Oleh: Ayu Mela Yulianti, SPt

Mediaoposisi.com- Gagasan tentang "jalan tengah" dipercaya menjadi kunci perdamaian dalam peradaban manusia. Hal itu yang menjadi perbincangan dalam acara World Peace Forum ketujuh yang diselenggarakan pada 14-16 Agustus 2018 di Hotel Sultan, Jakarta.

Para peserta, yang diwakilkan oleh Utusan Khusus Presiden untuk Dialog dan Kerja Sama Antar-Agama dan Peradaban Din Syamsuddin, menyimpulkan jalan tengah sebagai orientasi terhadap nilai positif dalam kehidupan.

"Jalan tengah sebagai jalan atau pendekatan dalam membangun kehidupan, menyelesaikan masalah yang ada, sangat berorientasi kepada nilai-nilai yang positif," kata Din, saat konferensi pers untuk menutup acara di Hotel Sultan, Jakarta, Kamis (16/8/2018).

Nilai-nilai positif tersebut dapat berupa keadilan, toleransi, kerja sama, inklusi, dan kompromi. (JAKARTA.KOMPAS.com. , Kamis, 16 agustus 2018).

Sekilas, pendapat dan sumbangsih pemikiran tentang jalan tengah ini seolah benar adanya. Namun, jika dikaitkan dengan fakta yang terjadi saat ini, sesungguhnya yang menjadi akar permasalahan seluruh problem yang terjadi didunia ini adalah adanya ketidakadilan dan kezaliman akibat penerapan sistem hidup Sekuler Kapitalis.

Mengapa demikian ?, karena sistem hidup sekuler kapitalis ini berorientasi pada pemisahan kehidupan dunia dengan akherat, peraturan hidup yang hanya berorientasi pada keuntungan materi semata tanpa mengindahkan halal-haramnya jalan yang ditempuh.

Juga merupakan sistem hidup yang hanya bersumber dari hawa nafsu manusia belaka. Tidak mengakui aturan agama, tidak mengakui keberadaan tuhan sebagai Sang Maha Pengatur dan pemilik aturan, tidak mengakui dan tidak mau mengambil aturan yang telah ditetapkan oleh Sang Maha Pemilik Ilmu, Allah SWT.

Inilah akar masalahnya. Sehingga banyak terjadi kerusakan dan kezaliman, akibat peraturan hidup yang dibuat hanya berdasar pada akal manusia dan hawa nafsunya belaka. sehingga sulit membangun kehidupan yang beradab.

Manusia saat ini hidup layaknya binatang. Yang kuat memakan yang lemah, yang pintar membodohi yang sudah bodoh. Semua aturan norma agama dilanggar, bahkan pernikahan sejenis atau pernikahan dengan binatangpun diperbolehkan dalam aturan kapitalis sekuler, dengan mengatasnamakan hak asasi manusia ( HAM ), atas nama kebebasan berperilaku.  Naudzubillah.

Maka sebenarnya, solusi atas seluruh permasalahan yang terjadi dimasyarakat adalah bukan dengan cara melakukan kompromi hukum atau meniadakan hukum-hukum yang berasal dari Sang Maha Pencipta, Allah SWT. Atau membuat hukum yang hanya bersumber dari akal manusia semata. Karena sejatinya akal manusia bersifat terbatas dan memiliki keterbatasan.

Sehingga Jalan tengah yang merupakan kompromi nilai-nilai semata bukanlah solusi atas permasalahan manusia. Sedangkan solusi permasalahan manusia akan selalu berkaitan dengan hukum berikut mekanisme penerapannya, berupa upaya pencegahan dan sanksi hukum jika terjadi pelanggaran terhadap suatu masalah, sehingga dihasilkan efek solusi yang mengikat bagi manusia dalam penerapannya.

Inilah esensi dari sebuah hukum, sebagai pengawal perilaku manusia. Karenanya hukum haruslah bersifat pasti, sehingga tidak terjadi dualisme hukum. Digunakan tergantung kepentingan penguasa, menjadikannya hukum karet yang memiliki standar ganda. Sehingga kata adil sulit untuk didapat.

Seyogyanya, seorang muslim ketika ingin menyelesaikan masalah, haruslah menjadikan Islam sebagai kepemimpinan dalam berpikirnya, sehingga akalnya tidak mencari solusi yang bertentangan dengan hukum syariat Islam.

Menjadikan Rasulullah SAW sebagai rujukan dalam menyelesaikan permasalahan hidup.  Karena telah ada dalam diri Rasulullah Muhammad SAW suri tauladan yang baik. Ini adalah jaminan dan garansi keberhasilan.

Fakta menyebutkan, jika pada saat ini banyak terjadi pembantaian umat manusia. Di Suriah, di Palestina, di Rohingya dan utamanya diseluruh negeri-negeri muslim.

Terjadi ketidakadilan dalam memegang prinsip hidup berdasarkan keyakinan hidup masing-masing individu, contoh, muslim bercadar yang diintimidasi lewat pemberitaan dikaitkannya identitas mereka dengan terorisme, tanpa diberikannya ruang untuk memberikan penjelasan dan pembelaan diri.

Terjadi kezaliman dan ketidakadilan. Masyarakat secara umum sudah mengetahui jika rasa adil sangat mahal harganya.  Yang tidak mampu membelinya tidak akan bisa merasakannya. Ini adalah fakta yang terjadi saat ini

Terjadi ketimpangan pembangunan dalam berbagai sektor kehidupan. Sebagai contoh, gedung sekolah antara desa dan kota yang jauh berbeda dari segi fasilitas dan kondisi gedungnya.

Seluruh permasalahan manusia diatas, tidak akan pernah bisa diselesaikan hanya dengan pembahasan nilai-nilai norma semata, yang berorientasi pada nilai-nilai positif, berupa keadilan, toleransi, kerjasama, inklusi dan kompromi. Tanpa ada mekanisme penjabaran tata cara penerapan dan sanksi bagi yang melanggar.

Fakta hidup menunjukkan jika manusia memiliki nilai rasa dan potensi hidup. Ia memiliki akal, perasaan atau naluri, semisal rasa memiliki, rasa menyayangi, rasa ingin mengagungkan sesuatu dan kebutuhan hidup, semisal rasa haus, rasa lapar, dan lain sebagainya. Karena adanya potensi ini, maka manusia hidup. Potensi inilah yang mendorong manusia untuk memenuhinya.

Maka Islam melalui syariatnya, menuntun manusia bagaimana cara memenuhi seluruh potensi hidupnya dengan cara yang baik, sesuai fitrahnya sebagai manusia (manusiawi), mampu menentramkan jiwanya, dan memuaskan akalnya artinya solusi yang syariat Islam berikan adalah sempurna dan paripurna juga bersifat sangat solutif, tidak akan menyisakan pertanyaan lanjutan atau masalah baru.

Sebuah kewajaran, karena syariat Islam berasal dari Sang Maha Pencipta manusia. Allah SWT. Yang pasti tahu titik kelemahan dan kelebihan manusia, makhluk yang diciptakannya. Penerap hukum Syariat kaffah adalah Khalifah dalam bingkai Khilafah. Selainnya tidak bisa dan tidak sah.

Islam menuntut seorang muslim untuk terikat dengan norma aturan yang telah ditetapkannya, dalam kehidupannya, dalam memenuhi seluruh hajat hidup dan potensi hidupnya. Tidak ada kompromi hukum, karena seluruh aturan hidupnya harus terikat dengan hukum syariat, yang telah Allah SWT dan RasulNya tetapkan.

Tidak ada kompromi hukum dan nilai. Semua hukum dan nilai dalam pandangan syariat Islam bersifat pasti. Bukan hukum karet yang bisa ditarik ulur.

Karena itu, permasalahan untuk menciptakan agar berkembang nilai-nilai positif dimasyarakat bukanlah terletak pada konsep jalan tengah. Akan tetapi solusinya adalah dengan kembali pada penerapan hukum yang berasal dari Sang Pembuat hukum, Allah SWT. Melalui mekanisme penerapan syariat Islam Kaffah dalam bingkai Khilafah. Yang berasal dari Sang Pencipta Manusia, Allah SWT. 

Maka wajiblah seorang muslim, jeli dan memahami akar masalah yang sekarang terjadi, sehingga tidak salah dalam memberikan solusi atas permasalahan yang ada.

Juga wajiblah seorang muslim berhati-hati dalam menetapkan sebuah konsep hukum, sehingga tidak terjebak dalam permainan sistem kapitalis sekuler yang seluruh konsepnya bertentangan dengan Islam.

Sungguh, Maha benarlah Allah SWT yang telah mengabarkan kepada kita bahwa sebaik-baiknya hukum adalah hukum yang telah Allah SWT dan RasulNya tetapkan. Bukan hukum kompromi yang berasal dari hawa nafsu manusia belaka.[MO/sr]




Posting Komentar