Oleh: Azna Kamila Rabbani

Mediaoposisi.com-Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama(Ketua PBNU) KH Said Aqil Siroj, mendesak agar kurikulum agama di kaji ulang lagi.

Ia mengusulkan agar bab tentang sejarah yang dominan hanya menceritakan perang dikurangi porsinya. "Saya melihat pelajaran agama yang disampaikan sejarah perang,misalnya perang badar, perang Uhud, pantesan radikal" ( republika.co.id 29/7/2018)

Pernyataan itu menjadi sesuatu yang menggelitik untuk dipertanyakan. Bagaimanakah pribadi generasi muda akan mengenal Islam kaffah bila sejarah yang seharusnya diterima dengan jelas dan utuh, harus terpotong-potong ..ini yang dibolehkan dan itu yang tidak boleh di ajarkan.

Sebagai seorang muslim, belajar sejarah itu untuk mengetahui peradapan Islam, apalagi belajar shiroh Rosulullah itu merupakan bagian dari keimanan. Karena shiroh Rosulullah itu sendiri di tulis dengan cara periwayatan sebagaimana hadist.

Bagaimana dahulu Rosulullah memulai peperangan, perang yang tidak sembarang perang tapi perang yang di bingkai dalam syariat Islam, semua di balut dalam aturan Islam.

Dimana dalam perang tidak boleh membunuh wanita, anak-anak dan orang tua, tidak menghancurkan fasilitas beribadah dan bangunan, tidak membunuh orang yang menyerah, memperlakukan tawanan dengan baik dan menerima tawaran damai.

Bagaimana Rosulullah dahulu berdakwah, semula yang dilakukan secara sembunyi-sembunyi sembunyi hingga terang-terangan.

Ketika mampu mendirikan negara. Yang mampu mengontrol semua pelaksanaan syariat Islam dalam penerapannya.

Maka itu semua harus difahami dengan jelas oleh kita sebagai seorang muslim, sehingga tidak gegabah dalam menyebut Islam itu RADIKAL.

Sebagai muslim kita harus mengimani apapun yang dibawa Rosulullah.(Al Hasyr, 7).

Dan dalam kondisi saat ini, pendidikan adalah salah satu sarana bagaimana kita mendidik generasi muda sehingga menghasilkan pola pikir yang kita kehendaki.

Saat ini Barat tidak menginginkan umat Islam kembali mengkaji khazanah Islamnya, hingga membuat mereka jelas bagaimana gambaran Islam dan penerapan hukumnya.

Dengan upaya menjegal hukum Islam dan mengkerdilkan makna jihad pun akan terus dilakukan dengan cara mengutak-atik kurikulum pendidikan, hingga adanya dikotomi pendidikan.

Sikap kita justru harus semakin kuat untuk mengkaji khazanah Islam, sejarah mencatat bahwa orang-orang besar yang mampu mengharumkan peradapan Islam adalah mereka yang justru mengkaji khazanah Islam termasuk sejarah dan shiroh Rosulullah, contohnya:

Muhammad Al Fatih, yang bisa termotivasi menaklukkan konstantinopel karena membaca shiroh dari tarikh khulafa hingga hadist bisyarah Rosulullah menancap dalam jiwa dan menjadi cita-cita beliau.[MO/sr]

Posting Komentar