Oleh: Fardila Indrianti, S.Pd
(The Voice Of Muslimah Papua Barat dan Anggota Akademi Menulis Kreatif)

Mediaoposisi.com-Ditengah isu intoleransi dan radikalisme yang tengah marak ditujukan kepada sebagian umat Islam saat ini, mucul jargon “Islam Nusantara” yang diklaim lebih ramah dan sesuai dengan budaya dan ciri khas bangsa Indonesia.

Ini bukan kali pertama Islam disandingkan dengan berbagai istilah yang berusaha dilekatkan kepada ajaran dan kaum muslimnya, sebut saja istilah “Islam Radikal”, “Islam Militan” dan lain sebagainya.

Pengkotak-kotakan seperti ini sebenarnya merupakan bagian dari strategi Barat untuk menghancurkan Islam. Strategi penghancuran ini dibangun dengan dasar devide et impera atau politik pecah belah.

Dalam pembukaan acara istighotsah menyambut Ramadhan dan pembukaan munas alim ulama NU di masjid Istiqlal Jakarta 15 Juni 2015 silam, ketua umum PBNU Said Aqil Siradj mengatakan NU akan terus memperjuangkan dan mengawal model Islam nusantara.

Menurutnya, istilah Islam nusantara merujuk pada fakta sejarah penyebaran Islam di wilayah nusantara yang disebutnya dengan cara pendekatan budaya, bukan dengan doktrin yang kaku dan keras.

Said Aqil juga menegaskan bahwa model seperti ini berbeda dengan apa yang disebutnya sebagai “Islam Arab” yang selalu konflik dengan sesama Islam dan perang saudara. Senada dengan Said Aqil, presiden Jokowi dalam acara yang sama menyatakan dukungannya secara terbuka atas model Islam nusantara ini.  (www.bbc.com/15/6/2015)

Ide Islam nusantara dianggap sebagai solusi atas isu terorisme dan radikalisme yang saat ini gencar dijadikan kambing hitam sebagai pemecah belah persatuan bangsa.

Islam nusantara dianggap mampu menjaga keutuhan NKRI yang dianggap telah diserang oleh paham ekstrimis dan radikal, dengan dalih bahwa Islam nusantara atau yang dikenal dengan nama Islam moderat mampu menjaga keragaman, keutuhan dan toleransi negara Indonesia yang terdiri dari beragam suku bangsa, adat istiadat dan agama.

Namun faktanya, Islam nusantara melahirkan pemikiran dan perilaku yang merusak, sebagai contoh tilawah Al-Qur’an pada peringatan Isra Mi'raj (15/5/2015) menggunakan langgam (irama) Jawa di istana negara. Pembacaan ayat suci ini justru menuai kontroversi di masyarakat dan banyak diperbincangkan di media sosial.

Pembacaan model ini dinilai tidak wajar dan menyalahi hukum tajwid. Selain itu, viral pula narasi yang dibawakan Yahya Cholil Staquf dalam sebuah penggalan video bulan Juni 2018 lalu tentang Islam nusantara dan Islam Arab. Menurutnya Islam nusantara merupakan Islam sejati bukan Islam abal-abal ala Timur Tengah.

Sangat disayangkan ide ini justru dilontarkan oleh intelektual, ulama, bahkan pemimpin negeri ini. Tidak tepat rasanya jika menghadapkan konsep Islam nusantara dengan Islam di Timur Tengah, ini dikarenakan sejumlah negara di Timur Tengah, misalnya Suriah adalah proses perlawanan melawan penguasa yang zalim.

Hal ini tentu semakin menguatkan para pembenci Islam yang berusaha menghancurkan dengan cara-cara nyata maupun halus, hal seperti ini harus ditolak oleh umat Islam. Sejatinya Islam nusantara adalah bagian dari narasi deradikalisasi yang diusung rezim saat ini, alih-alih menjadi penengah hal ini justru memberikan dampak besar ditengah-tengah umat.

Pertama, meracuni aqidah umat Islam karena pada dasarnya adalah bagian dari rangkaian proses sekularisasi pemikiran Islam ditengah-tengah umat dengan kemasan dan warna baru.

Kedua, menjauhkan umat dari pemahaman Islam sebagai ideologi yang tidak hanya merupakan ajaran ritual namun juga memancarkan berbagai aturan hidup disertai dengan tata cara penerapannya.

Ketiga, menghancurkan syariah Islam karena memberi peluang untuk mempertanyakan bahkan menyangsikan kewajiban penerapan Islam secara menyeluruh.

Keempat, menyusupkan paham puralisme yang menganggap semua agama adalah sama. Hal ini disebabkan para pengusung ide Islam nusantara tidak mengklaim kebenaran hanya milik 1 agama saja.

Kelima, menghadang upaya penegakan syariah dan khilafah karena menganggap hal itu sebagai suatu ancaman yang dapat merusak persatuan bangsa.

Dikhawatirkan lambat laun, pemahaman seperti ini akan berujung pada apa yang disebut gerakan sekularisasi, tentu kita masih ingat sejarah telah mencatat sekularisasi ala Turki oleh Kemal Attaturk yang mengubah adzan dengan bahas Turki.

Pelarangan penggunaan jilbab, masjid dialihfungsikan, pelarangan nama-nama bayi dalam bahas Arab dan seluruh perilaku maksiat dibolehkan atas nama kearifan lokal. 

Al- Maududi dalam bukunya Toward Understanding Islam (1966) menyatakan bahwa Islam tidak dapat dinisbatkan kepada pribadi atau kelompok manusia mana pun karena Islam bukan milik pribadi, rakyat, atau negeri mana pun.

Islam bukan produk akal pikiran manusia. Penggunaan label Islam nusantara ini sesungguhnya berbahaya bagi akidah dan persatuan umat. Menurut mubalighah sekaligus pemerhati masalah sosial ustadzah Ir. Dedeh Wahidah Ahmad, ide Islam moderat atau Islam nusantara tidak ada dalam khasanah pemikiran Islam kecuali setelah daulah khilafah runtuh tahun 1924.

Beliau menambahkan bahwa ide moderat adalah ide asing dalam Islam, kafir barat dan antek-anteknya yang notabene adalah muslim yang ingin melekatkan Islam dengan istilah tidak ekstrim dan toleran, yang mana ide ini akan menyimpangkan kita dari Islam dan hukum-hukumnya, serta mendangkalkan aqidah dan syariah.

Senada dengan pernyataan tersebut, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumatera Barat (Sumbar) menolak ide Islam nusantara.

Berdasarkan surat resmi tertanggal 21 Juli 2018, mereka secara tegas menyatakan bahwa Islam nusantara tidak dibutuhkan di Ranah Minang. Menurut ketua MUI Sumbar Buya Gusrizal Gazahar, pihaknya menilai perkataan, perbuatan dan sikap yang dilakukan di bawah konsep Islam nusantara jauh melenceng. (www.jawapos.com/26/7/2018)

Pemikiran mendasar Islam tidaklah bersumber dari budaya-budaya yang berusaha disandingkan dengan syariat Islam.

Hal ini jauh lebih tinggi dan lebih mulia. Islam adalah agama yang Allah Ta’ala turunkan kepada nabi Muhammad Salallahu ‘Alaihi Wassalam sebagai pedoman hidup manusia, bukan sebatas agama ritual saja, sehingga aqidah Islam mampu menjawab pertanyaan mendasar manusia;

darimana manusia berasal, untuk apa manusia hidup di dunia, dan mau kemana manusia setelah kematian. Selain itu aturan Islam yang bersumber dari Allah dan Rasul-Nya menjadi sumber hukum bagi manusia dalam menjalani kehidupannya di dunia, ini adalah konsekuensi keimanan terhadap Allah Subhanah Wa Ta'ala.

Maka dapat disimpulkan bahwa Islam tidak sebatas ibadah mahdhah yang hanya berkaitan dengan sholat, puasa zakat, sampai melaksanakan ibadah haji saja.

Namun lebih dari itu, Islam merupakan sebuah ideologi yang memiliki aturan meliputi seluruh aspek kehidupan, baik dalam hal individu, keluarga, masyarakat hingga bernegara seperti dalam sistem pendidikan, ekonomi, sosial, sanksi, politik, pertahanan dan keamanan, sehingga menjadi solusi tuntas permasalahan umat manusia.

Maka segala pemikiran maupun ide-ide yang sengaja dibenturkan dengan Islam jelas harus ditolak, karena sama artinya menganggap ajaran dan syariat Islam memiliki cacat. Islam yang dibawa oleh Rasulullah bukan untuk mengarabkan Islam, bukan pula menusantarakan Islam, melainkan untuk mengislamkan seluruh alam tanpa pemaksaan.

Jika Islam diartikan secara dangkal dan berdasarkan perasaan semata dengan mengabaikan sumber hukum Al-Qur’an dan Sunnah, dan menjadikan budaya sebagai tolak ukur kebenaran dan keburukan, maka dikhawatirkan akan menjadi bagian dari propaganda yang disusupkan ke tengah-tengah umat.

Oleh sebab itu, dibutuhkan keberadaan sebuah institusi pemerintahan Islam bagi seluruh kaum muslim secara keseluruhan dalam menjaga dan merealisasikan segala syariat Islam secara menyeluruh, baik dalam menjaga keharmonisan hidup antar umat Islam maupun antar umat beragama.[MO/sr]




Posting Komentar