Oleh: Alfiana Norsa Audina

Mediaoposisi.com- 73 tahun lamanya Indonesia telah merdeka. Demi merayakan hari kemenangan ini, berbagai jargon, dan perayaan dihelat tiap tahunnya sebagai rasa syukur. Adapun keberhasilan ini tidaklah lepas dari semangat juang dan tumpah darah para pahlawan yang telah membebaskan Indonesia dari keserakahan dan ketamakan para penjajah.

Namun apakah makna kemerdekaan hanya sebatas angkat kakinya para penjajah dari bumi Indonesia ? Sejatinya, sebuah penjajahan tidak hanya dilancarkan secara fisik, namun juga non fisik. Pada zaman modern, penjajahan non fisik disebut dengan istilah neoimperialisme/penjajahan gaya baru.

Pada penjajahan fisik, berbagai kerugian besar biasa terjadi, baik secara materil maupun non, fisik maupun psikis. Ketika penjajahan fisik telah dihentikan, maka tidak ada lagi aktivitas penyerangan di wilayah jajahan. Namun berbeda dengan neoimperliasme. Penjajahan yang tak kasat mata ini nyatanya lebih cerdik dan mematikan dibanding penjajahan secara fisik.

Bahkan perbaikannya memakan waktu yang sangat lama. Jika secara fisik, terjajah benar-benar sadar bahwa ia sedang dijajah, berbanding terbalik dengan neoimperialisme ini. Terjajah tidak akan sadar dengan mudah bahkan merasa legowo ia telah dijajah. Sayangnya, inilah yang terjadi saat ini.

Jika para penjajah telah angkat kaki 73 tahun lamanya, namun tidak dengan pemikiran-pemikirannya. 73 tahun bangsa ini telah merdeka, 73 tahun pula bangsa ini telah dijajah kembali. Pemikiran-pemikiran yang bersumber pada barat telah mempengaruhi segala aspek kehidupan bangsa ini. Baik secara ekonomi, pendidikan, politik, sosial, hukum, dsb.

Hal ini membuktikan bahwa negara kita selama ini hidup di bawah bayang-bayang kehidupan barat. Atas nama globalisasi, berbagai pemikiran dan kebudayaan barat telah lama diadopsi. Padahal, liberalisme yang menjadi asas berpikir barat nyatanya telah menghasilkan berbagai kerusakan, bahkan di ibu pertiwinya sendiri.

Dalam segi ekonomi misalnya, menurut Sekretaris Jenderal OECD Jose Angel Gurria, kesenjangan antara kaya dan miskin di 35 negara anggota Organisasi bagi Kerjasama dan Pembangunan Ekonomi (OECD)  berada pada tingkat tertinggi dalam 30 tahun terakhir. Hal ini mencakup AS, Jepang, dan ekonomi-ekonomi terbesar Eropa.

Selain itu tingkat kriminalitas di negara maju bahkan menduduki posisi tertinggi. Pada survey yang dilakukan oleh situs nationalmaster.com menyatakan bahwa AS menduduki posisi pertama dengan jumlah 11.877.218 kasus. Lalu pada posisi setelahnya diisi oleh U.K dan Jerman.

Begitupula pada aspek sosial, data dari situs keamanan New America  menyatakan bahwa penyebab angka kematian tertinggi di AS adalah penembakan antar warga. Dan masih banyak fakta-fakta mencengangkan yang terjadi di negara adidaya tersebut.

Maka tidak heran bahwa liberalisme yang digencarkan melalui kebijakan-kebijakan yang diterapkan berimplikasi pada kerusakan berbagai aspek. Baik jurang kemiskinan yang semakin menganga, kriminalitas dan kejahatan seksual yang semakin tidak terbendung, pendidikan dan kesehatan yang semakin tak terjamah karena tingginya harga, hutang yang membelit, dsb.

Maka, masihkah negara ini pantas dikatakan merdeka sedangkan para penjajah masih langgeng menancapkan pemikirannya, rakyat masih belum leluasa menikmati limpahnya SDA ibu pertiwi, dinamika politik yang masih berlandaskan “mahar” ? Sungguh, gambaran ini sangat jauh dari idealnya sebuah kemerdekaan.[MO/sr]

Posting Komentar