Oleh: Reni rosmawati

Mediaoposisi.com- Belakangan ini istilah Islam Nusantara sering didengungkan di tengah masyarakat. Menanggapi hal tersebut majelis ulama indonesia (MUI) Sumatera Barat mengadakan rapat di Padang pada tanggal 11/07/2018.

Dalam rapat itu majelis ulama Sumatera Barat menolak konsep Islam Nusantara. Isi rapat itu menegaskan pula bahwa Islam Nusantara dalam konsep pengertian definisi apapun tidak dibutuhkan di ranah Minang (Sumatera Barat) karena Islam telah sempurna dan tidak perlu lagi ditambah dengan embel-embel apapun. Detiknews.

Menurut MUI SUMBAR sejumlah pertimbangan untuk menolak Islam Nusantara adalah pertama Islam Nusantara mengundang sejumlah perdebatan yang tak bermanfaat dan melalaikan umat Islam dari berbagai persoalan penting, istilah Islam Nusantara bisa membawa kerancuan dan kebingungan dalam memahami Islam.

Istilah Islam Nusantara juga dinilai mengandung potensi  penyempitan makna Islam yang universal. Istilah Islam Nusantara juga sering digunakan untuk merujuk cara beragama Islam yang toleran. Menurut MUI Sumbar toleransi hanya merupakan satu aspek dalam Islam. Padahal banyak aspek lain dalam Islam.

Islam tidak bisa direduksi hanya menjadi satu aspek saja melainkan harus menyeluruh. MUI Sumbar juga menilai Islam Nusantara berpotensi mengotak-ngotakan umat Islam dan memunculkan pandangan negatif terhadap umat Islam yang berasal dari wilayah lain.

Penolakan MUI Sumbar terhadap istilah Islam Nusantara ini, mendapat tanggapan keras dari MUI pusat, ketua umum MUI Ma’ruf Amin akan menegur MUI Sumatera barat yang menolak konsep Islam Nusantara.

Ma’ruf Amin menegaskan MUI merupakan wadah bagi semua pihak sebagai perekat dan representasi umat. Sikap MUI semestinya menampung semua ajaran Islam termasuk Islam Nusantara yang jelas MUI tidak boleh menampung ajaran yang menyimpang.

Ia menambahkan MUI Provinsi wajib mematuhi aturan MUI pusat. Ma’ruf Amin mengingatkan sesama elemen bangsa tidak boleh saling hantam. (Detiknews 26/07/2018).

Pernyataan Ma’ruf Amin ini pun diamini oleh presiden Joko Widodo. Jokowi menekankan pentingnya menjaga persatuan menjelang pemilu 2019.

Jokowi menyampaikan pesan ketum MUI Ma’ruf Amin untuk saling empati satu dengan lainnya dan menegaskan kalau kita jangan suul tafahum (berpemahan buruk) tapi harus husnul tafahum (berpemahaman baik) karena kalau suul tafahum itu gampang curiga, berprasangka buruk, gampang mengembangkan pikiran-pikiran negatif (jl. Mabes Hankam jakarta Timur, kamis 26/07/2018.

Islam sendiri adalah agama rahmatan lil’alamin artinya Islam agama yang membawa rahmat dan kesejahteraan bagi seluruh alam semesta, manusia, hewan, tumbuhan dn jin. Sesuai firman Allah SWT “Dan tidaklah kami mengutus kamu (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi semesta alam. “ (TQS. al-Anbiya ayat 107).

Al-Qur'an diturunkan oleh Allah SWT sebagai petunjuk bagi seluruh umat manusia dan tidak ada kekhususan bagi orang Arab, Asia, Eropa, dsb. Tentu kesalahan fatal jika Islam disejajarkan dengan adat Istiadat dan budaya sehingga menganggap ajaran Islam dapat disesuaikan dengan budaya lokal.

Untuk hal yang sifatnya mubah tentu saja Islam bisa mengakomodasi budaya daerah selama tidak menyalahi syariah.

Islam bukan pula produk budaya Arab, melainkan perintah Allah SWT untuk seluruh umat manusia, karena itu sistem peradilan Islam, sistem pendidikan Islam hingga sistem pemerintahan Islam berupa khilafah bukanlah produk budaya Arab. Melainkan perintah Allah dan ajaran Islam.

Maka dari itu dapat disimpulkan istilah Islam Nusantara bukan Islam melainkan alat penjajahan baru musuh Islam, karena sebagaimana kita ketahui negara-negara kapitalis penjajah dan para pendukungnya berusaha memberikan citra negatif terhadap syariah Islam dan khilafah secara sistematis.

Syariah dan khilafah digambarkan sebagai sesuatu yang membahayakan negeri muslim termasuk Nusantara ini. Tentu sekecil apapun celah untuk menghadang tegaknya khilafah akan mereka dukung termasuk ide Islam Nusantara yang bermuatan sekularisme ini, karena bisa menjadi jalan mulus bagi musuh Islam untuk bisa melanggengkan hegemoninya di negeri-negeri muslim termasuk indonesia. 

Celakanya, gerakan  sekularisasi untuk mengokohkan imperialisme di dunia Islam, khususnya di indonesia melalui paham Islam Nusantara ini telah ditelan mentah-mentah oleh petinggi-petinggi negeri ini.

Karena itu, kaum muslim harus menyadari bahwa kelompok-kelompok liberal yang eksis saat ini tidak lebih dari mesin politik untuk kepentingan penjajah musuh Islam yang berkedok semboyan memajukan atau mencerahkan Islam.

Maka dari itu kaum muslim harus kembali kepada Islam yang sesungguhnya yakni Islam yang diturunkan Allah SWT sebagai rahmat bagi seluruh alam, bukan Islam moderat ataupun Islam Nusantara.[MO/sr]






Posting Komentar