingga tidak membutuhkan embel-embel lain seperti Islam Nusantara ataupun Islam Arab.

Ide Islam Nusantara inilah yang seharusnya ditolak oleh seluruh umat islam bahkan oleh pemimpin di negeri ini, karena inilah yang dapat memecah belah umat, mengaburkan islam yang sesungguhnya dan mengkotak-kotakkan umat islam di Indonesia.

Pemimpin di negeri ini harusnya mendorong para ulama dan umat islam untuk membumikan Islam di Nusantara bukan mengusung ide ‘Islam Nusantara’ yang justru akan menimbulkan perpecahan di tengah-tengah umat.[MO/sr]


Posting Komentar