Oleh: Rina Yunita, SP

Mediaoposisi.com- Lain dulu lain sekarang. Begitulah kondisi lapas sukamiskin yang berlokasi di Timur Kota Bandung. Bangunan yang didirikan oleh Wolff Schoemaker pada 1817 ini berbentuk kincir angin khas negeri Belanda. Dahulu lapas ini dikenal dengan sebutan Staftgevangenis Voor Intelectuelen alias Rumah Tahanan Politik. Sekarang lebih dikenal sebagai 'Surganya Para Koruptor'.

Dulu lapas ini memiliki penjagaan yang ketat. Dengan menara pengawas di empat penjuru dan dikelilingi dinding yang tinggi. Mustahil para tahanan dapat kabur meloloskan diri. Tapi sekarang, tak perlu memanjat dinding tinggi penuh resiko. Para tahanan bisa melenggang keluar masuk lapas tanpa risau. Dulu, barang bawaan para tahanan diambil paksa oleh petugas.

Sebaliknya, sekarang mereka bisa membawa barang pribadi yang dibutuhkan. Mulai dari lotion hingga uang tunai.

TribunKaltim.co (20/07/2018) melansir beberapa temuan tak biasa saat tim Mata Najwa berkunjung ke lapas Sukamiskin beberapa waktu lalu. Barang-barang tersebut seperti lotion, alat gym, oven, dispenser, parfum wanita, uang tunai, sofa, tivi, ipad, leptop, dan printer.

Tak hanya gadget elektronik, sel para koruptor itu juga dilengkapi fasilitas kamar mandi yang mewah seperti kloset duduk hingga water heater. Tak ketinggal di sel bandar narkoba, Arman Depari dari BNN menyatakan telah menemukan biliar, karaoke hingga ruang sekretaris (Detiknews.com, 27/07/2018).

Borok di Lapas Sukamiskin terbongkar melalui operasi tangkap tangan (OTT) KPK. Dari OTT Kalapas Sukamiskin Wahid Husen, KPK menemukan ada jual beli fasilitas hingga izin keluar masuk lapas dengan biaya berkisar Rp 200-500 juta.

Napi koruptor Fahmi diduga menyuap Kalapas Sukamiskin Wahid untuk fasilitas selama menghuni lapas. Sel Fahmi Dermawansyah dilengkapi dengan AC, kulkas, tivi dan kamar mandi yang direnovasi ala apartemen (Tempo.co, 23/07/2018).

Sel Luks untuk Napi Bermodal
Ditemukannya berbagai fasilitas mewah dalam lapas Sukamiskin bukanlah kali yang pertama. Patrice Rio Capella, mantan Sekjen Partai NasDem, tak menyangkal mengeluarkan uang untuk fasilitas tertentu di Lapas Sukamiskin. Dari pernyataannya diketahui bahwa Rio menggunakan uang sendiri untuk memperbaiki toilet.

Masih menurut Rio, kondisi lapas yang tak layak mendorong narapidana korupsi di lapas untuk menambah fasilitas tertentu.

Salah satu yang tak cukup layak untuk mereka dan para tamunya adalah ruang pertemuan yang sempit. Padahal kebanyakan kolega yang berkunjung merupakan masyarakat menengah ke atas. Alasan inilah yang membuat Rio dan kolega membangun gazebo di lapas Sukamiskin (bbc.com, 23/07/2018)

Ya. Bagi mereka yang terbiasa bergaya hidup mewah, akan merasa tidak nyaman dengan kondisi lapas yang seadanya. Fasilitas yang sekiranya dibutuhkan akan coba mereka penuhi. Lagi-lagi agar mereka merasa nyaman.

Tentunya pengadaan fasilitas luks ini hanya bisa dilakukan oleh mereka yang bermodal alias berduit. Bagi mereka yang miskin, silakan gigit jari. Yang ada mereka menjadi pesuruh bagi napi yang bermodal.

Sistem kapitalis yang diterapkan saat ini memang berpihak pada pemodal. Siapa yang bermodal kuat akan mampu membeli kenyamanan. Sekalipun mereka berada dalam tahanan. Hal yang lumrah dan 'biasa terjadi' di sistem ini.

Konsekuensi Tindak Kejahatan
Rumah tahanan atau penjara merupakan sanksi hukum yang diberikan kepada para pelaku kejahatan. Fungsinya tidak lain agar mencegah manusia dari tindak kejahatan.

Kejahatan (jarimah) itu sendiri adalah pelanggaran terhadap peraturan yang mengatur perbuatan-perbuatan manusia. Baik hubungannya dengan dirinya sendiri, Rabbnya, dan manusia lainnya (Abdurrahman Al Maliki, 1990).

Dalam Islam, tindak kejahatan yang terkena sanksi penjara berarti mendapatkan sanksi ta'zir. Sanksi yang ditetapkan oleh Khalifah (pemimpin negara) atas tindak maksiyat yang di dalamnya tidak ada had dan kifarat.

Fungsinya dua, yaitu mencegah manusia untuk melakukan tindak kejahatan yang sama dan membuat jera para pelakunya. Jadi, tujuan pelaku tindak pidana dipenjarakan adalah agar pelaku jera, menyesal, mengakui dosanya dan merasakan sempitnya hidup yang dijalani selama masa tahanannya.
Bukan hanya sekedar diputus kebebasannya. Bukan pula memindahkan kenyamanan hidupnya dari luar penjara masuk ke dalamnya. Tapi sekali lagi agar pelaku jera.

Bagaimana mungkin seorang pelaku kejahatan akan merasa terpenjara bila mendapatkan fasilitas luks selama dalam sel? Di luar dia mendapatkan kenyamanan. Di dalam pun mendapat hal yang sama. Tentu tidak akan bisa mencegah pelaku dari melakukan maksiyat yang serupa. Namun, negara juga harus memperhatikan kondisi penjara (lapas) agar tetap manusiawi.

Penjara Islam : Menjerakan juga Memanusiakan
Pemenjaraan merupakan sanksi ta'zir dimana manusia dihalangi (dilarang) untuk mengatur dirinya sendiri. Penjara bukan tempat pengajaran layaknya sekolah. Tapi, penjara tempat menjatuhkan hukuman bagi para pelaku kejahatan.

Oleh karenanya, sanksi penjara harus bisa  menjadi sanksi yang mencegah. Mencegah bagi pelaku juga orang lain melakukan kejahatan yang sama. Dengan alasan ini, maka bangunan penjara harus berbeda dari bangunan lain.

Tidak ada ruang hiburan seperti biliar dan karaoke tuk melepas kejenuhan. Tidak pula kamar seperti hotel yang memberikan kenyamanan. Ruangan di dalamnya dan lorong-lorongnya harus menimbulkan rasa takut dan cemas. Penerangannya remang-remang, baik siang maupun malam. Sel-selnya tak berkasur dan tak pula tikar.

Orang-orang yang yang di penjara harus merasakan perlakuan yang keras, kesepian dan ketakutan. Makanannya pun harus berupa makanan kasar dan sedikit (Abdurrahman Al Maliki dalam Sistem Sanksi, 1990).

Namun, kehidupan di penjara juga harus tetap manusiawi. Negara menjamin kebutuhan nutrisi dan kelangsungan hidupnya. Siapapun tidak boleh membesuk, kecuali kaum kerabat dan tetangganya dengan waktu terbatas.

Bahkan, negara membolehkan istri pelaku kejahatan bermalam di penjara. Para napi dilarang keluar masuk penjara tanpa hajat dan izin. Ia tidak boleh dibully, dibiarkan kehausan, diikat, dan dihina. Juga tidak ada perlakuan khusus bagi publik figur, orang kaya atau ornag terkenal. Semua dipandang sama. Artinya, pelaku akan dijatuhi sanksi tanpa memandang statusnya.

Harus dipahami juga, bahwasanya pemenjaraan adalah menahan seseorang. Bukan mempekerjakan seseorang. Di dalam penjara, para napi tidak boleh dipekerjakan. Baik secara paksa maupun tidak.
Inilah penjara dalam Islam. Sanksi di dalamnya akan memberikan efek jera bagi para pelaku kejahatan.

Tidak ada yang diistimewakan, baik orang kaya maupun miskin. Namun, tidak juga diperlakukan semena-mena atau dibiarkan nyaman. Sanksi seperti inilah yang mampu mencegah manusia dari berbuat kejahatan. Wibawa hukum akan terjaga. Masyarakatpun akan percaya pada hukum yang berlaku.[MO/sr]



Posting Komentar