Oleh : Yulida Hasanah 
( Aktif mengisi Majlis Taklim Khoirun Nisa’ Jember)

Mediaoposisi.com-Beberapa waktu lalu, telah terselenggara sebuah Konferensi yang bertema "Moderasi Islam dalam Perspektif Ahlussunnah wal Jam'ah". Tepatnya pada tanggal 26-29 Juli 2018 di Lombok, NTB,. Dari Konferensi tersebut, peserta menyepakati 9 butir rekomendasi yang disebut Lombok Message.

Dilansir dari Liputan6.com, Sabtu (28/7/2018), disebutkan konferensi ini merupakan bagian dari rangkaian panjang konferensi-konferensi sebelumnya yang diselenggarakan ulama Islam di berbagai dunia, dalam upaya menanggulangi ekstremisme dan terorisme.

Konferensi ini telah menjadikan wasathiyyah (moderasi) Islam dalam perspektif Ahlussunnah wal Jama'ah sebagai metode dalam menghadapi ekstremisme dan terorisme.

Adapun 9 rekomendasi yang dituangkan dalam "Lombok Message" sebagai berikut:

1. Para peserta konferensi bersepakat bahwa Ahlussunnah wal Jama'ah adalah mereka yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah, yaitu para pengikut Asy'ariyyah-Maturidiyyah, para fukaha, ahli hadis dan tasawuf yang mengikuti Alquran dan hadis Nabi Muhammad SAW.

2. Konsep "al-firqah al-nâjiyah" (kelompok yang selamat) seperti disebut dalam beberapa riwayat dan menjadi salah satu pemicu perpecahan umat Islam, adalah masalah khilafiah yang belum disepakati para ulama.

3. Sektarianisme, rasisme dan diskriminasi dalam bentuk apa pun bertentangan dengan wasathiyyah (moderasi) Islam, dan harus dilawan dengan berbagai cara, sebab mengganggu keutuhan Tanah Air, memperkeruh harmoni sosial antara warga negara yang memiliki hak dan kewajiban yang setara.
4. Al-Azhar al-Syarif adalah garda depan wasathiyyah Islam sepanjang sejarah, lebih dari seribu tahun, dengan metode yang mengakui dan mengukuhkan keragaman, menghormati pandangan dan sikap orang lain yang berbeda, tanpa menuduhnya kafir (takfîr), fasiq (tafsîq), dan berbuat bid'ah (tabdî).

5. Perlu membangun konsep pemikiran, bimbingan dan pendidikan bagi mereka yang keluar dari jalur wasathiyyah, yaitu penganut pemikiran ekstrem yang kembali (returnis) dari daerah-daerah konflik, agar dapat menjadi warga negara yang baik.

6. Perlu membuat desain program pendidikan yang dibangun atas dasar wasathiyyat Islam dan nir-kekerasan, dengan target sasaran anak-anak yang akan menjadi harapan masa depan, dalam upaya membangun dan melindungi mereka dari pemikiran ekstrem yang bertentangan dengan wasathiyyah.

7. Wasathiyyah Islam adalah metode dalam beribadah, bermuamalah, praktik ekonomi, sosial dan seluruh aspek kehidupan lainnya.

8. Perlu menyelenggarakan seminar dan konferensi, serta memanfaatkan berbagai media sosial dalam melakukan propaganda wasathiyyah dan counter pemikiran ekstrem.

9. Wasathiyyah Islam memanusiakan dan memuliakan manusia, terlepas dari perbedaan agama dan keyakinan, menanamkan prinsip musyawarah dan keadilan sosial bagi seluruh penduduk suatu negara, menegaskan persatuan Tanah Air dan menanamkan loyalitas terhadap negara.

Dari ke sembilan poin per poin dari “Lombok Message” tersebut, ada  dua hal yang perlu untuk dicermati lebih mendalam. Pertama, di satu sisi dari poin yang satu dengan poin yang lain terdapat tumpang tindih.

Kedua, di sisi lain, sangat tersirat bahwa tujuan dari Konferensi Moderasi Islam ini adalah untuk menangkal ekstrimisme dan radikalisme Islam yang diklaim menjadi pemecah belah kesatuan negara.

Jika menilik dari poin pertama, para peserta Konferensi sepakat bahwa ahlusunnah wal jama’ah adalah mereka yang mengikuti ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya, yang berpegang teguh pada Alquran dan Sunnah.

Jelas poin ini bertentangan dengan poin –pin yang disepakati selanjutnya yaitu poin 2 sampai poin ke 9, dimana ketika mereka sepakat bahwa hanya Ajaran Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya yang berpegang teguh pada Al Qur’an dan Sunnah tidaklah mengenal wasathiyah Islam yang mereka artikan sebagai ‘moderasi Islam’ itu sendiri.

Selain itu, poin satu terlihat hanya sebatas formalitas untuk ‘melegalkan’ apa yang mereka sebut dan propagandakan di poin 2 sampai poin ke 9.

Artinya tujuan sesungguhnya dari Lombok Message tetaplah bukan pada poin yang pertama, tetapi lebih pada tujuan ‘Moderasi Islam’  sebagai solusi atas masalah yang mereka sebut  sebagai ‘ekstrimisme atau radikalisme’ Islam.

Padahal, apakah dua istilah yang disebutkan di dalam rekomendasi tersebut betul-betul berasal dari Islam. Atau dengan kata lain, apakah betul Islam yang dimaksud adalah sumber dari ekstrimisme dan kekerasan/radikalisme?

Membedakan antara Moderasi Islam dengan Wasathiyah
Moderasi Islam dikenal sebagai upaya menjadikan Islam yang pertengahan,yakni  Islam yang lebih toleran, Islam yang tidak "kaku".

Dimana istilah Islam moderat sendiri selalu di-lawan kata-kan dengan Islam radikal,Islam fundamental, atau ekstrimis yakni Islam yang "kaku" yang cenderung tak mau menerima perbedaan alias intoleran. Kaum muslimin pada dasarnya tak pernah mengenal istilah-istilah itu.

Rand Corporation dalam “Building Moderate Muslim Networks” menjelaskan karakter Islam moderat, yakni mendukung demokrasi, pengakuan terhadap HAM (termasuk kesetaraan jender dan kebebasan beragama), menghormati sumber hukum yang non sekterian, dan menentang terorisme.

Dalam ukuran yang lebih detil, Robert Spencer – analis Islam terkemuka di AS – menyebut kriteria seseorang yang dianggap sebagai muslim moderat antara lain:

menolak pemberlakuan hukum Islam kepada non muslim; meninggalkan keinginan untuk menggantikan konstitusi dengan hukum Islam; menolak supremasi Islam atas agama lain; menolak aturan bahwa seorang muslim yang beralih pada agama lain (murtad) harus dibunuh; mendorong kaum muslim untuk menghilangkan larangan nikah beda agama dan lain-lain.

Jadi sangat jelas sekali istilah Islam moderat ataupun Moderasi Islam ini muncul dari barat, bukan dari Islam. Moderasi Islam, tak lebih adalah upaya ‘Sekularisasi’ dalam rangka menjauhkan Syari’at Islam yang sempurna dari kehidupan kaum muslimin.

Wasathiyah ; Menerapkan Islam secara kaffah
Berbeda dengan wasathiyah, Istilah Wasathiyah telah disebutkan dalam al Qur’an.
Dan yang Demikian itu Kami telah menjadikan kalian (umat islam), sebagai ‘ummatan wasathan’ (umat pertengahan) agar kalian menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kalian.” (TQS. Al Baqarah 143)

Ibnu Jarir at thabari menjelaskan, al wasthu bermakna adil dan juga bisa bermakna pilihan. Sebab, orang yang terpilih di antara manusia adalah yang paling adil di antara mereka (Tafsir At Thabari, 3/143)

Dan dalam hal ini, sifat adil dan terpilih yang Allah SWT sandangkan kepada umat Islam telah digambarkan sejak Islam menjadi Asas berdirinya sebuah negara dan menjadi aturan kehidupan bermasyarakat di Madinah.

Sebab, Islam adalah agama (ad-din) yang diturunkan oleh Allah SWT kepada Nabi Muhammad saw. untuk mengatur hubungan manusia dengan tuhannya, diri dan sesamanya.

Dengan demikian, Islam bukan hanya mengatur masalah akidah, ibadah dan akhlak, tetapi juga mengatur masalah ekonomi, pemerintahan, sosial, pendidikan, peradilan dan sanksi hukum serta politik luar negeri. Inilah yang dimaksud dengan Islam kaffah, sebagaimana yang dinyatakan oleh Allah:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.” (TQS. al-Baqarah [02]: 208)

Karena itu, Islam adalah agama yang lengkap dan sempurna, sehingga Islam tidak lagi membutuhkan agama atau ajaran lain. Ini ditegaskan oleh Allah:

Pada hari ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu” (TQS. al-Maidah [05]: 03) 

Bahkan, jika ada yang merasa perlu untuk mengambil dari agama atau ajaran lain, dengan tegas Allah menolaknya, dan apa yang diambilnya itu tidak akan pernah diterima oleh Allah:
Siapa saja yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (TQS. Ali Imran [03]: 85)

Maka, sikap terhadap Ajaran Islam moderat atau Moderasi Islam ini harus kita tolak. Dan yang kita butuhkan saat ini adalah Islam Kaffah, bukan Moderasi Islam ![MO/sr]









Posting Komentar