Oleh: Hana Rahmawati 
( Anggota Revowriter Tangerang ) 

Mediaoposisi.com- Gempa bumi berkekuatan 6,4 pada skala richter mengguncang Lombok, Nusa Tenggara Barat dan sebagian wilayah di Bali, Ahad 29 Juli 2018 disebabkan aktivitas Sesar Naik Flores (Flores Back Arc Thrust).

Guncangan gempa bumi dilaporkan telah dirasakan di daerah Lombok Utara, Lombok Barat, Lombok Timur, Mataram, Lombok Tengah, Sumbawa Barat dan Sumbawa Besar pada skala intensitas II SIG-BMKG (IV MMI), Denpasar, Kuta, Nusa Dua, Karangasem, Singaraja dan Gianyar II SIG-BMKG (III-IV MMI).

Hasil analisis BMKG menunjukkan episenter gempa bumi terletak pada koordinat 8,4 LS dan 116,5 BT, atau tepatnya berlokasi di darat pada jarak 47 km arah timur laut Kota Mataram, Propinsi Nusa Tenggara Barat pada kedalaman 24 km. (tirto.id)

Belum lagi hilang trauma akibat gempa bumi tersebut, masyarakat NTB dan sekitarnya kembali dikejutkan dengan guncangan yang tak kalah hebat. Tepat sepekan setelah gempa bumi pertama melanda, ahad 5 Agustus 2018 gempa hebat kembali terjadi.

Dengan magnitudo lebih besar 7,0 skala richter. Selepas gempa utama yang berkekuatan 7,0 skala richter tersebut, guncangan-guncangan kecil susul menyusul mengguncang kawasan Lombok Utara, Nusa Tenggara Barat (NTB). Hingga senin pagi, tercatat sudah 14 kali terjadi gempa susulan. Detiknews.com

Dilansir dari Detiknews.com data korban meninggal hingga senin pagi 6 Agustus 2018 pukul 02.30 WIB, tercatat sudah ada 82 orang. Kepala Pusat Data dan Informasi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Sutopo Purwo Nugroho mengatakan bahwa jumlah korban kemungkinan akan terus bertambah.

Mengingat masih dilakukan nya pencarian para korban yang luka dan meninggal akibat tertimpa bangunan roboh.
"Diperkirakan korban terus bertambah. Jumlah kerusakan bangunan masih dilakukan pendataan." jelas Sutopo.

Gempa yang berpusat di lombok, NTB dengan koordinat 8,37 LS dan 116,4 BT pada kedalaman 15 km ini juga di rasakan warga Denpasar, Bali. "Semua penghuni kos keluar kamar. Ini gempa nya keras sekali, kayak di aduk-aduk. Gempa nya lebih kerasa dibandingkan sebelumnya" kata Rahman, warga Denpasar bali (okezonenews.com 6/8).

Gempa di Zaman Khalifah 
Pada zaman sekarang, sedikit sekali manusia memaknai musibah sebagai teguran dari sang pencipta. Merenungi setiap kejadian dengan kacamata keimanan.

Gempa pernah terjadi pada masa keKhalifahan Umar. Hari itu, madinah sebagai pusat pemerintahan dikejutkan oleh getaran gempa bumi.

Nampaknya, Umar ingat betul apa yang dilakukan Rasulullah saat gempa terjadi. Umar lalu menempelkan tangannya ke tanah, kemudian berbisik pada bumi seraya bertanya "Ada apa denganmu?". Perhatikanlah ucapan pemimpin tertinggi kaum muslim itu kepada rakyatnya.

" Wahai masyarakat, tidaklah gempa ini terjadi kecuali karena ada sesuatu yang kalian lakukan.
Alangkah cepatnya kalian melakukan dosa. Demi yang jiwaku ada di tangan-Nya, jika terjadi gempa susulan, aku tidak akan mau tinggal bersama kalian selamanya !".

Lihatlah, perkataan generasi terbaik sepanjang sejarah. Generasi yang mengajarkan kepada kita bahwa gempa terjadi akibat dosa yang dilakukan. Umar bahkan dengan tegas menyatakan itu. Lebih tegas lagi, Umar bersumpah bahwa jika terjadi gempa susulan Umar akan meninggalkan Madinah. Karena itu berarti masyarakat kembali melakukan dosa dan tak kunjung bertaubat.

Gempa di Mata Ka'ab bin Malik Radhiallahu 'Anhu
Senada dengan sang khalifah, Umar Ibn Khattab. Sahabat Ka'ab bin Malik pun menyikapi gempa bumi yang terjadi sebagai teguran dari Allah akibat perbuatan manusia.

Beliau berkata "Tidaklah bumi berguncang kecuali karena ada maksiat-maksiat yang dilakukan di atasnya. Bumi gemetar karena takut Rabb-nya Azza Wajalla melihatnya".
Bagi Ka'ab, guncangan bumi adalah bentuk gemetar nya bumi karena takut kepada Allah yang Maha melihat kemaksiatan yang dilakukan didalam nya.

Gempa di Masa Khalifah Umar bin Abdul 'Aziz 
Saat masa keKhalifahan Umar bin Abdul 'Aziz, gempa juga pernah terjadi. Namun sang Khalifah yang memandang bahwa ini adalah teguran dari Allah SWT. Beliau tidak tinggal diam. Ia segera mengirim surat kepada seluruh wali negeri.

"Amma ba'du. Sesungguh nya gempa ini adalah teguran dari Allah kepada hambaNya, dan saya telah memerintahkan kepada seluruh negeri untuk keluar pada hari tertentu. Maka, barangsiapa yang memiliki harta hendaklah bersedekah dengan nya. 

Allah berfirman 'sungguh beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan taubat ataupun zakat). Lalu dia mengingat nama Tuhannya, lalu ia melaksanakan sholat' (QS. Al-A'laa : 14-15).

Lalu katakanlah seperti apa yang pernah diucapkan Adam AS (saat terusir dari surga), "Ya Rabb kami, sesungguhnya kami mendzalimi diri kami dan jika Engkau tak jua ampuni dan menyayangi kami, niscaya kami menjadi orang-orang yang merugi".

Dan katakanlah pula apa yang dikatakan Nuh AS, ' jika Engkau tak mengampuniku dan merahmatiku, aku sungguh orang yang merugi'. Dan katakanlah doa Yunus AS, ' Laa Ilaaha Illa Anta, Subhanaka, Tiada Tuhan selain Engkau, Maha suci Engkau, sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang dzolim'."

Gempa Bumi, Satu di Antara Tanda Kekuasaan Allah
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui terhadap semua apa yang dilaksanakan dan ditetapkan. Allah memperlihatkan tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kaum yang berakal, agar menggunakan akal untuk memikirkan keMaha besaran Allah. Dengan tanda-tanda kekuasaan itu pula Allah ingin mengingatkan hamba-hambaNya akan kewajibannya kepada Allah.

"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) kami disegenap ufuk dan pada diri mereka bahwa Alqur'an itu benar. Dan apakah Rabbmu tidak cukup (bagi kamu) bahwa sesungguhnya Dia menyaksikan segala sesuatu" ( QS. Fushilat: 53).

Allah menunjukkan tanda kekuasaanNya tidak lain adalah untuk memberi peringatan kepada hamba-hambaNya. Maka perlu diketahui bahwa bencana alam berupa gempa dan musibah lainnya tidak lain disebabkan oleh ulah tangan manusia itu sendiri.

Akibat dari perbuatan syirik dan maksiat yang dilakukan. Firman Allah dalam Alqur'an surat An-Nisaa':79  "Nikmat apapun yang kamu terima, maka itu dari Allah. Dan bencana apapun yang menimpamu maka itu dari (kesalahan) dirimu sendiri".

"Maka masing-masing (mereka itu) kami azab karena dosa-dosanya, diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil, ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan ada pula yang kami tenggelamkan. Allah sama sekali tidak hendak mendzalimi mereka, akan tetapi merekalah yag mendzalimi diri mereka sendiri". (QS. Al-Ankabut: 40).

Maka wajib bagi setiap muslim muslimah yag sudah terkena kewajiban syari'at agar bertaubat dan taat kepada Allah. Serta menjauhi segala yang dilarang Allah berupa kemaksiatan. Agar Allah hindarkan kita dari azab dan murkaNya.

Hendaknya para pemimpin umat Islam segera memerintahkan rakyatnya untuk bertaubat kepada Allah, berpegang  teguh pada kebenaran dan kembali kepada syari'atNya. Andai kedua Umar kini berada bersama kita, tentu mereka akan marah dan menegur kita dengan keras karena teguran-teguran Allah yang tidak kita hiraukan menyebabkan terjadi nya bencana.

Maka sebelum teguran Allah datang lebih keras lagi, inilah saat nya kita jawab teguran Allah dengan kembali kepadaNya dan melaksanakan syari'atNya dalam seluruh sendi kehidupan.Akhirnya, hanya kepada Allah lah kita memohon agar memperbaiki kondisi kaum Muslim saat ini. Memberikan keistiqomahan dalam agama dan segera bertaubat dari setiap kedurhakaan.

Semoga Allah juga memperbaiki kondisi para pemimpin kaum Muslim dan menolong dalam memperjuangkan kebenaran dan menghinakan kebathilan. Agar terus berlimpah rahmat Allah kepada kita semua.[MO/sr]








Posting Komentar