Oleh: Riska Casassi

Mediaoposisi.com- Meiliana divonis 18 bulan penjara oleh Pengadilan Negeri Medan karena terbukti menodai agama.

"MUI menyesalkan banyak pihak yang berkomentar tanpa mengetahui duduk perkara yang sebenarnya. Sehingga pernyataannya bias dan menimbulkan kegaduhan dan pertentangan di tengah-tengah masyarakat," kata Wakil Ketua Umum MUI Zainut Tauhid Sa'adi, dalam dalam keterangan tertulisnya, Sabtu (25/8/2018). (Liputan6.com)

Pihak yang mempersoalkan vonis diberikan kepada Meiliana harusnya melihat kasus tersebut secara luas. Sebab, MUI berpandangan kasus menjerat Meiliana bukan hanya sebatas volume suara azan melainkan keluhan disampaikan terdakwa mengandung unsur penodaan agama.

"Jika masalahnya hanya sebatas keluhan volume suara azan terlalu keras, saya yakin tidak sampai masuk wilayah penodaan agama, tetapi sangat berbeda jika keluhannya itu dengan menggunakan kalimat dan kata-kata yang sarkastik dan bernada ejekan, maka keluhannya itu bisa dijerat pasal tindak pidana penodaan agama," kata Zainut.

Kasus Meiliana adalah murni kasus penodaan agama karena statemennya termasuk kata-kata sarkastik dan ejekan terhadap Agama Islam. Namun kasus ini dimanfaatkan oleh kalangan sekuleris dalam upaya menghapus Undang-undang penistaan agama dengan dalih isu toleransi serta isu minoritas dan mayoritas yang kemudian diframing oleh media-media sekuler.

Sejak Kekhilafahan Turki Utsmani runtuh, berbagai penistaan terhadap agama Islam terus bermunculan yang dilakukan oleh berbagai pihak, baik atas nama individu atau kelompok. Terus tumbuh dari waktu ke waktu.

Tindakan mereka terus dibiarkan oleh negara dengan alasan kebebasan berpendapat. Ya, kebebasan berpendapat bagi kelompok mereka. Beda halnya ketika umat Islam yang berpendapat meski tak mengandung penistaan agama, langsung dicap radikalis, intoleran, dan sebagainya.

Umat Islam memang tidak tinggal diam menyaksikan hal tersebut. Meski demikian, upaya mereka senantiasa terbentur oleh tembok kekuasaan.

Seharusnya umat semakin tersadar bahwa negara sekular saat ini sangat sulit diharapkan bahkan mustahil melindungi agama Islam dan umatnya dari berbagai penistaan. Karena itu, sitem Islamlah yang akan menjaga dan memelihara Islam serta kaum Muslim, termasuk mencegah dan membasmi berbagai penistaan agama Islam, menjadi sangat relevan dan wajib untuk segera diwujudkan. [MO/sr]

Posting Komentar