Oleh : Suhaeni 
  
Mediaoposisi.com-Para aktivis yang tergabung dalam Aliansi keadilan untuk korban perkosaan itu menghendaki WA, yang berumur 15 tahun, dibebaskan sangkaan pidananya dalam proses banding yang dimulai pekan ini , seperti dilansir News Indonesia (6/8/2018).

WA (nama inisial) remaja malang asal Jambi ini adalah korban perkosaan kakak kandungnya sendiri, AS (18). AS nekad melakukan perilaku bejatnya dikarenakan telah terpapar film porno yang kerap ditontonnya.

Kisah pilu ini terjadi pada akhir tahun 2017. Naasnya perilaku amoral ini tidak hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali. Ketika rumah sepi, dengan tega AS melakukan tindakan bejatnya. WA hanya pasrah dibawah ancaman abangnya sendiri.

Enam bulan kemudian, sekitar Mei 2018. Dalam kondisi panik dan tak tau harus mengadu ke siapa, WA mengambil keputusan nekad untuk menggurkan kandungannya. Hingga pada Rabu 30 Mei 2018, warga digegerkan dengan penemuan sesosok  janin yang sudah tak bernyawa. Jasad janin telah membusuk dan terbungkus jilbab.

Penemuan itu dilaporkan ke polisi. Tidak butuh lama, polisi berhasil meringkus siapa ibu janin dan pelaku pemerkosaan tersebut. Kakak beradik tersebut diganjar dengan kurungan 2 tahun penjara (AS) dn 6 bulan (WA). Vonis ini sontak menuai protes lantaran korban perkosaan inses yang semestinya mendapatkan  perlindungan malah dipidana. Namun pada tanggal 31 Juli 2018, setelah sidang banding, Majelis Hakim telah menerbitkan penangguhan terhadap anak tersebut.

"Perkara tersebut telah diajukan banding ke PN Jambi oleh penasehat hukum terdakwa. Dan sejak tanggal 31 Juli 2018, majelis hakim telah menerbitkan penangguhan terhadap anak tersebut. Jadi oleh karenanya sejak tanggal tersebut anak itu sudah tidak ditahan lagi," jelas Derman.  (News Indonesia, 06/08/18).

Pemerintah membuka ruang kesempatan bagi sebagian kondisi kehamilan. Aturan tersebut tertuang dalam Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 61 Tahun 2014 yang ditandatangani mantan Presiden  Susilo Bambang Yudhoyono  pada tanggal 21 Juli 2014. PP tersebut mengatur masalah aborsi bagi perempuan hamil yang diindikasikan memiliki kedaruratan medis atau hamil akibat korban perkosaan. Tindakan aborsi akibat perkosaan hanya dapat dilakukan apabila usia kehamilan paling lama 40 hari dihitung sejak hari pertama haid terakhir.

Sebagai umat muslim kita dituntut harus berfikir mustanir (cemerlang) dalam menyelesaikan permasalahan. Tidak hanya penyelesaian dari permukaannya saja, tapi harus mendalam sampai ke akar masalah. Bukan solusi yang disandarkan pada perasaan tapi harus bersumber pada hukum syara.

Aborsi yang dilegalkan oleh pemerintah bukanlah solusi yang fundamental. Selain berdosa, legalisasi aborsi jutru tak menyentuh pada akar persoalan melainkan memperpanjang permasalahan.  Sebagai umat muslim kita harus mendudukan persoalan maraknya kehamilan tak diinginkan (KTD) akibat perkosaan yang berujung pada tindak aborsi adalah sebagai dampak sistem pergaulan yang liberalistik dan permisif serta lemahnya sistem hukum yang ada terhadap pelaku maksiat atau kejahatan.

Menjadikan pelaku aborsi sebagai korban adalah suatu kesalahan sudut pandang, Hal ini juga merupakan penyesatan opini dalam legalisasi pergaulan bebas (freesex), sebagai buah penerapan dari sistem sekuler yang mendewakan kebebasan.

Islam meberikan solusi tuntas atas maraknya kasus pemerkosaan yang berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan (KTD) dan aborsi.
Pertama, secara individu Islam melarang perbuatan yang mendekati zina. Sebagaimana Firman Alloh SWT
وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا
“Dan janganlah kalian mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk.” (Al-Israa’: 32)
Perbuatan yang mendekati zina saja dilarang, apalagi perbuatan yang jelas-jelas zina. Selain itu, menanamkan keimanan dan ketakwaan dalam diri, sehingga menjadi benteng dari perilaku amoral tersebut.

Kedua, Pendidikan baik di keluarga maupun di sekolah harus bisa menanamkan nilai-nilai islam sebagai syarat utama menumbuhkan sikap imun (kebal) terhadap semua bentuk serangan kemaksiatan termasuk freesex. Dengan pembinaan akidah dan hukum-hukum islam. Diharapkan para remaja mampu mengatur perilakunya sehingga tidak terjerumus dalam pergaulan bebas.

Ketiga, peran dari masyarakat (lingkungan) sangat penting, karena betapa banyak remaja yang sebenarnya mengetahui bahaya bakan dosa di hadapan Alloh SWT akibat pergaulan bebas, namun mereka terjerat juga. Ini terjadi karena derasnya arus rangsangan dalam lingkungan sekitarnya sehingga tak mampu menolak dan menahan gejolak jiwa yang mulai terpengaruh.

Kempat, peranan pemerintah. Pemerintah wajib melakukan tindakan meminimumkan semua bentuk ransangan jinsiyah. Rangsangan seksual biasanya adalah pornografi dan pornoaksi yang bertebaran di media. Demikian pula dengan mudahnya remaja untuk mengakses film porno. Pemerintah memliki power untuk menutup seluruh situs ini. Sehingga remaja bebas dari paparan pornografi dan pornoaksi. Pemerintah juga harus memiliki sistem dan tata aturan untuk mengendalikan rangsangan ini. Hanya Sistem dan aturan Islam lah yang mampu mewujudkannya.

Dengan demikian, solusi dari maraknya aborsi yang berujung pada kehamilan yang tidak diinginkan akibat perkosaan, hanya dapat diselesaikan oleh islam. Bukan dengan sistem kapitalisme-sekulerisme yang menumbuhkan nilai-nilai liberalisme.[MO/an]






Posting Komentar