Oleh: Rini Suhud (Pemerhati Pendidikan)

Mediaoposisi.com-Baru-baru ini media digemparkan dengan berita tentang seorang remaja usia 15 tahun korban pemerkosaan dijadikan tersangka dalam kasus aborsi, karena melanggar undang-undang perlindungan anak. Baik media nasional dan internasionalpun tengah menyoroti kasus ini. Elemen masyarakat  menilai bahwa kasus ini tidak adil, karena korban perkosaan boleh melakukan aborsi. (https://www.kompas.tv/content/article, 12/8/2018).

Mari kita menelaah tentang permasalahan ini dengan cermat. Kasus-kasus tentang aborsi bukanlah sesuatu hal yang baru. Bahkan dalam tahun ini saja, sudah ada beberapa berita tentang kasus aborsi. Mengapa orang dengan sangat mudah melakukan aborsi? Mengapa mereka begitu tega menggugurkan calon jabang bayi yang tak berdosa ?

Kasus maraknya aborsi, sebenarnya lebih disebabkan oleh kehamilan yang tidak diinginkan (KTD). Umumnya, kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) ini terjadi akibat perkosaan, pergaulan bebas atau incest seperti kasus tersebut di atas. Kenapa ini bisa terjadi? Inilah dampak negatif dari pergaulan bebas atau free seks yang memang diagung-agungkan dan digembar-gemborkan oleh para Liberalisme, berakibat pada kehamilan di luar nikah dan berakhir pada aborsi.

Terlebih lagi, lemahnya kontrol dari pemerintah dan peraturan pemerintah dalam tangani masalah ini terutama terkait dengan sanksi yang akan diberlakukan pada para pelaku maksiat.

Pemerintah membuka ruang kesempatan aborsi bagi sebagian kondisi kehamilan. Aturan yang melegalkan aborsi : PP No. 61 Tahun 2014 telah ditanda tangani Presiden SBY tanggal 21 Juli 2014. Pasal 31 ayat 2, PP No. 61/2014 disebutkan : tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan bila kehamilan paling lama berusia 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.
(https://republika.co.id, 09/8/2014).

Dengan demikian, dengan terbitnya peraturan tersebut bukanlah menyelesaikan masalah tapi yang ada menambah masalah. Karena, berdampak pada penyesatan opini dalam upaya legalisasi pergaulan bebas atau free sex. Pergaulan bebas ini adalah wujud dari salah satu hak asasi manusia yang berasal dari paham sekulerisme yang sangat mengagungkan kebebasan manusia dalam bertingkah laku.
Bagaimana cara mengatasi masalah ini  dengan tuntas ? Yaitu dengan menerapkan aturan Islam

أَفَحُكْمَ الْجَاهِلِيَّةِ يَبْغُونَ ۚ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ حُكْمًا لِقَوْمٍ يُوقِنُونَ

Artinya : “Apakah hukum jahiliyah yang mereka kehendaki? (Hukum) siapakah yang lebih baik daripada (hukum) Allah bagi orang-orang yang meyakini (agamanya)?” QS. Al-Maidah [5] : 50.

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا ۖ إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
Artinya : “Janganlah kamu mendekati zina; (zina) itu sungguh perbuatan keji dan  dan suatu jalan yang buruk”(QS : Al-Isra[17]:32”).

Dari ayat ini, sudah menunjukkan bahwa apapun jenis perbuatan yang menghantarkan kepada zina tidak diperbolehkan. Seperti: pegangan tangan, cipika-cipiki pada yang bukan mahramnya, kissing (ciuman) atau yang lainnya yang bisa memancing ke arah perzinaan. Terus bagaimana agar hukum ini bisa terlaksana secara maksimal? Menurut pandangan Islam, ada 3 pilar yang sangat berperan dalam mengontrol masalah ini, agar tidak terjadi lagi kasus pemerkosaan yang berujung pada KTD dan aborsi, yaitu :

Kontrol negara

Negara harus  menerapkan peraturan pergaulan sesuai aturan Islam. Negara yang akan mengontrol dan mengawasi segala bentuk media dalam publikasinya, sehingga tidak berpontensi membangkitkan masalah seksual. Karena negaralah yang bertanggung jawab dan akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah dalam mengurusi rakyatnya.

Kontrol masyarakat

Masyarakat yang bertakwa dan beriman kepada Allah SWT, berkewajiban  mengontrol dan mengoreksi negara dalam menjalankan roda pemerintahan. Apakah kebijakan-kebijakannya sudah sesuai dengan aturan Islam atau tidak ?

Individu rakyat yang bertakwa.

Individu-individu rakyat yang bertakwa, dimana mereka sebelum berbuat tentunya akan melakukan idrak sillah billah (setiap perbuatan akan diminta pertanggung jawaban di hadapan Allah SWT). Dengan kata lain, senantiasa mengharapkan ridlo Allah dengan melakukan amal perbuatan sesuai dengan syariat-Nya. Dengan sikap ini, individu-individu rakyat untuk  juga berperan dalam mengontrol masalah pergaulan dan aborsi.[MO/an]




Posting Komentar