Oleh: Miftah Karimah Syahidah
(Koordinator Back To Muslim Identity Community Jember)

Mediaoposisi.com- Mahasiswa adalah penyambung lidah rakyat, kepadanya-lah harapan besar masyarakat disandarkan. Sebab atmosfer pendidikan tinggi, menyuguhkan pendidikan yang lebih terfokus dan mendalam, juga menawarkan lingkungan yang intelek.

Untuk bisa survive sebagai mahasiswa, dikatakan perlu daya berpikir lebih daripada mereka yang tidak mengenyam bangku kuliah. Tak hanya otaknya yang diklaim terlatih mengkaji persoalan, mahasiswa berada dibawah institusi legal yang mana track untuk mencapai meja pemerintah lebih dekat.

Maka menjadi hal yang wajar jika mahasiswa hadir menyuarakan aspirasi masyarakat kepada penguasa. Sebagaimana yang dilakukan oleh aktivis IMM selama kunjungannya di Istana Negara, Jakarta, Senin (6/8/2018) siang. Sekitar 177 mahasiswa dari Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) yang hadir pada pertemuan ini. 

Para mahasiswa itu merupakan perangkat dan peserta Muktamar XVIII IMM di Malang, Jawa Timur, Rabu, 31 Juli 2018 lalu. (Kompas.com, 06/08/2018). Kesempatan bertemu orang nomer satu di Indonesia ini tak disia-siakan oleh anggota IMM untuk menanyakan berbagai kebijakan-kebijakan pemerintah yang dirasa tak pro-rakyat dan semakin menyengsarakan rakyat.

Bukan sekali dua kali, pertemuan antara mahasiswa dengan penguasa digelar. Posisi mahasiswa sebagai  sebagai agent of change, moral force, iron stock, dan social control memang tak dapat dianggap remeh. Bahkan  Indonesia mencatat, setiap inci perubahan negeri ini tak lepas dari peran mahasiswa dan pemuda.

Berangkat dari kekecewaan akan ketidakadilan nasib untuk rakyat yang tetap miskin dan sengsara, sementara pemerintah bergelimang harta, membuat mahasiswa mulai bergerak. Posisi mahasiswa yang tidak terlibat dalam pengambilan kebijakan pemerintah, dianggap mampu mengkritisi kebijakan-kebijakan penguasa secar obyektif.

Maka posisi mahasiswa menjadi sangat netral dan strategis untuk turut berpartisipasi secara aktif dalam berpolitik karena menjadi pengawal kebijakan dan penyambung lidah rakyat.

Harus disadari oleh mahasiswa, bahwa tugas yang tengah diembannya bukan tugas yang mudah. Dalam pengemban tugas berat ini, tentu mahasiswa harus memiliki idealisme. Idealisme adalah suatu kebenaran yang diyakini murni dari pribadi seseorang dan tidak dipengaruhi oleh faktor-faktor eksternal yang dapat menggeser makna kebenaran tersebut.

Sebagai pengontrol kinerja pemerintah, mahasiswa harus memiliki prinsip dan memahami hakikat berbangsa dan bernegara yang benar. Mahasiswa harus memiliki standar yang jelas atas baik dan buruknya kebijakan. Sehingga tidak mudah terombang ambing dalam monopoli politik yang hari ini dimainkan oleh pengusanya.

Mahasiswa juga tidak boleh terjebak pada makna perpolitikan yang terbatas pada perebutan kekuasaan. Tetapi mahasiswa harus mampu mngembalikan makna politik pada makna yang sesungguhnya, yakni pengaturan urusan masyarakat.

Terlebih di tahun 2018 yang dinobatkan sebagai tahun politik, mahasiswa harus mampu bersikap tegas dan memiliki landasan yang jelas dalam mengambil keputusan.  Karena tak dipungkiri, dengan posisi strategisnya, mahasiswa seringkali dijadikan sebagai alat politik, demi keuntugan pihak tertentu.

Oleh karena itu, mahasiswa harus memiliki wawasan politik, tidak melihat fakta-fakta politik hanya dari luarnya saja, tapi mahasiswa harus mampu menganalisi secara mendalam, apa tujuan sebenarnya dari kebijakan yang digelontorkan penguasa.

Mahasiswa harus mampu melihat konspirasi di balik sebuah fakta politik agar tidak terjebak pada permainan politik. Mahasiswa juga tidak boleh terjebak pada pragmatisme kampus, terjebak pada rutinitas kampus yang sibuk, hingga menjadikan mereka apolitis (buta terhadap politik).

Karena, Bertolt Brecht, penyair dan dramawan Jerman mengatakan ,

Buta yang terburuk adalah buta politik. Dia tidak mendengar, tidak berbicara dan tidak berpartisipasi dalam peristiwa politik. Dia tidak tahu bahwa biaya hidup, harga kacang, harga ikan, harga tepung, biaya sewa, harga sepatu dan obat, semua tergantung pada keputusan politik.Orang yang buta begitu bodoh sehingga ia bangga dan membusungkan dadanya mengatakan bahwa ia membenci politik. Ia tidak tahu bahwa dari kebodohan politiknya lahir pelacur, anak terlantar, dan pencuri terburuk dari semua pencuri, politisi buruk, rusaknya perusahaan nasional dan multinasional.”

Saatnya Mahasiswa hadir, menyibak bobroknya panggung perpolitikan hari ini. Berikan kontribusi terbaik terhadap kemajuan negeri.[MO/sr]

Posting Komentar