Oleh: Reni Rosmawati

Mediaoposisi.com- Lagi, kasus kekerasan seksual terhadap anak yang berujung aborsi akhir-akhir ini kembali terjadi. Sebut saja Wa (15 th). Ia menjadi korban perkosaan oleh kakak kandungnya sendiri hingga hamil dan akhirnya melakukan aborsi, kasusnya kini telah dilimpahkan ke Pengadilan Negeri (PN) Muara Bulian, Jambi.

Kakak korban dijatuhi vonis hukuman penjara karena melakukan pemerkosaan sementara adiknya (WA) dijatuhi vonis penjara selama 6 bulan karena telah melakukan aborsi dan melanggar undang-undang perlindungan anak (Republika.com).

Putusan pengadilan ini sontak menuai protes dari banyak elemen masyarakat yang menilai kasus ini tidak adil bagi korban, mereka menilai korban pemerkosaan (incest) dinilai boleh melakukan aborsi pasalnya pemerintah telah membuka ruang kesempatan aborsi bagi sebagian kondisi kehamilan.

Aturan yang melegalkan aborsi tersebut tertuang dalam peraturan pemerintah PP no 61 Tahun 2014 yang ditandatangani presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada 21 juli 2014.

Legalisasi aborsi dalam PP 61/2014 mengacu pada undang-undang 36/2009 pasal 75 ayat 1 yang menyebutkan setiap orang dilarang melakukan aborsi terkecuali berdasarkan indikasi kedaruratan medis dan kehamilan akibat perkosaan yang menimbulkan Trauma psikologis bagi korban perkosaan.

Dalam pasal 31 ayat 2 PP 61/2014 disebutkan tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan bila kehamilan paling lama berusia 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir, kehamilan akibat perkosaan juga harus dibuktikan dengan usia kehamilan sesuai kejadian perkosaan yang dinyatakan oleh surat keterangan dokter.

Serta keterangan penyidik, atau ahli lain mengenai dugaan adanya perkosaan dalam pasal 35 termaktub, bagi perempuan yang hamil akibat perkosaan tidak dapat memberikan aborsi, maka persetujuan aborsi dapat diberikan oleh keluarga bersangkutan.

Kasus incest, hamil, hingga aborsi yang dialami WA ini hanya salah satu dari ribuan kasus kekerasan seksual pada anak di indonesia, pasalnya dari tahun ketahun, tren kekerasan terhadap anak dan perempuan terus meningkat, tahun lalu saja terdapat 350.472 kasus, terdiri dari kekerasan fisik dan kekerasan seksual.

Sementara ,Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat 116 kasus kekerasan seksual terhadap anak pada Tahun 2017. Sebanyak 60% pelaku kekerasan seksual terhadap anak adalah orang dekat atau mereka yang berada di lingkungan keluarga, dan sekitar 30% adalah anggota keluarga langsung.

Kalau kita cermati lebih mendalam kekerasan seksual terhadap anak sesungguhnya tidak bisa dilepaskan dari nilai-nilai hidup yang salah yang berkembang di masyarakat saat ini, yaitu kehidupan sekuler (pemisahan agama dari kehidupan).

Pelaku kekerasan pada anak yang mayoritasnya adalah orang dekat korban menggambarkan masyarakat yang sakit, kepadatan penduduk, kemiskinan, rendahnya pendidikan, teknologi yang canggih dan kurangnya perhatian orang tua kepada anak yang sering dituding sebagai penyebab maraknya kekerasan seksual terhadap anak, hanyalah merupakan buah dari diterapkannya sistem sekuler yang mendewakan kebebasan.

Nilai kebebasan yang terdapat dalam sistem sekuler telah meracuni akal dan naluri manusia. Ketika seseorang tak memiliki pemahaman agama yang dijadikan sebagai tolak ukur dalam berperilaku maka dia akan melakukan apa saja sekehendak dirinya. Paham kebebasan telah menghilangkan ketakwaan individu dan negara.

Orang tua yang seharusnya menjadi pelindung justru menjadi sumber ancaman bagi anak-anak. Ditambah kurangnya peran negara serta lemahnya sistem hukum terhadap pelaku maksiat. Alhasil, terjadilah pergaulan bebas, ditambah maraknya pornografi dan pornoaksi yang merangsang syahwat dan menuntut pemuasan.

Untuk memenuhi pemuasan syahwat tadi apapun bisa dilakukan termasuk pelecehan seksual terhadap anak.

Islam sendiri hadir bukan hanya sekedar agama ritual belaka, namun Islam mempunyai solusi untuk semua masalah kehidupan, termasuk masalah kekerasan seksual terhadap anak, dalam Islam kejahatan seperti ini dapat di kembalikan kepada 3 pihak; individu, masyarakat dan negara.

Islam pun memberikan sanksi tegas dan keras terhadap pelaku tindak perkosaan tersebut, dalam hal ini ulama menyatakan, bahwa sanksi bagi pelaku tindak perkosaan ini adalah had zina, yaitu dirajam (dilempari batu) hingga mati jika pelakunya muhsan (sudah menikah); dan dijilid (dicambuk) 100 kali jika pelakunya ghair muhsan (belum menikah).

Sebagaiman firman Allah SWT “Perempuan yang berzina dan laki-laki yang berzina, maka deralah tiap-tiap seorang dari keduanya 100 kali dera, dan janganlah belas kasihan terhadap keduanya mencegah kamu (menjalankan) agama Allah, jika kamu beriman kepada Allah dan hari akhir." (TQS. An-Nur:2).

Dari sini, sangatlah jelas bahwa Islam lah satu-satunya solusi untuk semua masalah kehidupan termasuk masalah kekerasan terhadap anak.  Islam mengentaskan masalah dari akarnya, dalam pandangan Islam legalisasi aborsi adalah dosa, legalisasi aborsi justru tak menyentuh akar persoalan sebenarnya justru memperpanjang masalah.

Karena akar permasalahan yang sebenarnya adalah diterapkannya  sistem sekuler yang menganut paham kebebasan. Satu-satunya solusi untuk menyelesaikan semua permasalahan ini adalah dengan mencampakkan sistem sekuler dan menggantinya dengan sistem Islam, dan menerapkan Islam di seluruh aspek kehidupan.[MO/sr]





Posting Komentar