Oleh: Nirmawati S. 
(Member Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com- "17 Agustus tahun 45 itulah hari kemerdekaan kita..."
Itulah penggalan salah satu lagu kebangsaan Indonesia yang ramai di nyanyikan ketika perayaan 17-an. Ya, bulan Agustus adalah bulan kemerdekaan Indonesia. Merdeka yang artinya bebas, bebas dari penjajahan dari segi apapun -katanya-

Apakah benar kita sudah merdeka? Terbebas dari penjajahan dalam segala bidang? Faktanya;

• Negeri ini masih dicekik ribuan triliun hutang berbunga haram
• Kemiskinan dan pengangguran semakin meluas, terasa berat untuk bisa hidup layak
• Harga BBM dan bahan pokok terus merangkak naik
• Luas negeri ini dipenuhi sumber daya, namun garam masih impor, singkong masih impor
• Negeri katulistiwa dihampari kekayaan alam yang luar biasa, namun dikelola oleh orang lain. Rakyat sendiri hampir tak menikmatinya
• Luas negara ini jutaan hektar, namun lebih dari setengah dikuasai asing hingga rakyat sendiri tak lagi punya lahan luas. Tak jarang mendapat penggusuran.

Uraian diatas sedikit dari banyaknya fakta yang dapat diartikan bahwa kita masih terjajah! Indonesia sebetulnya belum benar-benar merdeka dalam arti sesungguhnya. Negeri ini masih terjajah dalam banyak segi bahkan disemua bidang kehidupan.

Selamanya negeri ini akan terjajah bila tak ada kemauan kuat dari masyarakatnya untuk keluar dari penjajahan ini. Kita butuh merebut kemerdekaan.

Caranya? Berjuang mengembalikan ideologi dan sistem Islam dengan tetap menyadarkan masyarakat. Ideologi dan sistem Islam ini bisa terwujud dalam sebuah institusi bernama Daulah Islamiyyah atau Khilafah Rosyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah.

Syariat Islam yang akan diterapkan oleh Khilafah Islam akan menjamin kesejahteraan rakyat karena kebijakan politik ekonomi Islam adalah menjamin kebutuhan pokok setiap individu rakyat. Lebih dari kebutuhan pokok (primer), negara juga akan memberikan kemudahan kepada rakyat untuk mendapatkan kebutuhan sekunder dan tersier.

Khilafah Islam juga akan menjamin keamanan rakyat dengan menerapkan hukum yang tegas. Berdiri tegak diatas sebuah ideologi yang sesuai fitrah manusia, menentramkan jiwa dan memuaskan akal. Menjadikan setiap hamba menghamba kepada Sang Maha Pencipta, bukan menjadi budak sesama hamba, maka akhirnya menjadi Rahmatan Lil ‘Alamin (Rahmat bagi seluruh alam)
---
Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam secara (kaffah) keseluruhan dan janganlah kamu turuti langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (QS. Al Baqarah: 208)[MO/sr]

Posting Komentar