Oleh : Nida Husnia R. 
(Aktivis Mahasiswi Jember)

Mediaoposisi.com- Bila pemuda menjadi tonggak perubahan, sudah seharusnya kritik kebijakan dilakukan. Sebab kampus bukan sembarang lembaga pendidikan, darinya lahir akademisi-akademisi yang akan menentukan ‘harga’ bangsa dimata dunia. Tapi pahamilah bagaimana rezim era kapitalis bekerja, yang salah dibela yang benar dicerca.

Menjadi bagian daripada ekspresi kegelisahan dan amarah rakyat atas ketidak adilan yang ditegakkan, sejumlah mahasiswa yang tergabung dalam organisasi atau himpunan dari beberapa kampus melakukan aksi penolakan atas rencana kedatangan presiden Jokowi.

Sebagaimana yang terjadi di Tuban pada Maret 2018, forum mahasiswa yang terdiri dari Organisasi Mahasiswa Ekstra (Ormek) Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) dan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) cabang Tuban melakukan aksi demonstrasi untuk menolak kedatangan Jokowi.

Mereka beranggapan ada tidaknya Jokowi tak memberi kiprah apa-apa pada masyarakat.(kumparan.com)

Hal yang serupa juga terjadi di Universitas Muhammadiyah Makassar pada Juli 2018. Sejumlah mahasiswa HMI melakukan aksi tolak Jokowi dengan bentangan spanduk berisi tuntutan atas janji-janji Jokowi-JK.

Sebagai orang nomor 1 di Indonesia  Jokowi juga ditolak kehadirannya dalam Muktamar IMM ke 18 yang dilaksanakan di kampus Universitas Muhammadiyah Malang pada 1 Agustus.

Aksi ini dilakukan sebagai bentuk memperjuangkan amanat penderitaan rakyat, dimana rakyat dilanda himpitan ekonomi, doyan impor dan jarang ekspor, kriminalisasi ulama dan para tokoh, rezim anti kritik, dll.

Semakin marak kabar rakyat jelata yang diadili dengan pukulan dan tinju, sebab mereka mencuri roti dan ubi. Harga barang curiannya hanya berkisar dibawah 20 ribu, tapi bagaimana dengan “bedebah negri”? Apa kabar “perampok rakyat” yang penjaranya full AC dan kulkas? Tidur tenang dengan perut kenyang, sedangkan lapas pencuri sandal pengap dan gelap.

Aspirasi rakyat ditolak mentah-mentah, masihkah kita mau menjadi barisan mahasiswa yang pasif dan buta terhadap rusaknya kepemimpinan era Jokowi? Bukankah sudah sangat jelas tipuan-tipuan kampanye dan bukti ingkar janjinya?

Maka memang benar apa yang dikatakan dalam al-Qur’an, bahwa ketika kita tak menggunakan hukum yang telah Allah tetapkan pastilah kita berada dalam penghidupan yang sempit. Tetap berada dalam demokrasi sama dengan bunuh diri secara perlahan, menyiksa diri dengan asas-asas demokrasi yang pada hakikatnya menjatuhkan kita ke jurang yang sama. Mengapa?

Sebab dalam sistem demokrasi, para pengusungnya membuat sejumlah aturan hidup yang harus diberlakukan dalam setiap kehidupan seluruh warga dunia.

Akhirnya semua orang lupa bahwa manusia adalah makhluk Allah yang lemah yang tak mungkin mengerti kapasitas aturan hidup yang tepat dan kualiti. Terlebih lagi seluruh aktivitas kita kelak akan diminta pertanggung jawaban oleh Yang Maha Kuasa

Sejauh ini kita melihat demokrasi sebagai sebuah sistem yang sudah sempurna. Perangkat aturannya sudah nampak tepat untuk dilaksanakan, dan kita berusaha untuk patuh dalam menjalankan segala macam aturan itu.

Masalahnya, demokrasi itu diciptakan oleh manusia yang sama-sama punya nafsu dan bebas dari unsur syariat. Sehingga ia ‘mengarang’ tatib itu untuk menguntungkan dirinya sendiri, dan jelas bertentangan dengan Islam.

Lagi-lagi kita lupa bahwa kita adalah seorang hamba, melalaikan hukum-hukum Allah namun dengan sukarela berjalan sesuai trek demokrasi. Sungguh kita telah ditipu.

Beriringan dengan kapitalisme, demokrasi pun tak berhasil menjadikan suara rakyat sebagai pertimbangan turunnya kebijakan. Buktinya BBM naik, rakyat mana yang ingin? Sembako naik, masyarakat mana yang mau? Gas LPG naik, siapa yang berkehendak? Semua itu bukan hasil dari kerja srap aspirasi rakyat melainkan wujud tamak para penguasanya.

Cukup sudah, tak inginkah anda keluar dari zona melelahkan ini?[MO/sr]



Posting Komentar