Oleh: Ifa Mufida

Mediaoposisi.com-Hampir sekitar 70 persen tubuh manusia terdiri dari air. Air memegang peranan penting untuk mendukung semua fungsi tubuh agar bisa terus bekerja optimal. Inilah kenapa manusia sangat membutuhkan air untuk bertahan hidup.

Anda mungkin bisa bertahan hidup beberapa minggu tanpa makanan, tapi bagaimana jika tidak minum air sama sekali? Orang normal umumnya maksimal hanya dapat bertahan hidup selama 100 jam, alias sekitar tiga sampai empat hari, jika tidak minum air sama sekali.

Lalu Bagaimana dengan minum air yang tak layak untuk diminum? Mengonsumsi air tak layak minum sama dengan mengundang penyakit masuk ke tubuh. Maka sudah sudah selayaknya masyarakat harus mendapatkan air yang layak untuk dikonsumsi.

Oleh karena itu, ketersediaan air bersih dan layak adalah kebutuhan pokok yang harus dijamin oleh Negara untuk semua masyarakat.Saat ini, Krisis air bersih tengah melanda hampir seluruh wilayah Indonesia bahkan berbagai penjuru dunia.

Puluhan juta jiwa tidak mendapatkan  akses terhadap air bersih dan sanitasi yang baik. Kian parah serta makin meluas tiap kali musim kemarau datang.

Menurut BMKG ancaman kekeringan tahun ini meliputi sebagian besar Pulau Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, sebagian Maluku Utara, Bagian Selatan Papua Barat dan Papua sekitar Merauke.

Tidak saja mengancam kesehatan jutaan jiwa, namun juga kelestarian kehidupan  di bumi. Bukan saja menimpa Indonesia, akan tetapi seluruh dunia.

Padahal, hampir 71% permukaan bumi terdiri dari air, yang kelimpahan itu begitu menonjol di negeri ini. Karena sekitar 21% total sumber air di wilayah Asia-Pasifik berada di wilayah Indonesia., Di samping itu, meski volume air tawar kurang dari 1%, namun bila dibagi rata kepada seluruh penduduk di bumi ternyata lebih dari cukup. Bila penduduk bumi ada 7 miliar orang, maka setiap orang mendapatkan 1457 m3 per hari.

Penelitian terkini para ahli iklim dan lingkungan menunjukan laju deforestasi yang sangat cepat adalah yang paling bertanggungjawab terhadap darurat kekeringan dan krisis air bersih, di samping iklim ekstrim dan pemanasan global.

 Deforestasi maupun iklim ekstrim merupakan faktor penghambat keberlangsungan daur air.

Penting diingat, laju deforestasi yakni alih fungsi hutan yang begitu pesat selama beberapa dekade terakhir bukan karena tekanan populasi manusia sebagaimana yang banyak disangkakan. Akan tetapi lebih karena tekanan politik globalisasi dengan sejumlah agenda neoliberal.Berupa liberalisasi sumber daya alam kehutanan, pertambangan, hingga pembangunan kawasan ekonomi khusus dan energi baru terbarukan.

Kondisi ini diperparah dengan eksploitasi mata air oleh pebisnis air minum kemasan, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan. Semuanya, yakni deforestasi, eksploitasi mata air, pencemaran sungai dan liberalisasi air bersih perpipaan memiliki ruang yang subur dan luas dalam sistem kehidupan kapitalis sekuler yang saat ini mendominasi kehidupan bernegara.

Dengan adanya krisis air bersih ini dan ancaman kekeringan menunjukkan bahwa Negara sebagai pemangku kebijakan telah lalai akan tanggung jawabnya untuk menjamin ketersediaan air untuk masyarakat.[MO/an]


















Posting Komentar