Oleh: Rima septiani

Mediaoposisi.com-Setelah beberapa waktu lalu viralnya sosok Bowo Alpenliebe remaja 13 tahun yang bernama asli Prabowo Mondardo yang mendadak terkenal bermodal aplikasi Tik Tok. Belakangan ini Para pegiat dunia maya mulai beralih pada ‘Keke Challenge’ sebuah goyangan yang diiringi lagu “In My Feelings” milik Drake.

Ada yang bergoyang mengikuti mobil yang sedang berjalan dangan pintu yang tetap terbuka, ada yang dijalan dan beragam versi. Faktanya banyak orang yang tersihir mengikuti Keke Challenge ini. Viralnya Keke Challege ini dipopulerkan oleh Shiggy seorang komedian yang menggunggah videonya pada 30 Juni 2018 yang kemudian disaksikan oleh 6 juta mata.

Tak hanya dalam negeri, Tarian Shiggy ini menjadi terkenal dimancanegara. Buktinya, aktor Will Smith juga mengikuti tarian itu. Pada 18 Juli 2018, Drake bertemu langsung sang pelopor Keke Challange yakni Shiggy untuk memberikan apresiasinya atas tariannya itu yang membuat lagu “In My Feelings” mendunia(www.idntimes.com).

Selain itu, ada juga Momo Challenge sebuah tantangan berbahaya yang diperuntukan untuk gadis berusia 12 tahun.

Tantangan ini mengajak sesorang untuk melakukan bunuh diri. Keke Challenge dan Momo Challenge sejatinya merupakan tantangan yang sangat digemari anak-anak, remaja bahkan dewasa yang sebenarnya ini sangat berbahaya untuk dilakukan. Dikutip pada www.okezone.com(12/8/2018)

Generasi Krisis identitas
Begitu prihatin dengan kondisi remaja Muslim dinegeri kita yang sejatinya kehilangan identitas sebagai Muslim sejati. Faktanya mereka lebih memilih menggunakan waktu emas dengan mengikuti arus kehidupan kaum sekularis yang sia-sia memuja dunia.

Memilih hidup tanpa aturan agama dan mencintai kebebasan tanpa standar Halal dan Haram. Mencicipi satu persatu produk sampah kaum barat menguatkan bukti bahwa kita adalah korban.

Pengabaian terhadap peran agama menimbulkan kegersangan spiritual yang melanda remaja Muslim sekarang. Berbagai kasus maraknya  pembunuhan, pemerkosaan, bunuh diri, Aborsi dll muncul dari rendahnya kadar keimanan pada Allah.

Parahnya lagi, terdapatnya stigma negatif yang ditanamakan pada sesorang bahwa ketika mengkaji Islam lebih dalam maka berpotensi menciptakan bibit-bibit teroris yang dibenci masyarakat dengan embel-embel ‘Islam fanatik’. Belajar islam yang biasa-biasa saja. Seolah-olah mengenal Allah dan Rasulnya adalah hal yang harus dibatasi, Cerita surga dan neraka bagaikan dongeng belaka.

Krisis moral yang sering kita saksikan sekarang merupakan salah satu efek dari pengabaian nilai spiritual dalam mendidik anak. Didukung dengan media yang menawarkan tontonan yang kurang mendidik, mengajak bermaksiat, lupa mati dan mengajarkan sifat Hedonis.

Perilaku Pacaran adalah hal yang wajar bagi remaja, saling pandang, pegangan tangan, berciuman sampai melakukan perzinahan merupakan kebiasaan yang menjadi tren sekarang. Naudzubillah.
Mengenalkan identitas ‘saya Muslim’ bukan sesuatu yang penting untuk dibanggakan lagi. Faktanya sekarang, Muslim malu dengan Islam yang diyakininya.

Yang paling banyak mengemis, mencuri, merokok, mengancam, dan memfitnah itu Muslim. Faktanya, julukan terbelakang, tertindas, dan terhina adalah  dari kalangan Muslim. Dimanakah predikat Bahwa kita adalah Umat terbaik? Kemanakah  Predikat Muslim Ideal itu?

Salah siapa?
Fenomena rusakanya generasi sekarang menjadi mimpi buruk, terlebih bagi orang tua. Sebagai madrasah pertama bagi anaknya orangtua dituntut untuk mempersiapkan ilmu yang layak dalam mendidik anak untuk mempersiapakan generasi terbaik nantinya.

Apalagi mendidik anak remaja ibarat mengukir diatas batu. Pengajaran yang paling penting adalah mulai mengenalkan nilai agama  pada anak-anak.

Mengajarkan anak  bagimana cara mengenal Tuhan dan segala kebesarannya ,bagiamana Rasul berakhlak, bagaimana seseorang menghormati orang lain dan memperkenalkan bagaimana Islam mengatur segala perbuatan dan meyakinkan bahwa kita adalah Umat yang terdepan dan terbaik. Sejatinya ini adalah tantangan terbesar orangtua dalam mendidik anak di era Zaman Now.

Orang tua wajib memilihkan teman bergaul anak dan bagaimana memilih pendidikan terbaik. Lingkungan  akan mencerminkan bagaimana kepribadian yang akan terbentuk. Pondasi Akidah Islam mengokohkan mereka bahwa segala perbuatan akan dimintai pertanggung jawaban.

Sehingga penghambaan kepada Allah SWT merupakan suatu yang mereka harus taati. Rasa takut terhadap perbuatan maksiat akan membuat mereka terkontrol dalam melakukan suatu perbuatan. Itulah pendidikan Islam.

Peran masyarakat juga tak kalah penting, fungsinya adalah sebagai kontrol sosial. Artinya apa, Masyarakat tidak mendiamkan wabah penyakit perusak generasi, menular dikehidupan sosial. Kontrol masyarakat juga memiliki peran untuk mencegah kemaksiatan dari segala aspek. Fakta yang terjadi sekarang adalah terdapatnya masyarakat yang cuek terhadap apa yang melanda kehidupan ini.

Mereka sudah terbiasa dihadapkan dengan kejadian yang berulang sehinnga membuat mereka merasa tidak ada andil pencegahan kecuali datang dari pribadi yang melakukan kesalahan agar mau sadar dengan perbuatannya itu, beginilah mind set yang terbentuk sekarang. Ini salah.
Peran negara sejatinya merupakan peran yang tak bisa diabaikan.

Kebijakan-kebijakan yang dibuat oleh penguasa akan berefek kepada umat. Negara merupakan perlindungan pertama bagi suatu bangsa. Negara mengambil fungi untuk memfilter pemikiran-pemikiran asing yang berniat merusak generasi.

Seperti pemikiran sekuler yang menyebarluaskan sifat materialistik, hedonis dan individualistik. Namun yang terjadi sekarang adalah, negara tak lagi memeberikan perhatian  pada  keamanan generasi sekarang maupun mendatang.

Islam adalah solusi
Dalam islam , remaja begitu dimuliakan. Keberadaannya bagaikan bibit peradaban yang harus dijaga dan dikembangkan. Islam memfasilitasi bagaimana potensi remaja bisa berguna bagi umat kelak nantinya.

Kita bisa melihat bagaimana didikan Rasul kepada Ali saat remaja dan didikan seorang ulama sekaligus guru Muhammad Al-Fatih dalam mempersiapakan kematangan seorang pemuda yang akan meggoreskan tinta emas bagi kemajuan peradaban Islam.

Islam  mengajarkan kepada manusia seluruhnya bahwa tugasnya didunia adalah untuk menjadi hamba Allah SWT sepenuhnya. Mencari gelar terbaik sebagai seorang pejuang agama Allah dan berusaha menjadi karyawan Allah.

Umur yang dikaruniakan disyukuri dengan melakukan ketaatan kepada Allah, Potensi yang dimiliki harusnya disumbangkan untuk membangun kejayaan Islam kembali yang selama ini ditumbangkan. Menjadi umat terbaik adalah seharusnya mimpi setiap insan yang mengaku Muslim.

Dan hanya  penerapan sistem islam secara Kaffah yang mampu membuktikan semuanya itu, dengan melihat bukti bahwa islam sudah berjaya selama 1400 tahun lalu.

Firman Allah SWT dalam surat Ali Imran ayat 110 yang artinya, “Kamu adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah."[MO/sr]





Posting Komentar