Mediaoposisi.com-|Salam Redaksi Ratusan mahasiswa yang tergabung dalam Persaudaraan Alumni 212 berkumpul di depan Gedung DPRD Yogyakarta.

Menyampaikan desakannya untuk menuntut turunkan menristedikti karena telah melakukan dugaan pelanggaran Hak Asasi manusia (HAM) kepada sivitas akademika, yaitu Dosen dan Mahasiswa atas tuduhan radikalismen dan anti Pancasila.Yogyakarta, Jum'at (8/10/2018)

Menurut Okky selaku orator aksi "Lebih radikal mana antara orang yang meyampaikan Islam dengan koruptor?..." peserta aksi menjawab koruptor dengan kompak.Aksi pun berjalan damai tanpa ada bentrok.

Inilah bukti kalau mahasiwa Islam bukan radikal karena disaat aksi tidak terjadi kerusuhan, hal ini bisa membuktikan bahwa Mahasiwa benar-benar menjaga adab dan tidak ada tindakan yang mengarah pada radikalism, dan dimana letak radikalisme dan anti Pancasilanya ?..

Aksi tersebut menuntut kepada menristedikti diantaranya :

-Bahwa kami menduga Pemerintah sedang membangun "framing" bahaya radikalisme dengan batasan yang tidak jelas. Jika yang dimaksud radikalis adalah menyakini dan mengamalkan ajaran Islam seperti Khilafah, melarang wanita menjadi kepala negara, menginginkan dan berupaya menerapkan sistem pemerintahan Islam.

-Bahwa kami mendorong DPRD DIY harus segera mengambil tindakan untuk menyelamatkan negara yang berpotensi terjerumus kedalam negara kekuasaan (Machstaat) atas perilaku oknum-oknum penguasa yang diduga menyalahgunakan kekuasaan untuk kepentingan kelompok tertentu.

Inilah bukti bahwa pergerakan Mahasiswa di jogja masih ada dan tidak mati.[MO/sr]

Posting Komentar