Oleh: Lilih Solihah  
(anggota komunitas revowriter)

Mediaoposisi.com- Tahun depan pemerintah menghadapi tantangan cukup berat khususnya dalam mengelola anggaran karena utang jatuh tempo yang besar, utang jatuh tempo yang harus dibayar pemerintah di tahun 2019 mencapai Rp 409 triliun, ungkap menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati
Direktur Jendral pengelola pembiayaan dan resiko kementerian keuangan Luky Alfirman mengatakan bahwa realisasi pembiayaan yang dilakukan pemerintah hingga akhir juli 2018 mencapai Rp 206,6 triliun,

sebagian besar diantaranya berasal dari pembiayaan utang sebesar Rp 205,57 triliun atau mencapai 451,5 persen dari APBN 2018 sebesar Rp 399,22 triliun

Sebelumnya Zulkifli Hasan menyebutkan bahwa utang pemerintah yang besar itu harus di kelola dengan baik dan ia juga mempertanyakan kemampuan mencicil utang pemerintah karena angkanya sudah diluar batas kewajaran, namun demikian hal ini ditampik oleh menteri keuangan Sri Mulyani, ia menganggap dalam masalah utang ini kami sangat hati-hati dalam mengelolanya  (sumner: tempo.co)

Setara dengan ungkap Zulkifli Hasan Rizal Ramli pun menyebutkan hal yang sama bahwa kondisi perekonomian Indonesia khususnya dalam masalah utang sedang dalam kondisi yang kurang sehat, namun pemerintah selalu mengelak dengan menyatakan bahwa utang Indonesia masih aman.

RR pun mengatakan pemerintah selalu membandingkan rasio utang Indonesia lebih baik dengan negara lain seperti Amerika Serikat dan Jepang. Padahal kata dia perbandingan tersebut tak sesuai untuk dilakukan, pemerintah menggunakan data yang selektif, data yang "ngawur" . Amerika itu negara yang bisa cetak uang dolar di jual di luar negeri di beli di luar negeri kata RR di JCC Senayan, Jakarta, selasa (3/7/2018) (detik.com)

Kalau utang negara sudah dalam batas tidak wajar maka rakyat yang menjadi korban, dengan kenaikan harga harga dipasaran, menaikkan BBM, sampai kenaikan  pajak kepada rakyat,
Dalam islam masalah utang seperti ini bisa di selesaikan dengan  baik
Kalau kita telaah lebih mendalam ada beberapa hal yang menjadikan utang Luar negeri menjadi bathil[6].

Pertama, Utang luar negeri tidak dapat dilepaskan dari bunga (riba). Padahal Islam dengan tegas telah mengharamkan riba itu. Riba adalah dosa besar yang wajib dijauhi oleh kaum muslimin dengan sejauh-jauhnya.

Allah SWT berfirman :

وأحل الله البيع وحرم الربا

"Dan Allah telah menghalalkan jual-beli dan mengharamkan riba…” (Qs. al-Baqarah:   275).

Rasulullah Saw bersabda:

الربا ثلثة وسبعون بابا وأيسرها مثل أن يكح الرجل أمه

"Riba itu mempunyai 73 macam dosa. Sedangkan (dosa) yang paling ringan (dari macam-macam riba tersebut) adalah seperti seseorang yang menikahi (menzinai) ibu kandungnya sendiri…” (HR. Ibnu Majah dan al-Hakim, dari Ibnu Mas’ud).

Kedua, terdapat unsur Riba Qaradl, yaitu adanya pinjam meminjam uang dari seseorang kepada seseorang dengan syarat ada kelebihan atau keuntungan yang harus diberikan oleh peminjam kepada pemberi pinjaman Riba semacam ini dilarang di dalam Islam berdasarkan hadits-hadits berikut ini;

Imam Bukhari meriwayatkan sebuah hadits dari Abu Burdah bin Musa; ia berkata, “Suatu ketika, aku mengunjungi Madinah. Lalu aku berjumpa dengan Abdullah bin Salam. Lantas orang ini berkata kepadaku:

''Sesungguhnya engkau berada di suatu tempat yang di sana praktek riba telah merajalela. Apabila engkau memberikan pinjaman kepada seseorang lalu ia memberikan hadiah kepadamu berupa rumput kering, gandum atau makanan ternak, maka janganlah diterima. Sebab, pemberian tersebut adalah riba”. (HR. Imam Bukhari)

Ketiga. utang luar negeri menjadi sarana (wasilah) timbulnya berbagai kemudharatan[7], seperti terus berlangsungnya kemiskinan, bertambahnya harga-harga kebutuhan pokok dan BBM, dan sebagainya. Semua jenis sarana atau perantaraan yang dapat membawa kemudharatan padahal keberadaannya telah diharamkan adalah haram. Kaidah syara’ menetapkan:

الوسيلة إلى الحرام محرمة

"Segala perantaraan yang membawa kepada yang haram, maka ia diharamkan"

Keempat, bantuan luar negeri telah membuat negara-negara kapitalis yang kafir dapat mendominasi, mengeksploitasi, dan menguasai kaum muslimin. Ini haram dan tidak boleh terjadi.

Allah SWT berfirman:

ولن يجعل الله للكافرين على المؤمنين سبيلا

"Dan sekali-kali Allah tidak akan menjadikan jalan bagi orang-orang kafir untuk menguasai kaum mu`minin.” (Qs. an-Nisaa: 141).[MO/sr]




Posting Komentar