Oleh: Dwi Rahayuningsih

Mediaoposisi.com-Gonjang-ganjing dunia Pendidikan kian memanas. Riuhnya isu radikalisme di kalangan intelektual ternyata belum usai. Bahkan isu radikalisme ini sudah merambah ke dalam kurikulum Pendidikan. Akibatnya kurikulum agama diminta untuk dikaji ulang.

Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (Ketum PBNU) KH. Said Aqil Sirodj, mendesak agar kurikulum agama dikaji ulang. Ia mengusulkan agar bab tentang sejaranh yang dominan menceritakan perang dikurangi porsinya. (posmetro.info, 29/7/2018)

Menurutnya, disampaikannya sejarah perang pada kurikulum agama seperti perang Uhud dan perang badar menyebabkan radikal. Hal ini disampaikan olehnya pada dalam acara konferensi wilayah PW NU Jatim di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, Ahad (29/7).

Perang adalah bagian dari syariat Islam, sebagai bukti penerapan terhadap ayat-ayat Alquran. Sejarah perang pada masa Rasulullah SAW dan masa-masa setelahnya merupakan perjalanan dakwah Islam. Tak ada satupun perang yang dilakukan kecuali untuk kejayaan dan kemuliaan Islam.

Peperangan yang dilakukan dalam dunia Islam semata-mata untuk ibadah. Untuk menegakkan perintah Allah sebagaimana termaktub dalam Alquran:
Telah diwajibkan atas kalian berperang sementara ia begitu tidak disukai” (QS. Al-Baqarah:216).

Apabila kisah-kisah tentang perang dihapuskan dari kurikulum Pendidikan agama, sama saja dengan menentang ayat-ayat Allah. Islam tidak hanya mempelajari tentang tata cara salat, puasa, dan haji semata.

Namun Islam adalah paket lengkap yang memerintahkan para pemeluknya untuk melaksanakan seluruh aturan yang tertulis dalam Alquran. Termasuk di dalamnya adalah perintah untuk berperang.

Alaminya manusia tidak menyukai peperangan. Namun apa yang disukai dan dibenci manusia belum tentu yang terbaik baginya.

Dan boleh jadi engkau membenci sesuatu namun sesungguhnya ia baik bagimu. Dan boleh jadi engkau menyukai sesuatu padahal ia buruk bagimu. Dan Allah lebih mengetahui, sementara kalian tidak mengetahui apa-apa” (QS. Al-Baqarah:216)

Jika dengan adanya kisah perang dalam kurikulum Pendidikan agama dianggap sebagai benih munculnya radikalisme, maka ini adalah suatu kesalahan berpikir.

Perang dalam Islam, termasuk di dalamnya perang badar, perang uhud, perang mu’tah, dan peperangan-peperangan lainnya dilakukan pasca Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah. Artinya hal ini dilakukan pada saat sudah terbentuk Negara.

Dengan demikian, perang tersebut tidak dilakukan oleh perorangan atau kelompok tertentu. Melainkan atas koordinasi dari negara. Tidak betul jika akhirnya teror yang terjadi di negeri ini dikaitkan dengan ayat-ayat perang dalam Alquran. Karena secara syar’i, berperang hanya boleh dilakukan oleh negara.

Adapun peperangan yang diperbolehkan dalam Islam dikarenakan Umat Islam di dzalimi dan diusir dari negerinya.

Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena sesungguhnya mereka telah dianiaya. Dan sesungguhnya Allah benar-benar maha Kuasa menolong mereka itu, (yaitu) orang-orang yang telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena mereka berkata: “Tuhan kami hanyalah Allah”…”(QS. Al-Hajj:39-40)

Jika kurikulum agama dikaji ulang, terutama yang berkaitan dengan kisah perang justru akan mendistorsi ajaran Islam. Islam tidak boleh disampaikan setengah-setengah. Dalam hal akidah dan ibadah semata. Namun wajib hukumnya untuk menyampaikan ajaran Islam secara sempurna.

Agar para siswa paham bahwa Islam bukan agama ritual, melainkan ideologi yang memiliki aturan yang sempurna.

Wahai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan. Dan janganlah kalian mengikuti hawa nafsu syaitan karena sesungguhnya syaitan adalah musuh yang nyata bagimu” (QS. Al-Baqarah:208).

Pernyataan dari Ketum PBNU untuk mengkaji ulang kurikulum Pendidikan agama, patut untuk dicurigai. Terlihat jelas adanya sekulerisasi dalam Pendidikan.

Agama hanya boleh dipelajari dari sisi materi yang mengatur ranah individu. Sementara syariat yang lain dipinggirkan bahkan hendak dibuang. Hal ini sejalan dengan ide-ide sekuler yang memisahkan agama dari kehidupan.[MO/sr]






Posting Komentar