Oleh: Fitri 

Mediaoposisi.com-"Kami MUI Sumbar dan MUI Kab/Kota se-Sumbar menyatakan tanpa ada keraguan bahwa: 'Islam Nusantara' dalam konsep/pengertian definisi apa pun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatera Barat).

Bagi kami, nama 'Islam' telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apa pun," demikian kesimpulan MUI Sumbar sebagaimana dokumen unggahan akun Facebook Ketua Umum MUI Sumbar, Buya Gusrizal Gazahar, pada 23 Juli 2018, seperti dikutip detik.com, Rabu (25/7/2018).

Nantinya juga akan ada wacana menusantarakan beberapa agama-agama lainnya yang juga di anut oleh masyarakat Indonesia semisal "kristen Nusantara" mungkin.?

Jika Islam Nusantara diartikan dalam wujud pembiasaan dan pempeloporan untuk senantiasa melestarikan nilai-nilai kearifan lokal dan budaya nusantara seperti halnya memakai Kain batik , ulos, songket, tapis dan kebaya sebagai ciri khas pakaian Masyarakat nya, menggunakan seni Wayang, membatik,menenun dan lain nya sebagai sarana menyebar luaskan kisah.

Sejarah, perjuangan, ilmu pengetahuan dan teknologi dengan tetap berpedoman pada Syara', bagaimana Islam secara umum telah dan akan mengatur semua sendi-sendi kehidupan masyarakat, tentang bagaimana pakaian itu harus dibuat sedemikian hingga agar sesuai dengat syariat Islam.

Menyebarkan sejarah, ilmu pengetahuan, serta kisah perjuangan Islam hingga dapat masuk ke wilayah nusantara secara utuh tanpa ada nafsu dan kepetingan pribadi, megnapa tidak.?

Maka " Islam Nusantara" itu akan menjadi sah-sah saja diterapkan jika itu tidak menyimpang dari hukum Syara', meng-Islamkan Nusantara dengan jalan menyesuaikan segala bentuk kearifan lokal, keanekaragaman budaya dengan Islam, bukan malah melakukan hal yang sebaliknya.

Dengan menjadikan "Islam Nusantara" dengan maksud segelintir oknum saat ini dimana "Islam Nusantara" di aplikasikan dengan jalan Menusantarakan Islam, merubah apa yang Allah perintahkan dan Rosululloh contohkan seperti sholat berbahasa Indonesia, memakai batik dan kebaya namun dengan bentukan yang dibuat sedemikian rupa sehingga menonjolkan aurat kaum wanita.

Berlomba-lomba membuat sejarah yang simpangsiur tentang sejarah kebangkitan Islam di Nusantara, tentang bagaimana sejarah kepemimpinan di zaman Khilafah dan lain sebagainya, maka itu sudah menjadi bentuk penyimpangan secara Syara', menyimpang dari bagaimana aturan Islam itu sendiri Allah swt ciptakan, tidak sesuai dengan Alquran dan Sunnah Rosululloh saw.

Dalam Sistem demokrasi saat ini memang Negara mengatur kebebasan masyarakatnya dalam hal memeluk agama, namun  hal itu berbeda sekali dalam sistem Islam Kaffah dimana seorang pemimpin nya tidak hanya mengatur urusan beragama saja namun juga memastikan masyarakatnya menjalankan agamanya tersebut sesuai hukum Allah dan tidak berdasarkan hawa nafsu seperti saat ini.

Sudah jelas Islam mengatur masyarakatnya dalam segala aspek, dari segi agama, sosial, budaya maupun politik. Maka kembalikanlah segala aturan hanya pada aturan Allah.[MO/sr]

Posting Komentar