Oleh: Despry Nur Annisa Ahmad

Mediaoposisi.com- Tiap tanggal 17 Agustus diperingati sebagai hari kemerdekaan negeri yang sama-sama kita cintai ini, Indonesia. Menelisik lebih jauh tentang makna merdeka, sejatinya kata 'merdeka' adalah perjuangan yang belum usai bagi negeri ini.

Masih panjang jalan kita untuk meraih makna sejatinya, yaitu merdeka dari intervensi asing-aseng dan merdeka dari menghamba dari aturan makhluk.

Jika kita mengamati selama 73 tahun kemerdekaan negeri ini diproklamirkan, hegemoni perayaan senantiasa dihadirkan dan hanya dijadikan sebatas perayaan warisan saja. Betapa tidak, kita hanya sebatas terjebak pada euforia perayaan dan melupakan substansi kemerdekaan itu sendiri. Terdapat empat alasan utama mengapa penulis mengatakan demikian.

Pertama, mengenai perayaan peringatan Hari Kemerdekaan. Hampir seluruh wilayah di Indonesia menggelar beragam lomba untuk memeringatinya. Misalnya saja, lomba panjat pinang, balap karung, makan kerupuk, hingga balap kelereng.

Menurut sejarawan Asep Kambali yang juga merupakan Founder Komunitas Historia Indonesia, lomba-lomba tersebut justru jauh dari semangat menghargai perjuangan para pendiri bangsa dan pahlawan yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Bahkan, beliau menyebut lomba itu tidak pantas untuk dilakukan.

Hasil riset beliau pada koleksi museum Tropen Belanda tentang asal mula panjat pinang digelar, menjelaskan bahwa ternyata panjat pinang sebenarnya adalah adaptasi dari permainan serupa asal Belanda yang bernama "De Klimmast" yang berarti panjang tiang. Mereka mengadakan lomba panjat tiang sebagai hiburan pada perayaan-perayaan hari besar disana.

Foto-foto yang tersebar di internet tentang panjat pinang kuno diambil antara tahun 1917-an hingga kurun tahun 1930-an. Foto-foto itu pun kini dapat pembaca lihat dengan mudah di laman google.com karena memang era teknologi sudah canggih.

Penjajah Belanda memperkenalkan permainan ini di Tanah air. Namun berbeda dengan di negara asalnya, selama permainan ini di gelar tak satupun orang Belanda yang mau ikut bermain. Mereka hanya tertawa-tawa melihat orang pribumi saling pijak berusaha merebut sekarung makanan dan pakaian yang digantung di pucuk pinang.

Disinilah pribumi (kaum yang dijajah) dilecehkan. Orang-orang pribumi yang bersusah payah jatuh bangun memanjat tiang licin ini menjadi hiburan tersendiri bagi orang Belanda. Mereka memandang pribumi begitu lucu karena mau berebut untuk sesuatu yang bagi mereka tak berharga. Jadi, perlombaan ala kemerdekaan 17an merupakan Warisan Penjajah Belanda.

Sungguh betapa miris dan hinanya bangsa ini direndahkan dengan berbagai permainan seperti itu. Hal tersebut menunjukkan dengan jelas bahwa tidak ada korelasi antara perlombaan 17agustusan dengan substansi kemerdekaan itu sendiri.

Kedua, penjajahan secara psikis masih berlangsung. Kasus Freeport yang mewakili ‘tangan’ Kapitalisme, kasus Meikarta dan reklamasi Jakarta yang mewakili ‘tangan’ Sosialisme-Komunisme adalah wujud nyata bahwa negeri yang tercinta ini mendapat intervensi dari asing-aseng.

Kehadiran proyek besar tersebut menjadi bukti bawa kita memang tidak dijajah secara fisik namun dijajah secara psikis. Penjajahan psikis alias penjajahan pemikiran inilah yang justru lebih membahayakan karena membuat kita menjadi bangsa yang pemikirannya bergantung pada Asing dan Aseng sehingga dengan mudahnya menyerahkan aset negeri ini kepada mereka untuk dikelolah.

Padahal proyek besar tersebut sangat membahayakan kelangsungan hidup penduduk pribumi dan akan semakin menambah angka kesenjangan akibat gentrifikasi.

Ketiga, utang luar negeri meningkat. Kementerian Keuangan mencatat utang pemerintah per Juli 2018 sebesar Rp 4.253 triliun. Jumlah tersebut naik Rp 26 triliun dari bulan sebelumnya sebesar Rp 4.227 triliun.

Selasa (14/8/2018) lalu, Luky Alfirman selaku Direktur Jenderal Pembiayaan dan Pengelolaan Risiko Kementerian Keuangan menyatakan bahwa, "Stok utang kita sampai saat ini per Juli capai Rp 4.253 triliun atau perbadingan dengan PDB (produk domestik bruto) 29,74 persen". Peningkatan jumlah utang ini disebabkan karena pembiayaan proyek infrastruktur.

Namun, menurut peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Rizal Taufikurahman peningkatan utang yang digunakan untuk pembiayaan infrastruktur tidak menunjukkan peningkatan produktivitas sektoral. Hal tersebut terkonfirmasi melalui data pertumbuhan sektor padat tenaga kerja seperti industri, pertanian, dan perdagangan.

Tiga sektor yang menguasai 68 persen tenaga pertumbuhan ekonomi itu tumbuh di bawah 5 persen. Beliau berkata, "ada mismatch dengan industri-industri yang mestinya bisa meningkatkan produktivitas".

Keempat, rupiah melemah. Sejak 19 Juli lalu, rupiah kembali terpuruk di atas Rp14.500 per dolar. Bahkan sejak januari 2018, rupiah telah menunjukkan pelemahan. rupiah sudah melorot di rentang Rp 13.300-13.400 per dolar. Melemahnya rupiah ini tentu berimbas pada semakin meningkatnya harga-harga kebutuhan domestik di pasaran.

Belajar dari keempat alasan utama tersebut, maka seharusnya tiap perayaan momentum kemerdekaan Indonesia haruslah menjadi bahan perenungan mendalam sekaligus menentukan langkah yang tepat untuk melanjutkan perjuangan.

Jangan sampai tiap tahun kita merayakan kemerdekaan, hanya terus-terusan terjebak pada euforia saja. Jangan sampai tiap tahun kita merayakan kemerdekaan, kita hanya sebatas mengenang perjuangan para pejuang kemerdekaan tapi tidak menjaga spirit mereka semua untuk memerdekakan diri kita dari segala bentuk intevensi.

Esensi merdeka itu bukan sebatas tentang perayaan tapi menyoal tentang mempertahankan dan terus berupaya memberikan kontribusi yang terbaik di bumi tempat kita berpijak. Namun, bisakah kita merdeka jika Asing dan Aseng masih melenggang bebas di negeri kita? Tentu jawabnya, tidak!

Belum lagi, dulu ruh yang digunakan untuk memerdekakan negeri ini adalah ruh islam. Hal tersebut terbukti dalam pembukaan UUD 1945 yang menyatakan bahwa negeri ini merdeka atas berkat rahmat Allah SWT.

Meskipun demikian, hari ini kita justru diperhadapkan fakta bahwa ajaran islam semakin dikebiri secara sistemik di negeri ini. Padahal justru pekikan takbir dari pejuang kemerdekaan itulah yang menggerakkan semangat masyarakat terdahulu untuk membebaskan negeri ini dari belenggu penjajahan.

Maka tugas kita sekarang adalah menyatukan langkah untuk meraih kemerdekaan hakiki, yakni dengan berjuang menjadikan Islam sebagai ruh negeri ini. Sebab perjuangan inilah yang sejatinya belum diraih seutuhnya oleh para pejuang kemerdekaan terdahulu.

Jika islam yang diperjuangkan mati-matian untuk diterapkan di negeri ini, maka penguasaan asing-aseng terhadap aset negeri ini bisa tergeser sebab islam memiliki seperangkat aturan yang menjadikan suatu negara tersebut bisa mandiri. Jika negeri ini mandiri, permasalahan kesenjangan ataupun utang luar negeri juga bisa terselesaikan. Allah SWT berfirman:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (TQS. Al-A’raf: 96)[MO/sr]

Posting Komentar