Oleh: Novia Listiani 

Mediaoposisi.com- Di era yang serba digital ini, semua orang bisa mengakses informasi dengan cepat dan mudah. Baik itu informasi yang baik maupun yang buruk, konten-konten yang mendidik ataupun yang merusak. Semua bisa didapatkan hanya dengan sentuhan jari. Seolah-olah dunia dalam genggaman.

Era digital ini ditandai dengan adanya smartphone. Jika zaman dulu, hanya sebagian orang yang bisa menikmati internet dan aksesnya pun terbatas. Maka hari ini semua bisa mengaksesnya, tua, muda, remaja, anak-anak pun mahir menggunakan internet.

Belum lagi dengan adanya sosial media, membuat orang seakan-akan asyik dengan dunianya sendiri. Dunia maya seolah-olah menjadi dunia nyata bagi mereka.

Terlebih lagi remaja, dimana masa-masa inilah mereka ingin dikenal banyak orang, ingin diakui, ingin eksis, ingin mengeksplore kemampuannya. Dan semua itu tak sedikit dijumpai di sosial media, anak-anak muda yang mengekspos dirinya.

Melalui foto bergaya alay, video joget-joget, hingga nyanyian yang tak bermakna, hingga jadi selebgram dan lain sebagainya. Itu semua dilakukan demi mendapatkan kepopuleran. Mereka menganggap sosial media adalah sarana baginya untuk mempublikasikan dirinya.

Seperti berita yang sedang viral baru-baru ini, remaja yang ingin mendapatkan kepopuleran sukses menggegerkan dunia maya. Melalui aplikasi tik tok, mereka berekspresi layaknya seorang artis. Menirukan gaya penyanyi alay. Sekejap namanya pun melejit dan dikenal netizen. Tidak sampai disini, setelah namanya dikenal mereka pun mengadakan meet anda greet berbayar.

Bangga dan merasa hebat dirinya dikenal sebagai artis tik tok. Padahal bisa dibilang mereka masih tergolong ABG. Ketenaran ingin mereka dapatkan dengan instan. Tidak memperdulikan rasa malu. Bukan tidak tau malu lagi, akan tetapi tidak punya rasa malu.

Miris dengan generasi muda saat ini, hanya demi mengejar kepopuleran mereka rela menghilangkan rasa malu. Generasi millenial yang tidak bisa memanfaatkan media sosial untuk hal-hal yang positif. Mereka saling bersaing untuk mendapatkan kepopuleran dengan mengorbankan rasa malu mereka.

Generasi seperti ini telah mendominasi anak-anak muda. Tidak tahu sopan santun, tata krama, tidak perduli dengan sesama. Bahkan masa depannya ingin seperti apa mereka tidak peduli.

Maka dari itu ini menjadi perhatian khusus bagi semuanya. Terutama orang tua, anak harus ditanamkan rasa malu sejak dini. Ditanamkan akidah yang kuat kepada anak-anak. Ajarkan Islam kepada mereka agar terjaga akidah dan akhlaknya dari virus tik tok. Karena di zaman ini masalah semakin kompleks yang harus dihadapi orang tua dalam mendidik anaknya.

Dan terlebih untuk remaja saat ini manfaatkan media sosial secara bijak. Jadilah generasi millenial yang berakhlak baik, manfaatkan untuk menyebarkan kebaikan. Untuk berdakwah misalnya, itu akan menjadi pahala investasi. Berpikir kritis dengan masalah-masalah yang terjadi saat ini. Sesungguhnya banyak yang harus diselesaikan permasalahan di era sekarang ini.

Bukan malah menjadi generasi millenial yang miskin akal dan krisis iman. Mengingat pemuda adalah aset berharga demi berubahnya suatu peradaban. Maka dari itu jadikan masa muda ini sebagai pejuang bukan pecundang.[MO/sr]

Posting Komentar